Retribusi dari Moyo Kurang Rp 1 Miliar Pertahun

Mataram (Suara NTB) – Pulau Moyo merupakan salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Sumbawa. Hanya saja retribusi yang dihasilkan dari destinasi unggulan ini tidak lebih dari Rp 1 miliar dalam setahun. Pemkab Sumbawa berupaya untuk melakukan penataan dan meningkatkan target pendapatan dari retribusi Pulau Moyo.

“Memang kalau retribusi masih belum banyak. Tapi Pemda dapat juga dari pajak-pajak hotel dan restoran yang ada di sana. Kalau pendapatan dari retribusi tidak lebih dari Rp 1 miliar setahun,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa, Junaidi.

Ia mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya untuk memperbaiki pelayanan di Pulau Moyo. Termasuk melakukan penataan di berbagai destinasi yang mulai banyak dikunjungi wisatawan. Sehingga ia bisa menentukan besaran atau target retribusi yang lebih besar dari saat ini.

“Pelayanan dan kenyamanan wisatawan itu menjadi prioritas kita. Oleh sebab itu kita berupaya untuk melakukan penataan,” ujarnya.

Baca juga:  Festival Gili Menggawe, Ikhtiar Masyarakat Bangkitkan Pariwisata Tiga Gili

Pulau Moyo memang terkenal dengan pulau privat. Dimana wisatawan yang datang berusaha untuk mencari ketenangan. Karena memang tidak banyak yang berkunjung ke pulau ini. Terlebih harga sewa kamar hotelnya yang relatif mahal bagi pengunjung lokal. Faozal mengatakan, harga sewa paling murah pada hotel yang ada di Pulau Moyo sebesar Rp 15 juta. Jumlah ini tentu saja merupakan jumlah yang besar bagi wisatawan lokal.

Disebutkan bahwa kunjungan yang terbaik pada musim kemarau yakni bulan Juni sampai September. Akan tetapi waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada Bulan Juni dan Juli meskipun gelombang air laut mulai tenang dari April.

Pulau Moyo yang terletak di Teluk Saleh memiliki cagar alam taman nasional Pulau Moyo yang berada beberapa kilometer dari pantai utara.

Baca juga:  Temu Bisnis di Prancis, Wagub Tampil Memukau

Pulau ini dikelilingi oleh terumbu karang yang indah dan habitat untuk babi hutan, biawak berikut 21 jenis kelelawar dan rusa liar. Terdapat juga kelompok kera pemakan kepiting, sapi liar, rusa, babi hutan dan berbagai macam spesies burung, ikan hiu dan kura-kura.

“Pulau Moyo menawarkan ketenangan dan di sana memang suasananya tenang. Ada Air Terjun Mata Jitu yang indah yang dapat dikunjungi juga,” ujarnya.

Pemerintah saat ini tengah berupaya untuk membenahi kebutuhan dan fasilitas di Pulau Moyo. Termasuk akses dan fasilitas dasar di pusat destinasi. Selama ini Pemda kesulitan melakukan penataan, karena hampir setengah dari luas areal Pulau Moyo berada dalam kawasan konservasi. Namun upaya-upaya perbaikan terus dilakukan untuk memberikan kesan nyaman bagi wisatawan yang datang. (lin)