Kisah Fakhrudin, Korban Selamat Runtuhnya Masjid di KLU

0
211

Tanjung (Suara NTB) – Sejumlah korban gempa 7 SR di Lombok Utara masih ada yang terjebak di reruntuhan bangunan. Para korban saat ini, dalam upaya evakuasi. Salah satunya korban di Masjid Jabal Nur, Dusun Lading-lading, Desa Tanjung, Lombok Utara.

Sebanyak 30 petugas Tim Evakuasi Gabungan terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri mengevakuasi dua jenazah korban gempa 7 SR dari reruntuhan masjid. Proses evakuasi cukup menantang karena harus menggunakan ekskavator, alat pemecah beton, dan pemotong besi.

Korban ditemukan di bawah beton lantai atas masjid yang roboh. “Korban ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia. Tertimpa beton,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mataram, I Nyoman Sidakarya.

Pantauan Suara NTB, proses evakuasi berlangsung sejak pukul 13.00 Wita. Jenazah baru dapat dikeluarkan sekitar pukul 17.00 Wita.

Sidakarya mengatakan, proses evakuasi akan dilanjutkan kembali hari ini. Tim terkendala penerangan karena asupan listrik ke Lombok Utara belum normal. Sisa korban yang belum terevakuasi dari puing masjid pun  tidak terdeteksi.

‘’Untuk sementara masih meraba-raba belum berani kita sampaikan (jumlahnya). Kita lanjutkan lagi evakuasinya masuk dari titik yang sama. Kita terus berupaya,’’ ucapnya.

Rakaat Dua Salat Isya

Gempa 7 SR yang mengguncang Masjid Jabal Nur Lading-Lading membuat Fakhrudin (51) hilang khusyuk. Saat itu sedang rakaat kedua. Imam baru usai membaca surat Alfatihah.

“Badan rasanya sudah goyang-goyang. Saya lari. Baru rakaat dua itu. Belum attahiyat,” ujarnya bersaksi saat ditemui Suara NTB. Kala itu dia menjadi jamaah Salat Isya yang diimami Wira Kelana, tokoh masyarakat setempat.

Guru SDN 5 Tanjung itu sudah terlambat. Lantai dua masjid yang dibangun tahun 1985 itu sudah menyatu dengan lantai satu yang berukuran sekitar 20×20 meter. Pandangan Fakhrudin sudah gelap. Listrik padam.

Dia mendongak ke atas, ada cahaya hijau gelap menembus. Rupayanya dia berada di dalam ruang kubah masjid yang berbahan fiberglass berwarna hijau.

“Terus saya panjat. Saya keluar dari situ. Saya sama Haji Tarna, Haji Bakti, sama siapa lagi. Berempat lewat kubah,” kata dia.

Dia menyebut, malam itu salat Isya diikuti jamaah sebanyak sekitar dua setengah saf. Sementara dia menghitung satu saf bisa diisi sampai 55 orang.

“Ada begitu goyang lari duluan. Ada yang masih (lanjutkan salat). Saya tidak tahu berapa yang masih sisa di dalam,” tuturnya.

Fakhrudin mengingat sang imam, Wira Kelana juga sudah menghentikan bacaan suratnya. Pikirnya, Wira kabur melalui pintu khusus di bilik imam. Namun hingga kini sang imam belum ditemukan.

Usai menyelamatkan diri, Fakhrusin kemudian bergabung bersama istri dan kedua anaknya lari ke bukit. Khawatir isu tsunami.

Lain halnya dengan Jayeng Ruslan (41) warga Dusun Lading-lading itu menempati saf pertama sebelah kanan. Lebih dekat dengan jendela. Saat gempa datang, dia langsung ambil inisiatif menghentikan salat dan berlari ke luar. Ke sayap kanan masjid.

Tapi lantai atas masjid sudah terlanjur roboh. Jayeng hanya sejengkal dari maut. “Syukur itu ada motor yang nahan. Saya kayak di lorong. Saya tiarap merangkak ke luar,” kata Jayeng kepada Suara NTB.

Lorong dimaksud dijadikan tim evakuasi gabungan untuk memulai evakuasi. Dua jenazah ditemukan berhimpitan di lorong tersebut.

“Habis itu saya cari istri saya, dua anak saya. Lari ke bukit. Nginap di sana sampai pagi,” kata Jayeng yang termangu melihat tim Basarnas yang sudah menemukan sosok jenazah.

“Itu Amaq Murni. Dia sempat malamnya minta dibawakan makan. Dibawakan minum,” kata dia yang ingat mendengar sayup-sayup suara dari dalam lorong. (why)