Warga Desa Taman Ayu Dihantui Banjir Rob Susulan

Mataram (Suara NTB) – Banjir rob yang menggerus pemukiman penduduk di Dusun Taman, Desa Taman Ayu, Lombok Barat, dikhawatirkan masih akan terjadi. Warga masih dihantui rasa takut banjir susulan. Hingga Kamis, 26 Juli 2018, mereka masih mengungsi di rumah- rumah keluarganya.

Salah satu yang mengungsi M. Saleh, warga yang rumahnya turut terendam air laut dan tertimbun pasir.  Tanda tanda akan datang bahaya sejak  Selasa malam. Debur ombak tak henti hentinya ‘meneror’  penduduk.

Peristiwa yang ditakutkan itu akhirnya terjadi pukul 07.00 Wita. Ombak menghantam pesisir pantai dan banjir rob merendam pemukiman warga. ‘’Saya tujuh anak, saya dan istri saya mengungsi ke keluarga,’’ akunya.

Rasa was-was masih akan dialami warga setempat karena tanda-tanda ombak akan surut belum terlihat. Bahkan menjelang siang kemarin banjir rob masih terjadi meski pun tidak separah sebelumnya.

Namun air laut masih menggenang di halaman rumah warga. Perahu nelayan yang sebelumnya berjejer rapi,  berantakan dihantam gelombang laut. Pada saat kejadian, air bahkan mengalir hingga 100 meter dari garis pantai ke pemukiman penduduk yang sebelumnya tak pernah tersentuh air laut.

Warga sebenarnya berharap pemerintah turun tangan untuk merelokasi mereka. Namun jika kebijakan relokasi dilakukan, warga berharap tidak jauh dari garis pantai. Sebab profesi mereka rata rata nelayan, agar tidak jauh dari pantai dan perahu yang ditambat.

Sementara akibat kejadan banjir rob itu, 115 KK terdampak. Belasan KK yang rumahnya dekat dengan bibir pantai terpaksa mengungsi ke keluarganya. ‘’Ada 75 KK terdampak, sebagian masih mengungsi ke rumah keluarganya,’’ kata Kadus Taman, Lalu Imran di temui di lokasi kejadian.

Pemerintah dan anggota TNI turun tangan membantu penduduk setempat sejak pagi kemarin. Personel TNI dari Kodim 1606/Lombok Barat menggunakan cangkul, sekop, membantu warga menguras air laut di halaman rumah warga. Anggota TNI juga membantu memperbaiki rumah warga yang rusak ringan. ‘’Kita turun meringankan beban warga. Membantu memperbaiki kerusakan kerusakan. Intinya hari ini kami gotong royong,’’ kata Dandim 1606/Lobar, Letkol CZI. Djoko Rahmanto, SE ditemui di pemukiman penduduk terdampak.

 Banjir rob di Pantai Endok yang menggerus pemukiman penduduk di Dusun Taman Desa Taman Ayu Kecamatan selain karena faktor alam. Warga setempat mempertanyakan fungsi  jetty atau pemecah gelombang. Justru keberadaan alat itu dinilai gagal atasi abrasi.

Anggapan gagal itu karena proyek jetty tahun 2017 itu tak mampu menahan ombak yang menggerus hingga ke pemukiman  penduduk. Diperkirakan abrasi akan terus terjadi dan garis pantai akan mendekati rumah warga.

Kadus Taman, Lalu Imran mewakili warga setempat meminta proyek jetty itu tidak dilanjutkan karena dianggap sia sia. “Menurut masyarakat ini proyek gagal. Ndak ada manfaatnya untuk masyarakat . Saya minta tidak dilanjutkan, daripada habiskan banyak anggaran,” kata Lalu Imran.

Sebenarnya harapan masyarakat water break tersebut dipasang lebih menjulur ke arah laut. Sehingga fungsi untuk mengurai ombak lebih maksimal. Bentuk susunan beton pun bukan berbahan beton untuk membuat sumur, tapi beton segitiga mercy.

‘’Harapan  kita kalau bisa, dipasangkan pemecah ombak agak ke tengah. Jadi jetty yang sekarang ini dipindah ke tengah. Karena ini (jetty yang sudah dibangun) bukan pemecah ombak, justru menambah ombak,” sesalnya.

Terbukti, lanjut dia, sebelum banjir rob tersebut, ada penimbunan dengan 10 meter untuk menangkal ombak, tapi toh tergerus juga.

Dalam kejadian Rabu pagi lalu itu, warga dikejutkan kerasnya deburan ombak yang bertubi tubi. Kerasnya hantaman ombak meluber ke pemukiman penduduk hingga menyebabkan sebuah rumah rusak dan sekitar 75 rumah lainnya terendam.

Sementara pengamatan Suara NTB di lokasi, di sepanjang garis pantai Dusun Taman, berjejer bangunan tegak lurus kearah pantai disebut dengan breakwater atau jetty.  Jumlahnya mencapai belasan bangunan, berjejer dari Selatan hingga ke beberapa ratus meter dekat PLTU Jeranjang.  Debur ombak beberapa kali melewati susunan beton itu dan masuk ke pemukiman warga.

“Pemecah ombak  harusya memanjang ke tengah, tapi PLN tidak mau terima, terjadilah seperti ini. Keingian masyarakat itu ya   mudah mudahan terpenuhi,” harapnya.

Opsi kedua jika ingin tidak ada abrasi lagi, menurut Kadus adalah membongkar dermaga kapal tongkang milik PLTU Jeranjang. Karena biang masalah selama ini adalah dermaga yang dibangun dengan cara mereklamasi pantai. Itu kemudian menyebabkan arus air laut tertahan di pinggir dermaga dan balik menghantam pemukiman warga. Menurut Kadus, jika dermaga itu terbuat dari tiang pancang, maka air laut akan lancar kearah pantai di sekitar Labuapi.

‘’Ini kan sudah biaya banyak. Uangnya kan sia sia. Kalau ndak mau biaya nambah besar, harusnya dermaga diganti pakai tiang pancang,’’ harapnya. (ars)