Papuq Miskiyah, Janda Miskin Hidup di Rumah Kumuh

Giri Menang (Suara NTB) – Papuq Miskiyah warga Dusun Kelep Desa Taman Sari Kecamatan Sekotong mengalami lumpuh permanen sejak puluhan tahun lalu. Akibat kondisinya ini, ia terpaksa berjalan kemana-mana dengan cara ngesot menggunakan kedua tangannya. Beratnya cobaan hidup dialami janda miskin ini, tak membuatnya putus asa.

Papuq Miskiyah tetap berusaha bertahan hidup, meski harus mengandalkan dari belas kasihan warga sekitar. Mirisnya lagi, selama puluhan tahun papuq tua ini tinggal di gubuk reot yang kumuh. Janda tua yang biasa dipanggil Inaq Epak oleh warga sekitar, tinggal di gubuk reot berukuran sempit. Di gubuk reotnya hanya ada satu kamat, dinding terbuat dari bedek, berlantai tanah, dan beratapkan alang-alang. Dapurnya menyatu dengan kamar tidurnya.

Di dalam kamarnya tidak ada barang berharga, hanya terlihat dinding bedek yang bolong di mana-mana dan ditutupi menggunakan karung. Begitupula atap gubuknya. Di bagian depan, terdapat tempat duduk dari kayu yang biasa ia duduki ketika kondisi kelelahan dan sore datang.

“Kedua kaki saya lumpuh sejak lama, sehingga untuk berjalan beliau terpaksa ngesot (menggunakan tangan),” tuturnya pada Suara NTB, Sabtu, 16 September 2017.

Kesehariannya terkadang ia pergi-pergi ke daerah lain meminta belas kasihan dari warga, maklum akibat kondisinya ini ia hanya bergantung pada belas kasihan orang lain. Papuq Epak sendiri telah lama ditinggal cerai oleh suaminya. Praktis ia pun hidup sebatangkara sebab anaknya tinggal terpisah dengannya.

Sementara itu, Kepala DesaTaman Baru Fadilah mengakui PapuqMiskiyah mengalami lumpuh sejak lama. Karena itulah, pihak desa tetap memberikan perhatian terhadap Papuq Miskiyah. Pihak desa tetap menganggarkan bantuan sosial melalui dana desa, termasuk ketika ada penyaluran bantuan baik dari kepolisian, bazkas dan pemda tetap diarahkan ke bersangkutan.

Termasuk program rumah kumuh, diakui pihak dusun sudah mengarahkan ke bersangkutan, “informasi dari kadusnya, dia dapat program rumah itu kemarin (tahun 2016), tapi mungkin anaknya yang tempati. Itu yang perlu kami telusuri,” imbuhnya.

 Ia sudah menanyakan langsung ke kadus setempat, apakah bersangkutan sudah dapat rumah kumuh. Pihak dusunpun menginformasikan kalau sudah diberikan. Hanya saja, persoalannya rumah itu ditempati anaknya. Diakui, nenek tua itu tinggal di rumh kumuh sejak lama bahkan seusianya. Tahun lalu ia memperoleh bantuan 100 unit rumah kumuh, tahun ini menurut informasi sebanyak 50 unit. Namun pihaknya masih menunggu informasi dari dinas.

Bantuan dari dinsos berupa kursi roda juga pernah, namun dikasih ke orang lain. Beberapa waktu lalu juga pihak kepolisian sudah memberikan santunan ke bersangkutan. Termasuk ketika bantuan baznas, diarahkan ke Papuq Miskiyah. Perhatian desa, jelasnya, sudah ada, pihak desa tidak pernah lupa ke warga yang miskin. Pihaknya sudah mengingatkan ke bersangkutan agar tidak kelilin meminta-minta, namun tidak dituruti. “Dia ini janda tua, dan cacat,”ujarnya. (her)