Kikis Budaya Jaring Cagub Dengan Pendekatan Sektarian

Mataram (Suara NTB) – Sudah saatnya NTB dipimpin figur berkarakter tangguh dan cerdas. Figur dengan ide-ide cemerlang dan gagasan-gagasan brilian. Tanpa menggunakan pendekatan sektarian dan primordialisme. Hal tersebut disampaikan Sekjen Fitra NTB, Ervyn Kaffah kepada Suara NTB, Selasa (28/8).

Menurut Ervyn, pada Pilgub 2018 mendatang, pimpinan dan elit partai politik (Parpol)  tidak boleh luput menjaring calon Gubernur (Cagub)yang memiliki kapasitas mumpuni untuk menjadi pemimpin. Para elit politik harus berani keluar dari pola pikir yang telah terlalu lama berlaku dalam peta politik NTB.

“Kita harus rela, membangun konsensus bersama untuk melampaui semua itu. Kita harus memulai Pilgub 2018 dengan pertarungan gagasan. Mereka yang tidak cukup populer tetapi memiliki kompetensi, tanpa sektarian dan primordialisme,” terangnya.

Menurutnya, para pemangku kepentingan dalam penjaringan Cagub nantinya, harus memberikan ruang seluas-luasnya kepada figur yang memiliki kapasitas sebagai pemimpin.

“Bagaimana kita harus punya lompatan pikiran menghadapi tantangan kedepan ini. Dalam konteks ini, kita harus punya pemimpin yang tangguh. Nah, salah satu sebab kenapa pemimpin tangguh ini sulit kita peroleh, karena memang proses penjaringan pemimpin itu masih buruk atau kondisi penjaringan yang belum kondusif. Dan salah satu hambatan terberatnya adalah, masih kuatnya hal-hal yang berbau sektarianisme dan budaya politik primordial,” katanya.

Calon pemimpin tangguh yang memiliki kekuatan besar memimpin NTB, ujar Ervyn, harus diberikan ruang oleh Parpol. Budaya menentukan pemimpin berdasarkan kepentingan kelompok, agama, organisasi seperti yang telah tersebut diatas mutlak harus hilang dari cara berpikir para elit politik di NTB.

“Menurut saya kalau kita ingin memiliki pemimpin yang bagus saat ini, kita harus melampaui tantangan tersebut. Apa yang perlu menjadi sandaran kita bersama, saya menghimbau para elit politik kalau mau NTB ini lebih maju kedepan, kita harus rela menunda desakan kepentingan kroni pemilik modal. Kita harus memulai Pilkada 2018 dengan pertarungan gagasan,” katanya.

Hal lain yang menurutnya harus menjadi pertimbangan bersama dalam penentuan pemimpin NTB kedepan, adalah mulai terasanya gaung kebijakan politik global. Ia memberikan gambaran bagaimana kebijakan seputar berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEE).

Hal tersebut, sebut Ervyn menjadi kabar baik yang terlalu dini dan harus segera mendapat tanggapan dari seluruh anak bangsa. Salah satu cara menanggapinya adalah dengan memilh pemimpin yang memiliki visi misi jauh kedepan, dengan menghilangkan pola pemikiran berbasis kelompok, suku, ras ataupun agama seperti yang telah disebutkan di atas.

“Sekarang kalau kita bicara tentang MEA ya, dimana orang luar itu bebas masuk datang ke Indonesia. Kan sederhana. Setiap ada Investasi datang itu dia bawa pasukannya dari sana tenaga kerjanya. Kemudian beberapa sektor lain akan mudah dimasuki, problemnya adalah mereka jauh lebih bagus skillnya,” terangnya.

Ia menilai hal tersebut merupakan tantangan besar yang hanya bisa dijawab oleh pemimpin yang memiliki kapasitas yang tak kalah besar. Sehingga, beberapa problem yang menjadi turunan dari MEA atau kebijakan-kebijakan lain kedepan bisa teratasi.

“Dampak pariwisata itu kan, prostitusi meningkat, penjualan orang, drugs, kita akan terbuka dengan dunia yang lebih luas. Nah, kita butuh pemimpin-pemimipin yang bagus,” terangnya. Untuk itu, tegasnya, pemimpin yang mumpuni dengan kekuatan gagasan dan visi yang berorientasi kemajuanlah yang mutak dibutuhkan oleh NTB.
“Kita harus mulai, Pilgub 2018 ini harus dimulai dengan pertarungan gagasan. Bagaimana orang-orang yang potensial yang memiliki kompetensi, tidak cukup popular tetapi kompetensinya bagus, harus berhasil dijaring, untuk menjadi calon Gubernur,” katanya. (ast)