Harga Sampah untuk Produksi Solar Dianggap Masih Rendah

Aisyah Odist menunjukkan hasil kreasi dari sampah di bank sampah NTB Mandiri di Ampenan Mataram. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Harga pembelian sampah untuk bahan baku pembuatan solar yang dilakukan oleh salah satu pabrik asal Australia yang ada di Kawasan Sain Teknologi Industri Park (STIP) Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat dinilai masih rendah. Bahkan kalah saing dengan bank sampah.

Karena itu, produksi solar berbahan baku sampah dengan metode pirolisis dikhawatirkan tidak berkesinambungan. Seperti diketahui,  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah belum lama ini meresmikan pabrik pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar solar di komplek STIP Banyumulek, Lombok Barat. Teknologi ini bahkan disebut-sebut pertama kali dilakukan di Indonesia.

Iklan

PT. GTM dari Asutralia yang mulai melakukan pilot projek. Dengan menghadirkan pabrik berkapasitas pengolahan 1 ton sampah plastik sehari yang diolah menghasilkan 400 – 600 liter biosolar setara Dexilite Enduro 3. Pegiat lingkungan, sekaligus pendiri Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah Odist turut bergembira dengan hadirnya pabrik pengolah sampah ini di NTB.

Harapannya, persoalan sampah di provinsi ini bisa teratasi. Dibalik itu, Aisyah masih menyolah rendahnya harga pembelian sampah dari pengelola pabrik ini. “Dia beli sampahnya seharga Rp1.000 sampai Rp1.500 perkilo. Harga ini cukup rendah,” kata Aisyah di Mataram, Jumat, 16 Juli 2021. Aisyah membandingkannya dengan harga pembelian sampah di bank-bank sampah yang tersebar di NTB.

Bahkan di Bank Sampah NTB Mandiri, harga sampah yang sudah dipilah dan dibersihkan, dihitung sampai Rp10.000 perkilonya. Menurut Aisyah, agar target produksi pabrik ini terpenuhi, pabriknya harus lebih berani bersaing membeli sampah dari masyarakat. Tidak cukup mengandalkan kebutuhan bahan baku pabrik dengan mengandalkan relawan-relawan yang akan membawakan sampah.

“Benar sampah itu tidak ada nilainya. Yang dinilai kan bagaimana prosesnya sampah didapat, dipilah, dan dibersihkan, kemudian diantarkan hingga ke pabriknya. Proses ini kan orang butuh makan, minum, dan biaya untuk pengantaran. Namanya sampah, kalau tidak menarik nilai belinya, orang juga akan enggan mengurus sampah ini,” jelas Aisyah.

Ia mengharapkan, setidaknya, pabrik pengolah sampah ini bisa membeli dengan harga minimal Rp2.500/Kg. Jika bisa, bank sampah yang ada ini dipastikannya akan tertarik menjadi pemasok sampah. “Kita juga bisa siapkan sampahnya yang sudah dipilah pilih. Kalau tidak bagus harga belinya, apalagi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku 1 ton sehari, itu cukup besar. Dari mana mau mendatangkan bahan baku sampahnya,” demikian Aisyah. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional