Harga Jagung Kembali Anjlok, Petani Minta Pemkab Sumbawa Barat Bersikap

Taliwang (Suara NTB) – Para petani jagung di Dusun Jelenga, Desa Goa, Kecamatan Jereweh, KSB kembali harus merugi setelah harga jagung anjlok ke angka Rp2.000 per kilogram untuk kualitas jagung dengan spesifikasi kering panen. Hal tersebut sangat disayangkan oleh para petani, karena nilai untuk produksi tidak bisa sebanding dengan hasil yang dicapai.

Kondisi ini kembali diperparah dengan minimnya sarana lantai jemur yang ada di wilayah tersebut, sehingga tidak ada alasan lagi bagi para petani untuk tidak menjual dengan harga tersebut.

Iklan

“Kami di Dusun Jelenga ada sekitar 400 hektar lahan yang ditanami jagung. Dari jumlah tersebut, luas lahan yang¬† sudah dipanen baru sekitar 55 persen saja. Tetapi karena kondisi harga yang anjlok dan sarana lantai jemur yang tidak maksimal, maka kami terpaksa menjualnya dengan harga yang murah. Kondisi ini juga terjadi sejak beberapa tahun lalu, tetapi belum ada solusi dari Pemerintah yang dianggap baik untuk meningkatkan nilai jual yang kami miliki saat ini,” ungkap Marhaban salah satu petani jagung di Jelenga kepada Suara NTB, Sabtu, 21 April 2018.

Dia mengatakan, saat ini para pembeli jagung yang datang dari luar daerah baik dari Surabaya maupun Lombok membeli jagung dengan kadar air (KA) 16 dan 17. Tetapi karena kondisi lantai jemur yang tidak maksimal dengan rasa sangat terpaksa jagung kering panen dengan KA 19 tetap dijual oleh para petani.

Kalaupun harus dijemur, para petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp1000 untuk memakai lantai jemur yang ada. Sehingga hasilnya tetap saja merugi, bahkan untuk kering panen dengan KA 16-17 yang dihargai Rp3.100 – Rp3.200 perkilogram. Untuk itu, pihaknya sangat berharap kepada Pemerintah untuk bisa menyiapkan lantai jemur, sehingga harga jagung tetap bisa normal dan para petani juga tidak merugi.

“Kami berharap Pemkab bisa memberikan solusi terbaik terkait masalah ini. Sehingga para petani tidak lagi merugi, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Ditambahkannya, masyarakat di dusun Jelenga sangat menggantungkan hidupnya dari hasil penjualan jagung. Karena rata-rata masyarat di dusun ini mayoritasnya adalah petani jagung. Jika kondisi harga jagung yang anjlok, maka anjlok juga perekonomian warga setempat. Selain jagung, tidak ada mata pencaharian lain bagi masyarakat setempat yang menjanjikan.

Kalaupun harus melakukan aktivitas nelayan, maka hasil yang didapatkan tidak bisa maksimal karena kondisi air laut yang tidak bersahabat. Sehingga tidak ada cara lain lagi menghidupkan ekonomi masyarakat selain dengan harga jual jagung yang sangat bersahabat.

“Kami (masyarakat) sangat menggantungkan hidup dari jagung jika harganya anjlok maka perekonomian kami juga akan lesu. Untuk itu kami berharap kepada Pemkab untuk mengambil sikap terkait malah ini,” harapnya.

Menanggapi masalah tersebut, Kabid Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan (DPPP) Syaiful Ulum SP mengatakan, apa yang menjadi harapan masyarakat tetap akan diupayakan bisa terealisasi. Bahkan pihaknya dalam waktu dekat akan turun lapangan untuk melakukan pengecekan terkait lokasi untuk lantai jemur tersebut dibangun. Bahkan ada tanah milik Pemkab yang disodorkan oleh petani jagung di wilayah setempat juga akan langsung dicek sekaligus menghitung kebutuhan anggaran yang dibutuhkan.

Hanya saja untuk APBD murni tahun ini (2018) tidak bisa dilaksanakan karena ploting anggaran sudah ditetapkan. Pihaknya akan tetap mengupayakan di APBD-P tahun 2018 untuk bisa direalisasikan. “Kita tetap akan selesaikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Hanya saja¬† kami juga berharap kepada masyarakat untuk bisa bersabar karena anggaran yang kita miliki sifatnya juga terbatas,” tandasnya. (ils)