Pilkada 2018

Rumitnya Mengatur Grup Politik di Facebook

Pilkada 2018 melahirkan kesibukan baru di facebook. Salah satunya adalah grup-grup facebook yang memang mengusung tema politik. Namun, di balik kesibukan ini, ada admin grup yang harus susah payah mengatur lalu lintas diskusi dan kepentingan.

ADALAH H. M. Hasbi Assiddiqie, Pemilik akun Diqie Lanks yang menjadi pengurus dari grup facebook “menuju pilgub ntb 2018-2023”.

Sejak dibentuk pada 2017, hingga berita ini ditulis, grup ini telah beranggotakan 79.363 akun dan ada ribuan akun lainnya yang mengantre untuk masuk grup ini. Dengan angka itu, grup “menuju pilgub ntb 2018-2023” praktis menjadi grup politik paling ramai di NTB.

Abah Lanks, panggilan akrab H. M. Hasbi Assiddiqie, mengutarakan, dalam sehari ia bisa memberikan akses masuk ke hingga ribuan pengguna ke grup yang dikelolanya ini.

Abah Lanks mengutarakan, grup “menuju pilgub ntb 2018-2023” dibuat dengan niatan untuk memberikan media komunikasi virtual melalui media sosial facebook. Hanya saja, Abah Lanks menegaskan bahwa grup ini mengusung spirit untuk menjadi wadah yang netral.

“Karena ada beberapa grup yang dibuat, tapi tidak ada kebebasan dan tidak netral. Kebanyakan condong ke salah satu kandidat. Sehingga saya berinisiatif membuat satu grup yang tujuannya mempersatukan para pengguna facebook di NTB. Untuk berdialog dalam satu wadah diskusi virtual,” ujarnya.

Namun, niatan itu rupanya bukan tanpa ujian. Selaku pengurus tunggal, Abah Lanks harus berhadapan dengan pengguna dari berbagai latar belakang kepentingan. Mulai dari yang tim sukses dan simpatisan salah satu dari empat kandidat, hingga para pengguna yang memanfaatkan grup untuk kepentingan promosi.

Yang paling menghawatirkan Abah Lanks adalah membanjirnya konten-konten yang tidak seharusnya diunggah di facebook. Abah Lanks pernah berhadapan dengan konten porno, SARA, hingga sadisme yang harus ia awasi dan bersihkan dari grup ini.

Berhadapan dengan konten-konten ini, Abah Lanks, biasanya mengaktifkan mode persetujuan pengurus untuk setiap pengguna yang ingin mengunggah konten di grupnya.  Namun, di waktu-waktu tertentu, saat ia merasa sedang bisa mengawasi konten, ia biasanya memberikan kebebasan bagi pengguna langsung mengunggah konten mereka tanpa persetujuan.

Namun, di saat seperti itulah biasaya konten-konten berbahaya bermunculan di grup. “Ada konten-konten yang tidak seharusnya diposting di grup itu. Kita merasa tidak enak,” ujarnya.

Perilaku pengguna facebook yang demikian memang merepresentasikan cara kita memanfaatkan media sosial. “Sebelum masuk grup, itu mereka tidak membaca dulu. Sehingga semau-maunya untuk diposting. Kadang dia bawa spam. Lalu ada yang share (konten berbahaya).”

Mendapati konten-konten semacam ini, tentu saja Abah Lanks akan menghapusnya. Jika pengguna sudah berlebihan atau berulangkali melakukan hal tersebut, ia akan menerapkan sanksi yang bervariasi. Mulai dari larangan posting selama 12 jam, 24 jam, 3 hari hingga 7 hari. Sanksi paling berat adalah menendang pemilik akun ngawur ini keluar dari grup.

“Sampai saat ini sekitar 3.000 akun yang sudah dikeluarkan. Dan tidak bisa masuk lagi. Itu karena perilaku mereka sudah tidak bisa ditolerir lagi,” ujarnya.

Tentu saja ada banyak sekali contoh tentang konten buruk yang sudah ia tindak. Mulai dari penghinaan terhadap seorang kandidat dengan rekayasa gambar, hingga teks yang merendahkan orang lain atau menghasut. Konten video pun tak jarang bisa mengundang mudarat.

Mengawasi semua ini membuat Abah Lanks harus mencurahkan cukup banyak waktu untuk mengawasi situasi grup ini. Belum lagi, secara berkala ia juga harus memberikan izin masuk grup kepada pengguna yang sudah mengantre. Dalam sehari, Abah Lanks mengaku bisa memberi izin kepada hingga 2000 akun.

Dengan semua kesibukan ini, praktis Abah Lanks harus pandai-pandai memanfaatkan waktu untuk membuka facebooknya. “Makanya, ketika lagi berhenti di kendaraan, dan sebagainya, yang saya buka selalu ya grup itu,” ujarnya.

Pengurus yang mencapai puluhan ribu itu rupanya membuat Abah Lanks juga mulai mendapatkan tawaran tertentu. “Ada beberapa orang yang ingin membeli dan sebagainya, saya tidak menghiraukan. Karena ini saya bangun dengan niatan yang tulus supaya grup ini menjadi bagus,” ujarnya.

Hingga kini, Abah Lanks masih terus bertahan mengelola grup “menuju pilgub ntb 2018-2023” ini seorang diri. Dengan menjadi admin tunggal, Abah Lanks merasa cukup nyaman karena tidak harus khawatir ada admin lain yang memiliki keinginan berbeda dengan dirinya.

Ia sendiri mengaku tidak menyangka grup yang dibangunnya setahun lalu bisa tumbuh hingga seperti ini. Hanya saja, ia berharap penghuni grup bisa memanfaatkan grup ini dengan lebih bijak dan menjadikannya sebagai medium pendidikan politik yang sehat dan mencerdaskan.

“Dan kita juga terbuka terhadap kritik dan saran. Saya sangat berterima kasih kalau ada teman-teman itu menjaga saya,” ujarnya. (aan)