Harga Rumput Laut Terbatas Akses Langsung Pasar Luar Negeri

Panen rumput laut. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Tata niaga rumput laut masih panjang, apalagi untuk ekspor. Petani rumput laut, termasuk pengumpul yang ada di dalam daerah membutuhkan koneksi langsung, agar harga jualnya bisa didongkrak. Seperti dikemukakan Putra Sahban, pembina petani rumput laut di Lombok dan Kabupaten Sumbawa Barat, Sekaligus owner CV. Global Ocean Nori. Ia merasa kesulitan membuka jaringan pemasaran langsung di luar negeri.

Akhirnya, ia hanya bisa mengandalkan penjualan ke “tangan” kesekian. Bukan ke pembelinya langsung. Misalnya, untuk pemesanan luar negeri dari Taiwan. Dalam sebulan dibutuhkan 30 ton rumput laut kering. Proses pengiriman baru 4,5 ton dipenuhi. Penjualan ke pembeli di Taiwan ini, kata Sahban, bukan pembeli utamanya. Dari Taiwan, rumput laut NTB akan dikirim lagi ke Jepang, dan China.

Iklan

“Yang beli orang Taiwan, mesen ke Indonesia melalui pengusaha di Surabaya, baru ke petani. Mata rantainya panjang,” kata Sahban kepada Suara NTB di Mataram, Selasa, 17 November 2020. Karena panjanganya mata rantai penjualan ini, yang dinikmati petani hanya begitu saja harganya. Cenderung harganya rendah. Harga sampai Surabaya dipenuhi Rp24.000/Kg. Didalamnya sudah termasuk ongkos angkut, sortir dan biaya biaya lain.

Sahban inginnya berjejaring langsung dengan pembeli utama di Jepang atau di China. Sehingga harga jual yang diterimanya bisa lebih tinggi dari harga saat ini. Petani rumput laut juga bisa menikmati harga lebih. “Kalau misalnya ada pelatihan, kita harapkan ada pelatihan untuk pengembangan jaringan langsung ke pasar-pasar utama rumput laut. Bagaimana caranya membangun jaringan ini, terus terang kami butuh ilmunya,” katanya.

Putra Sahban menambahkan, sebetulnya untuk membuka jaringan-jaringan langsung luar negeri untuk pemasaran rumput laut ini negara punya perangkat. Sebut saja Duta Besar sebagai fasilitator. Daerah atau stakeholders lainnya diharapkan menjembatani pemasaran rumput laut melalui perangkat negara ini. “Tapi bagaimana caranya ke duta besar, atau membangun langsung jaringan luar negeri, kita harapkan ada pihak-pihak yang bisa memberikan support untuk itu,” demikian Putra Sahban.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. Sasi Rustandi, M. Si memaparkan potensi dan produksi rumput laut NTB. Tahun 2019 ini, target produksi rumput laut masih sama dengan target tahun 2019 lalu, 915.000 ton. Potensi areal budidaya di Pulau Lombok 4.904 hektar. Tersebar di Ekas, potensi 3.500 hektar. Sudah dimanfaatkan 1.180 hektar.

Lalu di Grupuk-Awang, potensi 504 hektar dan pemanfaatan 214,63 hektar. Di Pengantap Sekotong ada 1.000 hektar potensi dan pemanfaatan 644,16 hektar. Di Pulau Sumbawa tersebar potensi areal budidaya rumput laut seluas 20.302 hektar. Tersebar di Alas- Labuan Mapin. Kertasari, Moyo Utara-Maronge,  Pulau Medang,  Kwangko, Lape-Tarano,  dan Waworada. “Hasil produksi selama ini di kirim ke Jawa Timur, kemudian di ekspor ke China, Jepang, Eropa dan USA,” demikian Sasi. (bul)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional