Hati-hati, Ancaman Penjara Buzzer Pilkada

Yusuf Tauziri (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kontestasi Pilkada Kota Mataram 2020 memang belum resmi dimulai. Namun, media sosial sudah gaduh oleh buzzer yang saling serang bakal calon pasangan kepala daerah. Ujaran kebencian sampai fitnah-fitnah mulai bermunculan. Hasilnya, seorang warga ditangkap karena diduga melanggar UU ITE.

“Warga ini, bisa dikatakan buzzer yang memang diajak untuk menyerang bakal calon walikota,” ungkap Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Yusuf Tauziri dikonfirmasi Kamis, 6 Februari 2020 di ruang kerjanya.

Iklan

Praktik penggunaan buzzer atau pegiat media sosial bayaran semasa Pilkada bukan hal baru. Bahkan, gaduh-gaduh dunia maya memang kerap diciptakan menyudut pasangan calon peserta Pilkada. Bentuknya fitnah sebagai bagian kampanye hitam.

Di Kota Mataram, sambung Yusuf, merupakan kasus yang baru. Sebab selama ini, para pelaku menyampaikan unggahan di media sosial tersebut atas inisiatif sendiri. Tetapi dalam kasus yang ditanganinya ini ada indikasi digerakkan orang lain.

“Dia diajak perangkat lembaga kemasyarakatan. Dia dijanjikan akan mendapatkan sesuatu apabila calon yang didukungnya nanti menang,” kata mantan Kabagops Polres Sumbawa ini.

Kenyataan berkata lain. Pelaku yang kini sudah menjadi tersangka ini malah ditinggal orang yang menjanjikannya imbalan. Pelaku menghadapi proses hukum sendiri sesuai sangkaan pasal 27 ayat 3 juncto pasal 45 UU ITE yang ancaman pidananya empat tahun.

Yusuf mengingatkan, segala aktivitas di media sosial kini sudah dipantau Patroli Siber Polda NTB. Ditambah lagi pasukan Cybertroops yang mengintip unggahan-unggahan bernada ujaran kebencian.

“Untuk Pilkada memang menjadi atensi kita. Biasanya akan meningkat pada saat masa kampanye. Jadi kita imbau agar tidak memposting ujaran kebencian. Apabila sudah memenuhi unsur, pasti kita tindak,” pungkas Yusuf. (why)