Harga Rp15 Juta, NTB Mulai Produksi “Cold Storage” Tenaga Surya

Kepala Disperin NTB, Hj. Nuryanti bersama Ismayani, menguji coba cold storage tenaga surya. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB)-Cold storage atau box pendingin sudah bisa dikembangkan. Direkayasa menggunakan arus listrik dari tenaga surya, lebih efektif dan efisien.

Tiga pihak yang mengembangkan cold storage tenaga surya ini yaitu SMK Lingsar (Lombok Barat), NgebUTS (Universitas Teknologi Sumbawa), dan salah satu pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang sudah dibina Dinas Perindustrian Provinsi NTB, yaitu CV. Raja Teknik di Lingkungan Pejeruk, Kota Mataram.

Iklan

Ismayani, Owner CV. Raja Teknik dijumpai Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME di bengkelnya, Selasa, 27 April 202 mengatakan produksi tengah dilakukan. Ada beberapa pesanan cold storage dari Dinas Perindustrian yang sedang dikerjakan.

Rencananya untuk diberikan kepada nelayan. Atau IKM pengolah ikan agar hasil tangkapannya bisa awet dan harga bisa dipertahankan.
Cold storage tenaga surya ini adalah modifikasi yang dilakukan. Selama ini cold storage yang dibuat oleh pabrikan sumber energinya hanya dari listrik. Ismayani mengkombinasikan penggunaan panel surya. Agar ada alternatif selain arus listrik langsung yang dipasok oleh PLN.

Cold storage tenaga surya ini bisa dibuat dengan berbagai ukuran dan kapasitas. Tergantung permintaan pemesan. Sementara ini yang masih dibuat, kapasitasnya 150 Kg. “Kita juga bisa membuat cold storage seukuran satu ruangan. Selama ini yang kita buat untuk pendingin es, untuk es krim,” katanya.

Cold storage buatan IKM lebih efektif dan efisien karena sumber listriknya bisa disesuaikan. Dengan menggunakan energi panas matahari, tidak mempengaruhi efektifitasnya. Suhu bisa disesuaikan juga, hingga -20 derajat.
“Untuk membekukan air jadi es batu, suhu dibutuhkan 0 (nol) derajat. Ini bisa sampai minus 20 derajat. Mau bekukan apa saja bisa,” jelas Yani, panggilan akrabnya.

Panel suryanya dipasang terpisah, ditempat yang bisa menerima cahaya matahari langsung. Dari panel surya, arus masuk ke inverter. Lalu masuk ke cold storage. Untuk kapasitas 150 Kg, daya yang digunakan 200 watt. Masih cukup terjangkau digunakan oleh IKM. Kebutuhan listriknya tak boros.

“Sudah bisa dipesan. Harganya Rp15 juta untuk kapasitas 150 Kg,” demikian Yani.
Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, S.E., M.E., menambahkan, pengembangan cold storage menggunakan tenaga surya ini bagian dari program industrialisasi yang digalakkan oleh pemerintah Nusa Tenggara Barat. Program prioritas Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah.

Melalui program industrialisasi ini, IKM didorong untuk terus berkreasi. Sejalan dengan peradaban di zaman industry 4.0 saat ini. NTB memiliki potensi yang cukup besar. Hasil kelautan perikanan, maupun hasil pertanian secara luas. Hasil tangkap perikanan misalnya. Selama ini cenderung nilai jualnya tak bisa didongkrak tinggi. Karena penyimpanannya tidak dibarengi dengan teknologi.

“Hasil tangkap nelayan kita selama ini tidak bisa bertahan lama. Hanya segar pagi hari. Kalau sudah sore, berpotensi busuk. Dan harganya pasti rendah. Persoalannya, tidak didukung oleh cold storage. Demikian juga IKM yang membuat hasil-hasil olahan dari ikan. Karena itu, kita turut mendukung pengembangan cold storage yang lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Pun sama halnya dengan hasil pertanian dan hortikultura. Sayur mayur atau daging potong sapi-sapi lokal. Tidak juga bisa bertahan lama, jika tidak disiapkan teknologi penyimpanan agar tetap segar.

“Kalau sudah ada mesin penyimpanan yang murah. Hasil hasil pertanian kita bisa dibuat segar. Kapan kapan bias dijual, harganya bisa tetap dijaga. Pengembangan cold storage ini nanti kita tawarkan ke OPD-OPD terkait. Dan kita harapkan bisa diproduksi massal. Rantai industrinya akan menjadi hidup,” demikian Nuryanti.(bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional