Harga Minyak Goreng Belum Bisa Dikendalikan

Pengunjung di salah satu swalayan di Cakranegara memilih minyak goreng, Minggu, 28 November 2021. Harga minyak goreng melonjak drastis. Pemerintah hingga kini belum bisa mengintervensi. Kenaikan harga dipicu bahan baku minyak goreng digunakan untuk pembuatan bahan bakar minyak jenis bio solar. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Harga minyak goreng melonjak drastis. Namun hingga kini, pemerintah belum bisa melakukan pengendalian, meskipun mengklaim stok masih tersedia.

Pantauan Suara NTB, harga minyak curah di Pasar Mandalika mencapai Rp17.000/liter. Harga ini berbeda di Pasar Cemara, Kelurahan Monjok Timur mencapai Rp18.000/liter. Untuk minyak goreng kemasan dijual kisaran Rp17.500 – Rp18.5000.

Iklan

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Uun Pujianto dikonfirmasi akhir pekan kemarin mengklaim, stok minyak goreng baik curah maupun kemasan aman. Tetapi di tingkat produsen terkendala bahan baku. Bahan bakunya digunakan untuk kepentingan bahan bakar jenis bio solar. “Naiknya cuma sedikit dari tahun kemarin,” kata Uun.

Harga minyak goreng sebelumnya kisaran Rp12.000 – Rp13.000/liter. Di Pasar Mandalika sebut Uun, minyak curah dijual Rp17.000/liter. Adapun harga di pasar tradisional maupun di swalayan tidak diketahui pasti. Pihaknya berpatokan harga di pasar induk. “Kita patokannya di Pasar Induk Mandalika. Sebelumnya, minyak curah yang lebih tinggi. Sekarang minyak kemasan dan curah sama harganya,” sebutnya.

Untuk pengendalian harga tidak bisa dilakukan. Karena stok barang masih tersedia. Kecuali, terjadi penimbunan oleh distributor. Pihaknya bersama Satgas Pangan yang terdiri dari aparat kepolisian dan unsur lainnya akan mengambil tindakan. Risiko terjadinya inflasi bisa saja terjadi. “Makanya inflasi ini nanti kita pelajari. Kami akan berangkat ke Bali bersama Pak Wakil dan BI untuk studi banding masalah ini,” jelasnya.

Kenaikan harga minyak goreng sangat dirasakan dampaknya. Aulia, pedagang gorengan di Mataram harus memutar otak untuk tetap bertahan. Ia menyiasati dengan mengurangi ukuran gorengan. Jika tidak, risiko akan rugi. “Sempat sih pelanggan komplain. Tetapi mau gimana lagi, harga minyak kan mahal,” ujarnya.

Minyak kemasan biasa dibeli dengan harga Rp13.000/liter. Mahalnya harga sejak sebulan terakhir membuatnya terkejut. Dia mengharapkan pemerintah segera memberikan solusi, sehingga pedagang kecil seperti dirinya bisa bertahan di tengah kondisi pandemi. “Apalagi masih corona sepi pembeli. Kalau semua mahal bisa bangkrut,” cetusnya.

Keluhan sama juga disampaikan Ida. Ia juga tak menyangka harga minyak melonjak drastis. Dia harus mengurangi menggunakan minyak goreng untuk memasak. Jika tidak uang belanja bulanan akan terganggu. “Makanya ndak berani kita pakai minyak banyak – banyak kalau begini,” cetusnya. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional