Hitung Cepat KPU, Zul-Rohmi Tetap Unggul

0
15

Mataram (Suara NTB) – Hasil hitung cepat KPU pada Kamis, 28 Juni 2018, memperlihatkan hasil yang serupa dengan hasil hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia yang dipublikasikan di hari pemungutan suara, Rabu, 27 Juni 2018 lalu. Hitung cepat KPU tersebut dapat diakses secara terbuka dan diperbarui secara berkala di laman infopemilu.kpu.go.id.

Informasi yang dihimpun Suara NTB hingga pukul 20.45 memperlihatkan akumulasi data perolehan suara di 7.428 TPS dari total 8336 TPS di Pilkada NTB. Angka itu sama dengan 89,11 persen dari total jumlah TPS.

Dari data tersebut terlihat pasangan Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah (Zul-Rohmi) meraih 698.249 suara (30,75 persen). Urutan kedua diraih pasangan H. Moh. Suhaili fadil thohir, SH dan H. Muh. Amin, SH, M.Si (Suhaili-Amin) dengan 623.940 suara (27,48 persen). Urutan ketiga adalah pasangan TGH. Ahyar Abduh dan Mori Hanafi, SE (Ahyar-Mori) dengan 589.515 suara (25,96 persen). Pasangan H. Moch. Ali bin dachlan dan TGH. Lalu Gede Muhamad Ali Wirasakti Amir Murni, LC, MA (Ali-Sakti) berada di posisi terakhir dengan 359.023 suara (15,81 persen).

Total suara yang telah dihimpun KPU di laman tersebut mencapai 2.339.473 suara. Sebanyak 2.269.922 merupakan suara sah dan 69.980 merupakan suara tidak sah.

Penelusuran Suara NTB, persebaran perolehan suara memperlihatkan keunggulan demografis bagi kandidat yang memiliki kedekatan emosional atau kultural dengan daerah masing-masing. Dr. Zul yang berasal dari Sumbawa, meraih kemenangan telak di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Di KSB, pasangan Zul-Rohmi memborong 63,42 persen dari total 100 persen data perolehan suara yang telah dihimpun. Di Sumbawa, Zul-Rohmi meraih kemenangan yang lebih telak lagi, yaitu 69,24 persen.

Hasil serupa diraih Mori Hanafi yang selama ini gencar berkampanye di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Dompu. Di tiga daerah ini, pasangan Ahyar-Mori meraih masing-masing  58,05 persen, 52,26 persen dan 47,85 persen. Dari tiga daerah ini, hanya Kota Bima yang belum menggenapkan 100 persen data perolehan suara, yaitu hanya 93,57 persen.

Sumbangan suara Ahyar-Mori yang besar di tiga ini tampaknya tidak terlepas dari gencarnya kampanye Mori di tiga daerah ini. Ditambah dengan fakta bahwa Mori merupakan satu-satunya kandidat yang memiliki afiliasi kultural dengan pemilih di tiga daerah tersebut.

Di Lombok Timur, dari 66,19 persen data perolehan suara yang sudah dihimpun, pasangan Zul-Rohmi unggul dengan raihan 37,87% suara, diikuti Ali-Sakti dengan 33,79%, Suhaili Amin dengan 18,46% dan Ahyar-Mori dengan 9,88%.

Suhaili yang merupakan Bupati Lombok Tengah, tampaknya berhasil mendominasi perolehan suara di kandangnya. Di Lombok Tengah, dari 100 persen data yang masuk, Suhaili mencatatkan perolehan 67,28% suara, disusul pasangan Ali-Sakti dengan 14,59%, Ahyar-Mori dengan 9,10% dan Zul-Rohmi dengan 9,03%.

Kota Mataram yang menjadi basis suara Ahyar Abduh juga memberikan cerita serupa. Di Ibukota NTB ini, pasangan Ahyar-Mori cukup dominan dengan 57,08%, disusul Zul-Rohmi dengan 20,70%, Suhaili-Amin dengan 14,14% dan Ali-Sakti dengan 8,08%. Data perolehan suara yang terkumpul di Kota Mataram telah mencapai 98,50%.

Di Lombok Barat, pasangan Ahyar-Mori juga menang. Duet Ahyar-Mori meraih 35,35% suara disusul Zul-Rohmi dengan 33,41%, Suhaili-Amin dengan 16,16% dan Ali-Sakti dengan 15,09%. Data perolehan suara yang terkumpul di Lobar telah mencapai 93,98%.

Di Lombok Utara, dari 100,00% data perolehan suara, pasangan Zul-Rohmi memimpin dengan 34,12% persen, disusul Suhaili-Amin dengan 25,44%, Ahyar-Mori dengan 21,97% dan Ali-Sakti dengan 18,46%.

Anggota KPU Provinsi NTB Bidang teknis, Suhardi Soud, yang dikonfirmasi Suara NTB terkait hasil hitung cepat tersebut menyampaikan bahwa hasil hitung cepat KPU tersebut merupakan bagian dari bentuk keterbukaan informasi KPU terhadap hasil Pilkada NTB.

Dijelaskan bahwa data hasil hitung cepat tersebut berasal dari data form C1, di masing-masing TPS yang diunggah ke server KPU. Sehingga angka yang ditunjukkan sangat akurat.

‘’Hitung cepat KPU sebagai bagian dari  keterbukaan informasi hasil Pilkada. Data C1 yang di-upload adalah hasil TPS yang disampaikan ke KPU kabupaten/kota pada hari H.  Seperti juga C1 yang diberikan ke saksi, Panwas lapangan dan yang diumumkan di desa/kelurahan,’’ jelasnya.

Namun, meskipun data hasil hitung cepat tersebut diambil dari form C1. Tetapi tetap bukan menjadi hasil resmi. Sebab, KPU baru akan melakukan rekapitulasi akhir di tinggkat provinsi pada tanggal 7-9 Juli mendatang. Oleh karena itu, Suhardi mengingatkan kepada masyarakat agar tidak merespons berlebihan hasil hitung cepat tersebut, tetapi menunggu hasil resmi.

‘’Iya hasil resminya tetap akan menggunakan proses rekapitulasi berjenjang. Rekapitulasi berjenjang sudah di mulai hari ini 28 sampai tanggal 4 Juli di tingkat PPK. Dilanjutkan pada tanggal 5-6 Juli di kabupaten/kota dan tanggal  7-9 Juli di tingkat provinsi,’’ pungkasnya. (aan/ndi)