Hari Terakhir Perekaman KTP, Antrean Warga Membeludak

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan tenggang waktu atau deadline kepada masyarakat untuk melakukan perekaman E-KTP hingga Jumat (30/9) besok. Warga pun berbondong – bondong melakukan perekaman sehingga antrean di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil membeludak.

Pantuan Suara NTB, antrean warga mulai terlihat di depan Kantor Dukcapil di jalan dr. Soedjono. Suasana sama terlihat di depan loket pendaftaran hingga perekaman. Kerumunan warga mulai dari pelajar sudah berusia 17 tahun hingga dewasa.

Iklan

Kadis Dukcapil Kota Mataram, Drs. H. Ridwan menjelaskan, jumlah wajib KTP di Kota Mataram seharusnya mencapai 285 ribu. Tetapi kemudian dirilis oleh Kemendagri melalui Dirjen Administrasi Kependudukan wajib KTP mencapai 296 ribu.  Berarti ada 11 ribu tambahan. Kemungkinan penambahan itu, bagi warga yang akan berusia 17 tahun.

Sejauhmana hasil perekemanan mulai dari tanggal 15 Agustus hingga 28 September, dia belum bisa menyampaikan karena laporan yang akan dikirim ke Kemendagri harus dibuat sesuai database terakhir. Tetapi untuk data perekaman dan pencetakan blangko dari tanggal 1 – 26 September mencapai 2.522.

“Ini di luar hari Sabtu dan Minggu. Jika dirata – ratakan sehari itu bisa mencapai 150 orang,” kata Ridwan di ruang kerjanya, Rabu (28/9).

Pernah suatu hari kata Ridwan, permintaan perekaman dan pencetakan E – KTP mencapai 500 orang. Dari sisi tenaga, pihaknya kewalahan melayani masyarakat. Ketersediaan blangko tiap bulan mengajukan ke Pemprov untuk tambahan. Bisa dibayangkan katanya, 4 ribu keping blangko diminta habis selama satu minggu. Pemprov NTB kembali memasok 3 ribu, sekarang sudah hampir habis.

Dia tidak heran jika masyarakat membeludak untuk antre ingin melakukan perekaman. Sebab, Mendagri sudah ada deadline bahwa 30 September semua masyarakat harus merekam. “Oleh lurah diumumkan lewat masjid untuk melakukan perekaman. Makanya warga berbondong – bondong datang,” ujarnya.

Dia mengklarifikasi maksud Kemendagri bahwa masyarakat yang tidak merekam hingga tanggal 30 September, bukan data kependudukannya dihapus. Melainkan, warga kebingungan mendapatkan pelayanan dasar di instansi pemerintah maupun swasta. Sebab, bukti identitas dibutuhkan adalah bagi yang sudah melakukan perekaman E – KTP.

Lalu bagaimana dengan warga lanjut usia sama sekali belum merekam? Dukcapil memberikan kebijakan untuk melakukan perekaman di kecamatan. Kondisinya juga sama, terjadi antrean membeludak. Bagi warga lanjut usia tidak bisa bergerak, dimaksimalkan untuk jemput bola. Oleh karena itu, lurah diminta mendata by name by address warganya yang lanjut usia, sehingga petugas bisa turun ke lapangan.

Ditanya apakah setelah 30 September ini tidak ada lagi perekaman E – KTP? Pelayanan seperti perekaman dan pencetakan kata Ridwan, tetap dilaksanakan. Data anak yang masuk usia 17 tahun terus bergerak. Begitu juga halnya dengan permintaan pergantian elemen data serta KTP yang hilang. Terhadap warga yang belum merekam sama sekali, tetap dilayani tapi datanya terisolir.

“Pelayanan tetap seperti biasa. Karena kan tambahan 11 ribu wajib KTP ini terus bergerak. Mereka itulah anak yang masuk usia 17 tahun,” terangnya.

Disatu sisi, mantan Kepala Bagian Ortal Setda Kota Mataram ini menjamin, pelayanan E – KTP tidak ada jalur tikus. Pola layanan digunakan melalui sistem antrean. (cem)