Hasilkan Rp46 Juta Per Bulan, Pemuda Sandik Sulap Lahan TPS Liar Jadi Sentra Sayur Hidroponik

Tarmizi bersama Andres Kurniawan dan para pemuda yang tergabung dalam karang taruna Lobar dan KNPI setempat panen sayur hidroponik. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Di tengah lesunya perekonomian akibat Corona, para pemuda di Sandik Kecamatan Batulayar Lombok Barat justru bisa menghasilkan pendapatan lumayan besar. Pemuda kreatif bekerjasama menggandeng pihak ketiga menyulap tempat pembuangan sampah (TPS) liar menjadi pusat pengembangan tanaman hidroponik. Dalam sebulan, mereka mendapatkan hasil penjualan Rp 46 Juta, sedangkan biaya produksi hanya Rp 8 juta.

Tarmizi, insiator pusat pengembangan tanaman hidroponik ini mengatakan, bahwa pengembangan hidroponik ini muncul dari hasil diskusi kecil di berugaq dengan para pemuda (mahasiswa) terutama mereka yang berlatar belakang pertanian yang mempunyai gagasan bahwa pola pertanian modern sekarang ini yang lagi naik daun.

Iklan

“Sehingga dari hasil diskusi kita mencoba membangun kepeloporan hidroponik ini ditengah masyarakat terutama di wilayah Desa Sandik,” jelas anggota DPRD Lobar yang juga ketua pembina karang Taruna Lobar ini, Jumat, 28 Agustus 2020.

Menurutnya, prospek dari budidaya sayur system hidroponik ini luar biasa. Terlebih, di tengah masa pandemi ini bisa menambah pendapatan. Apalagi kata dia menyangkut ketahanan pangan sangat strategis untuk dikembangkan. Begitu pula dengan pola perawatannya sangat sederhana dan tidak rumit.

“Kami di sini penerapannya sangat dekat dan bersentuhan langsung dengan teknologi,” ujarnya.

Untuk hidroponik ini, ia menyiapkan green house untuk mewujudkan hasil produksi yang kapasitasnya industri. Kalau melihat dengan peluang pasar, ada istilahnya Hotel Restoran dan Kafe (Horeska) menjadi target pasarnya. Tapi karena sekarang musim pandemi, pangsa pasar sedikit kena imbas.

“Disini sebenarnya kita bisa jadikan pilot project, bisa dilihat dicontoh dan ditiru, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan lahan lahan yang terbatas bisa membuat seperti ini,” imbuhnya.

Hal semacam ini juga dikembangkannya di salah satu dusun di Desa Santeluk. Disitu ada komunitas Dedoro Ijo yang tengah melakukan pengembangan komoditas hidroponik.

“Dan Insya Allah akan semakin besar kedepannya. Komoditas ini bukan hanya pada hidroponik saja, jadi untuk pengolahan sampah menjadi pupuk organik sedang mereka produksi. Sampai hari ini, mereka juga sedang menciptakan nutrisi tanam sendiri,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan, lahan tempat dikembangkannya hidroponik ini sendiri dahulunya bekas TPS liar. Hingga akhirnya di 2019 lahan ini dimanfaatkan dan ditata untuk dijadikan Green House.

“Insya Allah tempat ini juga kami buka untuk kalangan umum terutama untuk yang mau belajar serta akan mengenalkan pada pertanian modern seperti ini kepada kelompok usia dini,” ajaknya.

Mengenai potensi pemasaran jelas dia, sejauh ini masih tetap stabil. Sebab produk pertanian yang kita punya dijamin kualitas, terlebih disini serba bebas kimia dan harganya pun bisa dijangkau dan memasyarakat.

“Biasanya pembeli karena langsung beli di lokasi, kita kenakan harga 20 ribu per kilo,” ucapnya.

Pola tanamnya dari awal rakit apung yang menggunakan styrofoam dan pipa dengan kapasitas banyak. Disini ada sekitar 7 varietas sayuran yang dikembangkan seperti bayam merah dan ungu, sawi ungu, Pakcoy, selada ungu dan hijau serta paprika.

Namun, melihat potensi permintaan lebih banyak jenis Selada. “Intinya dengan pola yang kita gunakan yakni mempertahankan kualitas dari hasil panen. Sebab nutrisi, vitamin dan seratnya itu harus terjaga,” paparnya.

Pihaknya juga melibatkan Karang Taruna Lombok Barat, bahkan sudah menghadirkan perwakilannya dari Kecamatan Lingsar dengan harapan bahwa ke depan akan menjadi salah satu atensi dari pemerintah daerah juga.

“Dari komunitas kami saat ini, 25 orang dengan siap mengembangkan pertanian modern yang bebas kimia,” pungkasnya. Ia menambahkan, selain sebagai sentra produksi sayur hidroponik, lokasi ini juga sebagai pusat belajar bagi mahasiswa dan pelajar.

“Sudah ada mahasiswa yang praktik (pusat belajar) di sini,” imbuh dia.

Pengusaha sayur Hidroponik, Andres Kurniawan mengatakan tanaman sayur hidroponik rakit apung ini hanya butuh waktu tanam sekitar 24 hari, dimana pembibitan hingga peremajaan sekitar 15 hari. Pihaknya pun membuat pembibitan tiap hari dan panen setiap hari.

“Rutin kami panen,” jelas pengurus Hipmi Kota Mataram ini. Dalam sekali panen, ia bisa mendapatkan 60 kilogram sayur. Dengan harga pasar 20-30 ribu. Kalau dihitung, dalam sebulan ia bisa memperoleh Rp 46 juta per bulan, sedangkan pengeluaran per bulannya Rp 8-10 juta.

“Dimana pemasukan sekitar Rp 46 juta,” ujar dia. Rencana pengembangan kedepan, pihaknya akan mengajak warga lain. Ia bersedia membantu modal dibantu perbankan yang ada. (her)