Tim Asesmen Indonesia – Australia Disambut Gempa 5,1 SR

Mataram (Suara NTB) – Tim Asesmen Indonesia – Australia mengecek kerusakan gedung di kompleks Kantor Gubernur, Jumat, 31 Agustus 2018 siang. Kedatangan tim ahli dari Australia dan Dinas PUPR NTB itu disambut gempa dengan kekuatan 5,1 skala richter (SR).

Gempa 5,1 SR kembali mengguncang pukul 10.37.15 WIB. Episenter gempa terletak  di laut pada jarak 23 km barat laut Mataram pada kedalaman 10 km. Pantauan Suara NTB, para pegawai gubernuran berhamburan keluar ruangan ketika terjadi gempa.

Anggota Tim Asesmen Indonesia – Australia, Suharto menjelaskan tim dibagi menjadi lima. Masing-masing tim ada 10 orang insinyur ahli konstruksi bangunan. Masing-masing tim mendapatkan tugas memeriksa kelayakan 20 gedung.

‘’Masing-masing tim dapat jatah 20 gedung yang diutamakan gedung pemerintah.  Kita fokus gedung pemerintah dulu,’’ kata Suharto ketika dikonfirmasi disela-sela memeriksa gedung Sangkareang Kantor Gubernur, Jumat, 31 Agustus 2018 siang.

Baca juga:  Dewan Pertanyakan Perbaikan Rumah Korban Gempa

Ia mengatakan, tim sudah turun sejak Senin lalu. Empat hari turun ke lapangan, Suharto mengatakan sudah ada delapan gedung yang telah diperiksa. ‘’Hasilnya belum kita simpulkan. Kita lihat secara visual saja dulu. Setelah itu kita diskusikan lagi,’’ jelasnya.

Selain melihat secara visual, Suharto menjelaskan tim asesmen juga melakukan uji beton. Untuk melihat struktur bangunan. Apakah masih layak ditempati atau tidak.

Setelah dilakukan asesmen, gedung yang sudah diperiksa akan diberikan tanda hijau, kuning dan merah. Tanda hijau artinya gedung masih aman ditempati. Kuning berarti masih aman ditempati tetapi harus hati-hati. Sedangkan warna merah artinya gedung tidak boleh ditempati.

Baca juga:  Gempa di Tuban, Warga Mataram Panik

Selama empat hari melakukan pemeriksaan, Suharto mengatakan ada salah satu gedung milik Pemprov yang berbahaya jika ditempati. Namun, ia mengatakan pemberian tanda merah masih dikaji dulu.

‘’Untuk sementara diberikan tanda police line, tak boleh ditempati. Nanti akan ditempel warnanya. Untuk sekarang belum ada,’’ paparnya.

Saat melakukan pemeriksan gedung yang rusak di Biro Hukum Setda NTB, kata Suharto, gempa susulan kembali terjadi. Ia menyebut kerusakan gedung pemerintahan disebabkan gempa beruntun yang sering terjadi.

‘’Tadi kita asesmen gempa lagi. Gempa beruntun berdampak terhadap kerusakan. Ini efek gempa beruntun, rata-rata,’’ pungkasnya. (nas)