Harga Kedelai Mahal, Distributor Nakal Perlu Diwaspadai

H. Amran M. Amin. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke distributor kedelai di Mataram. Stok kedelai impor ternyata melimpah. Namun ketersedian bahan baku pembuatan tahu – tempe ini berbanding terbalik dengan harga di pasaran.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Amran M. Amin menyampaikan, Satgas pangan perlu mewaspadai distributor nakal yang mengatur harga serta distribusi. Masalahnya, hasil evaluasi dan monitoring terhadap stok kedelai impor di distributor masih aman. Tetapi harganya dikeluhkan oleh sebagian besar pengrajin tahu – tempe.

Iklan

Dengan kondisi geografis Kota Mataram bukan sebagai penghasil kedelai menjadi persoalan. Pelaku industri terutama di Kekalik dan Abian Tubuh menggantungkan hidup dari mengolah kedelai. “Hampir 50 persen warga Kekalik dan Abian Tubuh jadi perajin tahu – tempe,” kata Amran ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 7 Januari 2021.

Sementara, harga kedelai impor melonjak. Menurut Amran, wajar perajin merasa resah sehingga perlu dilakukan intervensi. Pengaturan harga bukan kewenangan dari Dinas Perdagangan. Pihaknya hanya memfasilitasi untuk mencarikan solusi dengan pihak terkait.

Kementerian Perdagangan bersama Kementerian Pertanian telah menggelar pertemuan dengan kelompok tani. Dari pertemuan itu disepakati bahwa harga kedelai impor dipatok Rp8.500/kg. Kebijakan ini diharapkan bisa cepat mengikuti di daerah. “Kita butuhkan kesepakatan bersama dan satgas pangan mengacu pada kesepakatan harga tadi itu untuk melakukan pengawasan,” tegasnya.

Kedelai impor dijual Rp10 ribu/kg. Biasanya perajin membeli Rp8 ribu/kg. Amran menegaskan, permainan di tingkat distributor ini perlu diwaspadai. Dia mendorong dilakukan penegakan hokum apabila ditemukan distributor nakal yang memainkan harga, sehingga menyulitkan perajin. “Kalau sudah ada ketetapan harga itu perlu dilakukan penekanan,” tegasnya.

Amran menyadari perajin tahu – tempe sangat bergantung dari kedelai impor. Selain ukuran lebih besar, tekstur serta kualitas yang terjamin dibandingkan kedelai lokal. Kendati demikian, pemerintah mendorong agar perajin juga mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor. Oleh karena itu, teknologi pertanian harus dikembangkan supaya hasil pertanian dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional