Harga Jagung Meroket, Penjualan Sepeda Motor Ikut Terdongkrak

Musim panen raya jagung tahun 2021 ini menjadi musim paling menguntungkan bagi petani. Dari sisi harga, dibanding sebelum-sebelumnya, harga jagung saat ini yang paling tinggi.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Musim panen raya jagung tahun 2021 ini menjadi musim paling menguntungkan bagi petani. Dari sisi harga, dibanding sebelum-sebelumnya, harga jagung saat ini yang paling tinggi. “Tertingginya bahkan sempat sampai Rp5.000 perkilo,” kata L. Wahidin, pemilik UD. Pengabdian, eksportir komoditas NTB.

Kepada Suara NTB, Lalu Wahidin menerangkan, petani jagung tengah memasuki masa-masa akhir panen raya. Harga jagung juga mulai melonggar. Saat ini menjadi Rp4.850 sekilo. Namun jauh lebih baik dibanding sebelum-sebelumnya bahkan harga jagung di bawah Rp3.000 perkilo. Menurut Lalu Wahidin, tingginya harga jagung ini disebabkan beberapa hal. Pertama, setelah mewabahnya Covid-19 di Indonesia, usaha-usaha banyak tutup. Bahkan hotel dan restoran. Pengusaha kemudian banyak banting setir menjadi peternak.

Iklan

Untuk kebutuhan pakan ternaknya. Bahan baku utama adalah jagung. Karena itulah, permintaan jagung melonjak naik. Selain itu, para peternak menurutnya tidak lagi hanya mengandal membeli pakan dari perusahaan-perusahaan besar peternakan. Misalnya, Charoen Phokpand. “Peternak ini langsung turun ke lapangan. Membeli jagung ke petani. Sehingga di lapangan terjadi persaingan harga,” ujarnya.

Disisi lain, tingginya harga jagung akibat kurangnya produksi petani. Disebabkan, tanah (lahan tanam jagung) sudah mulai jenuh. Karena ditanami jagung terus menerus. Mengakibatkan tanah menjadi keras. Tidak ada tanaman lain untuk tumpang sarinya. Kurangnya pohon sehingga tidak terjadi penggemburan tanah secara alami.

Lalu persoalan lainnya, lahan jagung menjadi jenuh karena pemupukan dengan pupuk-pupuk kimia. Petani tidak melakukan perimbangan dengan pupuk organik. Selain pupuk, ditambah lagi penyemprotan dengan kimia. Yang demikian juga mengakibatkan kerusakan lahan. “Hama tikus juga menyerang. Sehingga hasil produksi petani sangat kurang,” jelas Lalu Wahidin.

Lalu Wahidin adalah pelanggan perusahaan-perusahaan besar untuk memasok jagung. Ia juga eksportir jagung. Biasanya, sekali menyerap jagung sampai 8.000 ton. Kalau tidak diekspor, dikirim ke Surabaya. “Tapi musim panen ini saya baru dapat hanya 2.500 ton. Karena produksi di lapangan cukup kurang,” akunya. Di pihak lain, panen raya jagung ini juga turut mendorong penjualan kendaraan. Khususnya sepeda motor Honda.

Kresna Murti, dari Astra Motor NTB menyebut, beberapa dealer sepeda Motor Honda di Wilayah Pulau Sumbawa penjualannya cukup naik. Baik sebelum, maupun setelah lebaran. Relatif penjualan sepeda motor stabil. “Kondisional kemarin dibanding bulan sebelumnya, penjualan sepeda motor Honda naik sekitar 20 sampai 25 persen. Kalau di Pulau Lombok, kenaikan penjualan karena faktor lebaran,” demikian Kresna. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional