Mori Hanafi Harapkan Debat Dongkrak Partisipasi

0
46

Mataram (Suara NTB) – Debat kandidat di Pilkada NTB 2018 telah digelar pada Sabtu, 12 Mei 2018 lalu. Bagi Calon Wakil Gubernur NTB, H. Mori Hanafi, SE, M.Comm, debat tersebut diharapkan bisa mendongkrak tingkat partisipasi pemilih di Pilkada NTB.

Demikian disampaikan Mori saat menanggapi terselenggaranya debat kandidat yang juga ia ikut bersama Calon Gubernur NTB, TGH. Ahyar Abduh, dan tiga pasangan calon lainnya.

Mori mengutarakan rasa terima kasihnya untuk semua pihak, untuk seluruh masyarakat NTB yang telah terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara tersebut.

“Baik yang berada di NTB, maupun sedang merantau ke daerah lain di luar NTB. Terima kasih telah menyaksikan dari awal hingga akhir “Debat Terbuka I Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB,” ujar Mori.

Mori menegaskan, sejatinya, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Ia pun mengapresiasi kesuksesan penyelenggaraan debat kandidat yang diwarnai suasana kondusif di satu sisi, namun tetap semarak di sisi lain.

“Kami, pasangan Ahyar-Mori, salut dengan sikap seluruh audiens yang mampu menjaga kondusivitas selama berlangsungnya acara. Alhamdulillah, debat berlangsung lancar tanpa sedikitpun hambatan yang berarti,” cetus Mori.

Bagi politisi Partai Gerindra ini, debat memiliki nilai yang sangat urgen bagi semua pihak yang terlibat. Bagi pasangan calon, debat memiliki beberapa manfaat. Seperti misalnya, menguji kualitas diri, menunjukkan integritas dan komitmen dalam membangun daerah, membiasakan diri menerima kritik, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, bagi masyarakat, debat ini juga bermanfaat. Beberapa hal yang bisa dipetik dari debat tersebut adalah, mengenal lebih dekat pasangan calon (visi misi, janji kerja serta solusi yang ditawarkan atas berbagai masalah yang ada). “Dan meningkatkan partisipasi calon pemilih saat Pilkada nanti, dan lainnya,” harap Mori.

Mori sendiri tampil dengan cukup percaya diri dalam debat yang monumental tersebut. Lulusan magister di salah satu universitas di Australia ini juga berhasil merangkai ide dan gagasan secara sistematis, dengan dipadu data-data pendukung yang relevan.

Di setiap argumentasinya, pasangan Ahyar-Mori selalu menutup dengan solusi yang ditawarkan untuk membangun NTB.

Misalnya, saat memaparkan tentang kebijakan, strategi dan program menguatkan pendidikan, khususnya SMK dalam mengatasi pengangguran.

Menanggapi pertanyaan ini, Mori Hanafi menegaskan bahwa saat ini yang menganggur di NTB, memang bukan cuma yang lulusan SMK. Bahkan, dalam kesempatan yang begitu terbatas itu, Mori sempat memperkaya penjelasannya dengan mencuplik data pengangguran di NTB.

“Lulusan kuliah, setahun itu lebih dari 10 ribu orang. Angkatan kerja, yang masuk itu belasan ribu. Yang bisa ditampung oleh kita semua, itu hanya sekitar 1000 sampai 2000. Sisanya, tidak mempunyai pekerjaan,” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Dengan demikian, ujar Mori, persoalan dalam memaksimalkan peranan institusi pendidikan sebenarnya bukan hanya terfokus di SMK. “Tapi adik-adik kita yang lulus kuliah pun banyak yang menganggur, saat ini. Dan itu adalah persoalan sosial kita semua yang ada di NTB. Dan mungkin juga secara nasional,” ulasnya.

Khusus di SMK, Mori menegaskan bahwa pemerintah provinsi NTB saat ini belum terlalu berpihak pada penguatan peranan SMK. “Kenapa saya katakan demikian, sehubungan dengan rencana pemerintah provinsi saat ini ingin mengurangi SMK, padahal kita butuh,” ujarnya.

Padahal, imbuh Mori, bila perlu, jumlah SMK diperbanyak ketimbang SMA. Mori berharap, keberpihakan pemerintah terhadap SMK ini jelas. Para pengambil kebijakan di dalam tata kelola SMK, harus melakukan pemetaan yang baik terhadap potensi sekolah. Tentunya, dengan melibatkan para pemangku kepentingan, mulai dari siswa, guru, termasuk lapangan pekerjaannya.

“Kita ingin satu SMK, punya satu produk unggulan. Yang ketiga, kita harus memastikan, bahwa SMK itu memang lapangan pekerjaannya yang lebih banyak kita butuhkan. Kalau yang lebih banyak perbengkelan, ya bengkel. Kalau lebih banyak salon, ya salon. Kalau lebih banyak restoran ya restoran. Ini yang kita harapkan,” ujarnya. (tim)