Hati-hati Membeli Daging Impor

Hj. Rohil pedagang daging sapi di Pasar Mandalika melayani pembeli. Penjualan daging beku tak sesuai standar kesehatan perlu diwaspadai. Daging beku mudah terkontaminasi sehingga membahayakan bagi kesehatan. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Kebutuhan daging impor di Kota Mataram relatif tinggi. Daging dipasok untuk memenuhi permintaan hotel dan restoran. Sebagian juga dijual bebas di pasar tradisional. Praktik penjualan daging beku di pasar tak sesuai standar. Konsumen diminta lebih meningkatkan kewaspadaan karena berbahaya bagi kesehatan.

Suara NTB menelusuri penjualan daging impor di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Selasa, 27 Oktober 2020. Tak ada yang aneh dari deretan daging merah segar yang dipajang di atas lapak. Pandangan justru tertuju pada daging berwarna merah pucat dan berair. Sesuai standar daging beku harus disimpan di dalam pendingin. Tujuannya agar tidak terkontaminasi oleh bakteri.

Iklan

Tak ada yang mencurigai bahwa itu daging impor. Daging sapi atau kerbau yang didatangkan dari Australia dan India disandingkan dengan daging sapi lokal. Harganya yang murah menjadi daya tarik pembeli, terutama pedagang bakso. “Daging impor saya jual Rp85 ribu/kg. Ini (daging beku,red) banyak diambil sama pedagang bakso,” kata penjual daging sapi di Pasar Kebon Roek yang enggan menyebutkan identitasnya.

Alasan lebih murah dan bakso akan diburu pembeli jadi pilihan alternatif daripada membeli daging lokal dengan harga tinggi. Sumber tersebut mengaku daging lokal sulit laku apalagi kondisi pandemi saat ini. Dulunya, ia banyak mendapatkan orderan daging dari hotel – hotel di Gili Terawangan serta rumah makan di Senggigi. “Sekarang ini syukur – syukur kita dapat jual 5 kilo sehari,” ucapnya.

Pengakuannya daging beku yang diambil dari distributor lebih banyak untung daripada daging lokal. Dia membandingkan daging beku dijual Rp85 ribu/kg dan akan memperoleh keuntungan Rp20 ribu – Rp25 ribu/kg.

Petugas sering menegur pedagang karena daging impor tidak disimpan dalam cold box. Terkadang pedagang nakal mengoplos daging lokal dengan daging impor. “Pas ditegur baru dimasukkan. Kalau sudah petugasnya pergi ditaruh sih di luar,” ujarnya.

Kasus serupa juga ditemukan di Pasar Mandalika. Pedagang dengan leluasa menggeletakkan daging impor di atas meja dagangannya. Hj. Rohil mengaku, daging impor sudah laku dan akan diambil oleh pemiliknya. “Saya taruh di atas karena mau diambil,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli mengaku seringkali menegur pedagang. Bahkan, petugas secara bergantian mengawasi dari pagi sampai siang. “Tapi iya begitu, setelah ditegur, lagi diulangi,” kata Mutawalli.

Daging beku dijual tidak sesuai standar dikhawatirkan tercemar atau terkontaminasi oleh bakteri. Hal ini berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi. Sebagai efek jera daging bisa saja disita. “Bisa saja kita sita,” tegasnya.

Permintaan daging beku relatif tinggi. Perbulan rekomendasi dikeluarkan oleh Dinas Pertanian mencapai 20-35 ton. Pasokan daging impor didatangkan oleh lima pengusaha di Kota Mataram. Harganya relatif murah menjadi pilihan pedagang terutama pengusaha bakso.

Mutawalli mengaku seringkali menanyakan program bumi sejuta sapi yang digalakkan oleh Pemprov NTB. Jika program ini berhasil justru kenapa daging lokal masih mahal. Mengantisipasi pedagang daging beku nakal harus berkoordinasi dengan Pemprov NTB. Kebijakan mendatangkan daging dari luar negeri akan melibatkan Bulog. (cem)