Harga Kedelai Meroket, Perajin Tahu Tempe Kurangi Produksi

Usaha produksi tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik Jaya. Tingginya harga bahan baku kedelai sejak pandemi Covid-19 mengancam keberlangsungan usaha tersebut. Terlebih operasional hotel dan restoran yang belum normal turut mengurangi jumlah permintaan pasar.(Suara NTB/bay)

Perajin tahu dan tempe di Kota Mataram terus mengurangi jumlah produksinya. Sejak virus corona (Covid-19) menyebar di NTB pada Maret 2020 lalu harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe terus melonjak naik.

Herdiana, salah seorang perajin tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik Jaya menuturkan, saat ini harga kedelai mencapai Rp950 ribu per 100 kilogram (Kg). Hal tersebut diakui cukup memberatkan. Terlebih dirinya tetap harus mempertahankan produksi meski bahan baku mahal.

“Karena kita tidak punya (sumber) pendapatan lain. Jadi mau tidak mau harus tetap produksi biar cuma sedikit-sedikit,” ujarnya kepada Suara NTB, Minggu, 3 Januari 2020. Dituturkan, kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi pada bahan baku kedelai. Melainkan untuk kayu bakar yang digunakan juga.

Dengan kondisi tersebut, dirinya juga telah mengurangi jumlah karyawan, yang sebelumnya berjumlah tiga orang menjadi dua orang. “Soalnya yang biasanya bisa buat sampai 80 papan, sekarang ini kita cuma buat 36 papan. Yang belanja juga sepi, tapi harga sama kualitas untuk tahu ini tidak boleh turun. Kalau kita turun semakin protes pelanggan itu malah enggak mau beli nanti,” jelasnya.

Untuk memproduksi 80 papan tahu tempe sendiri Herdina menghabiskan hingga 70 Kg kedelai per hari. Agar bisa tetap bertahan, dirinya berharap harga kedelai tersebut dapat segera turun. “Kita masih coba-coba. Siapa tahu bisa turun harga kedelainya nanti,” ujarnya.

Senada dengan Herdina, Sadam yang juga memiliki usaha pembuatan tahu tempe di Kekalik Jaya ikut mengurangi produksi karena tingginya harga bahan baku. Terlebih jumlah permintaan dari hotel-hotel yang menjadi langganannya juga berkurang.

Diterangkan, saat situasi normal tahu dan tempe buatannya akan dipasarkan ke Pasar Gunungsari untuk kemudian didistribusikan ke Tiga Gili (Trawangan, Meno, Air) di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Namun karena situasi di sektor pariwisata juga belum stabil, maka permintaan untuk tahu dan tempe ikut berkurang.

“Kalau hotel macet, ikut kita macet. Lagi ditambah sama harga kedelai (yang naik) ini,” ujarnya. Jumlah keuntungan per hari sendiri disebutnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Pokoknya kecil sekali untungnya sekarang ini,” sambungnya.

Sadam sempat melakukan mogok produksi selama empat hari karena tingginya harga bahan baku. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi jumlah pasokan kedelai sehingga permintaan di pasar diproyeksikan bisa meningkat.

Sayangnya mogok produksi sebagai bagian dari protes tingginya harga kedelai tersebut hanya diikuti oleh segelintir perajin tahu dan tempe. “Niatnya supaya susah nyari tahu dan tempet, tapi yang ikut setop produksi cuma sedikit. Sisanya semua masih produksi. Rencana mau demo biar turun harga, tapi ya tidak jadi,” tandas Sadam. (bay)