Hati-hati dengan Bujukan PJTKI Ilegal

H. Rudi Suryawan. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ilegal mencari cara untuk memberangkatkan calon pekerja migran (PMI) keluar negeri. Berbagai modus digunakan di antaranya mengiming – imingi masyarakat dengan gaji dan fasilitas. Masyarakat diminta lebih berhati – hati untuk menghindari praktik perdagangan manusia.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, H. Rudi Suryawan dikonfirmasi, Rabu, 6 Oktober 2021 tidak memungkiri bahwa PJTKI terus mencari celah atau cara memberangkatkan calon PMI keluar negeri. Di antaranya, menjanjikan atau mengiming – imingi gaji besar dan fasilitas mewah. Faktanya, janji itu menjadi modus untuk memuluskan perbuatannya.

Iklan

Dia mencontohkan, beberapa calon PMI menjadi korban. PJTKI ilegal menelantarkan di Batam tanpa ada kejelasan kapan diberangkatkan bekerja ke luar negeri. “Malah kita dengar mereka ditelantarkan di Batam. Ini jadi masalah,” kata Rudi.

Keberadaan PJTKI nakal sedang diidentifikasi. Pihaknya berkoordinasi dengan kecamatan dan kelurahan untuk menginformasikan bilamana ada perusahaan yang hendak memberangkatkan warga bekerja ke luar negeri. Sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan adanya PJTKI nakal. “Sampai sekarang belum ada kita terima laporan,” ucapnya.

Di satu sisi, Rudi Suryawan mengakui, penyaluran PMI memiliki tantangan. Calon PMI harus mempunyai skil atau kompeten di bidangnya. Seperti kemampuan berbahasa serta lainnya. Karena itu, setiap calon PMI yang akan berangkat ke luar negeri harus mendapatkan pelatihan. Contohnya, asisten rumah tangga (ART) harus dilatih minimal tiga bulan. “Di Mataram ada dua lembaga pelatihan yang mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat untuk melatih calon PMI,” sebutnya.

Mataram kata dia, bukan sebagai epicentrum atau kantong TKI di NTB. Kendati demikian, warga terutama di kawasan pinggiran kota banyak yang ingin mengadu nasib ke luar negeri. Negara tujuan terjadi pergeseran. Sebelumnya ke Malaysia dan Timur Tengah, kini kebanyakan ke Hongkong dan Singapura. Tercatat 49 calon PMI dinyatakan lulus tetapi hingga kini belum diberangkatkan. “Rupanya ada pergeseran mindset dari masyarakat. Pilihannya sekarang itu ke Hongkong dan Singapura,” demikian kata Rudi. (cem)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional