Yenny Wahid : Gus Dur Bukan Hanya Pembela Minoritas

Mataram (suarantb.com) – Direktur Wahid Institut yang juga Putri KH. Abdurrahman Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid), menanggapi sejumlah catatan terkait kiprah Presiden keempat Indonesia itu. Salah satunya, terkait persepsi bahwa Gus Dur adalah pembela kaum minoritas.

Bagi Yenny, Gus Dur bukan sebatas pembela kaum minoritas, melainkan pembela kaum yang dilemahkan.

“Gus Dur bukan hanya pembela minoritas. Gus Dur itu pembela orang-orang yang dilemahkan. Mau dia dari mayoritas, minoritas, kalau dia dilemahkan, dibela sama Gus Dur,” ujarnya.

Penegasan itu disampaikan Yenny Wahid dalam Diskusi Publik bertajuk “Belajar Dari Model Ekonomi Gus Dur”, yang digelar West Nusa Tenggara Development Centre (WNTDC), di Hotel Grand Legi, Mataram, Sabtu, 25 November 2017.

Diskusi yang dipandu Yos Nggarang itu juga menghadirkan Gede Sandra dan Dr. Anas Zaini sebagai pemateri.

Yenny mengutarakan, di orde baru, Nahdlatul Ulama (NU) sesungguhnya juga menjadi kelompok yang dilemahkan. Yenny pun secara blak-blakan menuturkan sejumlah insiden saat, NU harus berhadapan dengan  represi dari aparat saat menjalankan syariat yang menjadi keyakinan mereka. Misalnya, saat ada kelompok yang menggelar salat Idul Fitri berbeda dengan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Mau idul Fitri aja, kalau nggak ikut pemerintah nggak bisa.. Sekarang lebaran bisa beda. Dulu nggak bisa. Kalau pemerintah lebaran hari ini, ya harus hari ini,” ungkap Yenny.

Tentunya, bukan NU saja yang mengalami perlakuan semacam ini. Para aktivis, menurut Yenny juga kerap mendapatkan pembelaan dari Gus Dur saat jiwa mereka terancam.

Terkait model perekonomian yang dibangun di era kepemimpinan Gus Dur, Gede Sandra mengungkapkan sejumlah temuan yang ternyata sangat mengesankan. Setelah mengumpulkan sejumlah data, Gede Sandra menyimpulkan bahwa perekonomian di era Gus Dur bekerja sangat istimewa.

Kinerja perekonomian yang meninggalkan legasi yang cukup kuat ini ditopang oleh tim ekonomi yang mumpuni, di bawah komando Rizal Ramli. Masuknya sejumlah ekonom hebat seperti Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie dalam kabinet Gus Dur, menurutnya membuktikan kecakapan Gus Dur dalam memilih pembantunya.

“Salah satu keunggulan pemimpin, dia mampu memilih pembantunya yang tepat,” tegas Gede.

Selama era Gus Dur, indeks gini Indonesia berada di titik terendah sepanjang 50 tahun terakhir, yaitu sebesar 0,31. Yang terdekat dengan pencapaian ini adalah era Suharto di tahun 1993, dimana indeks gini sebesar 0,32. Bedanya, rezim Suharto perlu 25 tahun untuk menurunkan indeks gini dari 0,37 (1967) ke 0,32 (1993). Gus Dur Cuma perlu kurang dari tahun untuk mencapai turunkan dari 0,37 ke 0,31.

Gede pun mengulas rahasia di balik pencapaian ini. Resep pertama adalah karena Gus Dur berani menolak resep ekonomi IMF-Bank Dunia yang menganjurkan pengetatan anggaran. Sebaliknya, tim ekonomi Gus Dur justru lebih mengadopsi kebijakan berbasis strategi pertumbuhan.

Kedua, tim ekonomi Gus Dur piawai dalam melakukan optimum debt management. Contohnya debt to nature swap yang menukar utang kita dengan kewajiban pelestarian hutan. Hasil dari pendekatan ini, utang Indonesia pun berkurang.

Ketiga, tim ekonomi Gus Dur sukses menjaga harga beras stabil di level rendah sehingga menyebabkan daya beli masyarakat perkotaan terjaga. Di sisi lain, kesejahteraan petani juga terjaga karena Bulog melakukan pembelian gabah, bukan membeli beras.

Dr. Anas Zaini mengutarakan, Gus Dur membenahi pondasi pembangunan dengan perbaikan di sektor pertanian. Hal ini karena mayoritas masyarakat Indonesia memang sejatinya adalah petani. “Kalau petani sejahtera, maka daya beli mereka naik,” imbuhnya. Hanya saja, ia menilai, kegagalan Gus Dur adalah karena ia tidak bisa melawan para rent seeker alias para pemburu rente yang berhasil menumbangkannya.

Meski demikian, patut diakui bahwa kepemimpinan singkat Gus Dur di Indonesia memang telah meninggalkan jejak yang cukup terasa sampai sekarang. Yenny menyebutkan, salah satu peninggalan Gus Dur dari masa kepemimpinannya adalah ia berhasil menancapkan supremasi sipil di berbagai bidang kehidupan di Indonesia. (aan)