Harga Kerapu Anjlok

Keramba Jaring Apung tempat budidaya ikan kerapu di Teluk Ekas Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lotim milik Syamsuddin Gahtan. (suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Harga ikan kerapu selama beberapa tahun terakhir ini masih belum stabil. Bahkan bisa dikatakan, harga kerapu di tingkat pembudidaya sanjlok. Hal ini akibat dari Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KKP) era Menteri Susi Pujiastuti yang sampai sekarang masih dirasakan para pembudidaya.

Permen KKP itu pun dinilai masih pahit oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha dan Pembudidaya Ikan Kerapu Indonesia, Syamsuddin Gahtan. “Jadi ada permen yang manis, ada permen yang pahit, jadi ini permennya pahit,” ungkap Gahtan saat ditemui di Selong, Selasa, 4 Februari 2020.

Iklan

Saat ini Permen Susi yang mulai diperbaiki oleh Menteri KKP Edy Prabowo dinilai sudah mulai memberi harapan. Harapannya ke depan ada perubahan untuk bisa mengembangkan komoditi ikan kerapu.

Pahitnya permen tersebut dirasakan oleh seluruh pembudidaya ikan  kerapu dari ujung timur sampai ujung barat. Dulu, ujarnya, pihaknya sangat menikmati ekspor kerapu, karena pembeli berduyun-duyun datang ke Indonesia, termasuk ke Lombok. Secara otomatis terjadi permintaan yang cukup banyak. Namun, sekarang, pembudidaya kerapu pun merasakan dampaknya sampai saat ini, apalagi setelah berlakunya moratorium pengiriman kapal yang mengangkut ikan hidup.

Hal ini, tambahnya, diperparah dengan penunjukan pelabuhan lokasi bongkar muat khusus ikan di masing-masing wilayah. NTB tidak kena lokasi, karena yang dipilih adalah Bali. ‘’Kondisi ini jelas makin membatasi ruang gerak pengusaha ikan kerapu,’’ ungkapnya.

Harga yang berlaku saat ini di Lombok Rp70 ribu per kilogram. Akan tetapi sampai di Bali harga dibayar Rp45 ribu. Bahkan saat ini kapal pengangkut ikan yang ada di Pelabuhan Bali ini sudah tidak ada lagi. Karenanya, pembudidaya ikan kerapu ini pun beralih menjadi pembudidaya lobster.

Sebelumnya, diketahui soal lobster ini pun sempat ribut karena adanya larangan dari menteri. Belakangan ada kebijakan melonggarkan aturan soal lobster, sehingga pembudidaya menganggap adanya perubahan positif dalam melakukan budidaya udang besar tersebut.

Lobster ini, katanya sudah dilakukan rekayasa teknologi. Tanpa harus belajar ke Vietnam, aktivitas budidaya yang dilakukan oleh pembudidaya Lombok ini sebutnya justru lagi viral dan dilirik oleh para pengusaha besar dari Vietnam. “Mudah-mudahan benih-benih lobter ini bisa dibudidayakan oleh pembudidaya Lombok,” harapnya.  (rus)