Harga Ubi Anjlok, Petani di Bayan Minta Pemerintah Ambil Langkah

Petani ubi di Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan mengeluhkan anjloknya harga ubi. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Panen ubi tahun ini rupanya tidak berpihak pada petani, khususnya di kecamatan Bayan. Meski produksi relatif normal, namun harga ubi anjlok dari Rp90.000,- per karung menjadi hanya Rp10.000,- per karung.

“Kami dan petani ubi lainnya di kecamatan Bayan meminta, Pemda baik Pemda KLU dan Pemprov mengambil langkah-langkah untuk petani Ubi. Sepertinya harga ubi ini dipermainkan oleh tengkulak,” ucap Remedi, petani sekaligus pengusaha Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan pada Suara NTB, Minggu, 5 Desember 2021.

Iklan

Ia menjelaskan, produksi ubi kayu di wilayah Bayan berlaku seperti biasanya. Petani mencabut tanaman ubi memasuki musim hujan karena lahan akan diolah untuk ditanam kembali.

Ia tidak melihat gejala surplus produksi sebagai penyebab harga ubi turun drastis. Pasalnya, serapan pembeli yang kebanyakan adalah pengepul, relatif normal.  “Beberapa teman kami juga sudah mengecek harga ubi di Mataram. Di sana masih “enjoy aja” dengan harga Rp135 ribu sampai Rp150 ribu per karung. Kami curiga ada permainan tengkulak. Untuk itu, pemerintah kami minta turun tangan,” sambung Remedi.

Intervensi yang diinginkan Remedi, adalah pemerintah menyediakan dan talangan untuk memenuhi kebutuhan petani. Dana tersebut diberikan kepada warga dengan status pinjaman sampai menunggu harga normal. Selama masa pinjaman, petani tidak diperbolehkan menjual ubi secara parsial. Pada saat harga pasar normal, ubi milik petani dipanen disertai kewajiban mengembalikan sejumlah dana yang diberikan oleh pemerintah.

“Maksud dana ini adalah untuk jangka pendek. Karena petani juga perlu menjaga konsumsi jangka pendeknya,” ucapnya.

Selain itu, petani juga harus mengembalikan dana pinjaman yang jumlahnya variatif yang digunakan selama proses produksi. Misalnya, biaya membajak dan biaya buruh pada awal penanaman ubi.

“Untuk biayanya variatif, biasanya 1 hektar bisa sampai Rp 15 juta. Kadang modal tidak cukup sehingga harus pinjam. Harapan kami, BUMD juga mengambil inovasi atas kondisi ini,” tambahnya.

Diakui Remedi, sejumlah petani kepada Remedi, menyuarakan agar Pemda KLU juga tidak berdiam diri. Kedua Pemda – kabupaten dan provinsi, diminta mengeluarkan dana tidak terduga untuk membantu petani.

“Kalau petani mendapat dana kompensasi, kami akan stop pengiriman ubi ke luar daerah untuk menekan pasokan pasar. Saya optimis, 2 minggu saja pasokan terganggu, harga akan pulih” cetusnya. (ari)

Advertisement