Puluhan Ribu Keluarga di Mataram Terima Bantuan Pangan Non Tunai

Mataram (suarantb.com) – Kota Mataram terpilih menjadi salah satu kota pelaksanaan pilot project untuk pelaksanaan program pemberian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). BPNT ini mulai diujicobakan tahun 2017 di Mataram tercatat 25.680 keluarga terdaftar sebagai penerima bantuan.

“Untuk Kota Mataram tahun ini jumlah penerima BPNT sebanyak 25.680 keluarga, yang tersebar di enam kecamatan dan 50 Kelurahan. Total anggaran yang kita sediakan tahun ini Rp 33.897.600.000, untuk alokasi bantuan selama 12 bulan. Tiap keluarga menerima Rp 110 ribu per bulan,” jelas Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial, Andi ZA Dulung, Jumat, 24 November 2017.

Sesuai dengan namanya, BPNT tidak bisa dicairkan alias ditarik tunai dalam bentuk uang. Melainkan, harus ditukarkan dengan barang kebutuhan pokok, seperti beras, telur, gula dan minyak goreng.

“Ditop up tiap bulannya Rp 110 ribu, tergantung dari saldonya bisa ditukar dengan beras, telur, gula dan minyak goreng. Sampai Desember masih bisa empat item itu. Tapi tahun depan, hanya bisa untuk beras dan telur berdasarkan pedoman umum yang sudah diterbitkan oleh Menko PMK tanggal 2 November ini,” ungkap Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa.

Penerima dana BPNT, yang juga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dapat menukar saldonya dengan bahan pangan di E-Warong atau toko yang menjadi Agen Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dalam hal ini, Himbara yang bekerja sama dengan Kemensos di Mataram adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Jika sampai November ini, masih ada warga Mataram yang belum mencairkan dana BPNT tersebut, Khofifah menyatakan dana tersebut tidak hangus. “Kalau untuk bantuan pangan tidak hangus. Cuma sya sampaikan kalau butuh gula, minyak, ambil sekarang. Karena tahun depan harus ikuti aturan cuma bisa beras dan telur,” tegasnya.

Ditanya alasan pengurangan item bahan pangan yang bisa ditukar, Khofifah menyebutkan hasil survei BPS menunjukkan pengeluaran masyarakat tidak mampu pada posisi pertama digunakan untuk beli beras, kedua telur dan ketiga, rokok.

“Dari situ diputuskan beras dan telur, supaya bisa meningkatkan protein dan gizi masyarakat,” tandasnya.

Untuk BPNT, tahun 2017 telah dilakukan ujicoba pada 44 kota dengan capaian 1,2 juta keluarga. Sementara, tahun 2018 akan dilaksanakan pada 216 kabupaten/kota secara bertahap. (ros)