Harga Rendah, Petani Kedelai Kurang Bersemangat

H. Husnul Fauzi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Persoalan kedelai belakangan menjadi sorotan. Terutama terkait kenaikan tiba-tiba harga kedelai impor. Perajin tahu tempe yang paling merasakan dampaknya. Harga kedelai impor sampai Rp1 juta perkwintal. Perajin tahu tempe sudah tergantung dengan kedelai impor yang didatangkan dari Amerika Serikat karena keunggulan ukuran butir, kebersihan dan kesamaan warna.

Sementara kedelai lokal, meskipun dianggap memiliki citarasa yang lebih baik, namun dikeluhkan dari sisi kebersihannya, ukuran biji yang relatif kecil dan tidak bersih. Belum lagi ketersediaan pasokan yang tidak dapat dijamin. Oleh karena itulah, para perajin tahu tempe menambatkan pilihan utamanya pada kedelai impor. Meskipun kedelai lokal sebetulnya sangat diharapkan.

Lantas  bagaimana posisi sebenarnya kedelai lokal? Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M.Si menjelaskan, program pertanian di daerah adalah meneruskan program yang dari Kementerian Pertanian. Program yang sudah berjalan adalah Pajale (Padi, Jagung dan kedelai), namun prioritas adalah padi dan jagung. Harga kedelai dianggap masih rendah.

Meskipun Rp10.000 perkilo. Bahkan dengan harga Rp13.000 perkilopun, petani tetap bergeming. Jika dalam satu hektar, kedelai yang dihasilkan hanya 1,5 ton, maka sekali musim petani mendapatkan Rp18 juta. “Petani kalau tanam kedelai, itu yang cinta kedelai saja,” ujarnya. Dihitung-hitung, produktivitas kedelai hanya 1,3 ton perhektar, atau maksimal 1,5 ton. Jika harganya Rp7.000 perkilo di pasar, petani hanya mendapatkan Rp7 juta sampai Rp10 juta setiap panen. Bandingkan dengan penanaman padi dan jagung yang hasilnya jauh lebih tinggi.

Padi dapat menghasilkan 6 ton per hektar. Dikalikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp4.200 perkilo, hasilnya mencapai Rp24 juta hingga Rp26 juta per hektar. Demikian juga jagung, menggunakan HPP Rp3.100 perkilo, atau Rp4.000 perkilo. Dikalikan produksi perhektar sampai 7 ton, pendapatan petani mencapai Rp28 juta perhektar. Karena perbandingan pendapatan itulah, petani menjadi enggan menanam kedelai. Karena itu, tugas pemerintah adalah memfasilitasi petani menanam kedelai menggunakan bibit unggul, varietas yang direkomendasikan oleh Litbang bersama BPTP.

“Kita kolaborasi untuk menciptakan agar produksi kedelai tidak hanya 1,5 ton perhektar. Tetapi bisa mencapai 3 ton perhektar. Kalau 3 ton, dengan harga Rp8.000 perkilo misalnya, maka sehektar petani bisa mendapatkan sampai Rp24 juta. Bisa menyaingi komoditas lainnya,” kata Husnul. Kedelai memiliki masa kedaluwarsa yang lebih pendek dari jagung dan gabah, hanya 3 bulan. Ini juga menjadi masalah kata kepala dinas. Itulah mengapa realisasi tanam kedelai rendah, meskipun tahun lalu pencapaian tanamnya diatas 100 persen dari target.

“Sekarang ketersediaan air sudah bagus karena intensitas hujan naik. Kedelai biasanya ditanam di lahan tadah hujan. Kita dorong petani menanam dengan menggunakan bibit unggul agar sesuai hasilnya dari yang kita harapkan,” demikian Husnul. (bul)