Harga Sonokeling Menggiurkan, Pembalakan liar Kembali Marak di NTB

Mataram (Suara NTB) – Aksi penebangan kayu hutan secara ilegal kembali marak di NTB. Dalam beberapa bulan terakhir, aparat gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama dengan TNI dan Polri berhasil menangkap pengiriman kayu jenis sonokeling yang diduga hasil pembalakan liar ke luar wilayah NTB.

Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, M.Si membenarkan pembalakan liar semakin marak. Sementara perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat untuk perladangan liar sudah mulai berkurang.

Iklan

“Sekarang perladangan liar itu sudah tidak begitu banyak. Karena  kita terus melakukan penindakan di lapangan. Perambahan hutan sudah mulai berkurang. Pembalakan liar yang masih marak terutama kayu sonokeling,” kata Madani ketika dikonfirmasi Suara NTB di kantornya, Rabu, 15 Desember 2017.

Ia menyebutkan, belum lama ini, Satgas Pemberantasan Pembalakan liar yang terdiri dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) bersama TNI dan Polri berhasil menangkap truk fuso pengangkut kayu sonokeling yang diduga hasil pembalakan liar. Seperti di wilayah Tambora, tepatnya di Kempo sebanyak tiga truk kayu. Kemudian di Pelabuhan Lembar satu truk kayu sonokeling. Sebelumnya, kata Madani, aparat gabungan juga menangkap tiga truk fuso kayu jenis yang sama.

Ia menjelaskan Pemprov sudah mengusulkan kuota nol untuk penebangan kayu sonokeling ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Sehingga seluruh pintu keluar ataupun masuk NTB dilakukan pemeriksaan. Jika ada truk yang mengangkut kayu jenis ini maka akan dilakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen pengangkutan.

Madani menjelaskan, kayu jenis sonokeling menjadi incaran para pelaku pembalakan liar. Pasalnya, harga kayu jenis ini sangat menggiurkan. Di tingkat petani atau masyarakat, kayu sonokeling dijual dengan harga Rp 8-10 juta per meter kubik. Kemudian di tingkat pengumpul harganya bisa mencapai Rp 14 juta per meter kubik.

“Sekarang sudah disetop. Kemarin kita tangkap  di Sekotong satu fuso lagi. Sebelumnya tiga fuso. Pegiriman kayu sonokeling empat fuso bulan ini kita tangkap bersama Korem,” imbuhnya.

Madani menambahkan, pencegahan di tingkat hulu sampai hilir tetap dilakukan bekerjasama dengan TNI dan Polri. Begitu juga di jalan, dilakukan penindakan jika ada truk yang dicurigai mengangkut kayu hasil pembalakan liar.

Penebangan kayu secara ilegal ini memang tidak dilakukan secara besar-besaran. Namun, kata Madani, dilakukan oleh pelaku dengan menebang satu atau dua pohon sehari. Kemudian hasil penebangan itu dikumpulkan. Setelah mencapai satu truk barulah dikirim keluar NTB.

Modus yang digunakan para pelaku pembalakan liar ini juga berubah. Ada yang mengangkut menggunakan sepeda motor dari dalam hutan. Ketika petugas melakukan patroli, katanya, mereka membuang atau menyembunyikan kayu tersebut. Para pelaku pembalakan liar yang ada saat ini kucing-kucingan dengan para petugas. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional