Harga Jagung Anjlok, Petani Unjuk Rasa

Massa aksi APJ demo di depan Kantor Bupati Sumbawa terkait anjloknya harga jagung, Selasa, 16 Juni 2020.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Aliansi Petani Jagung (APJ) dari kecamatan Plampang menggelar unjuk rasa ke kantor Bupati Sumbawa, Selasa, 16 Juni 2020. Mereka mengeluh dengan anjloknya harga jagung. Sehingga mereka menuntut Pemkab dan DPRD membuat regulasi dan intervensi terkait harga jagung. Dengan meninjau kembali harga jagung di lapangan.

Perwakilan APJ berorasi mengecam harga jagung yang anjlok ditengah pandemi ini. Dikawal ketat aparat kepolisian, demo berjalan tertib. Bahkan Sat Pol PP juga sempat membagikan masker untuk digunakan oleh massa aksi yang belum menggunakannya. Mereka diterima oleh Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah yang didampingi pejabat dari Dinas Pertanian.

Iklan

Dalam pernyataan sikapnya, APJ dengan koordinator lapangan Muhammad Husnaini dan Jenderal Lapangan, Muhammad Sidik, menyatakan, ditengah wabah Covid, harga berbagai barang kebutuhan melonjak tinggi. Namun harga jagung malah anjlok. Kondisi petani yang sekarang dalam masa panen raya, sunggh memprihatinkan. Saat ini, klaim APJ, harga jagung dikisaran Rp2.950 hingga Rp3.000 per kilogram di lokasi dengan kadar air 19-20 persen. Sementara berdasarkan Permendag No. 58 tahun 2018, penentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebsar Rp3.150 per kilogram di tingkat petani dengan kadar air 15 persen.

Maka, APJ Kecamatan Pelampang mendesak Bupati Sumbawa agar melakukan intervensi harga terhadap produk produk yang dihasilkan petani. Dengan kebijakan harga pembelian pemerintah untuk komoditas jagung minimal Rp3.500 Per Kg agar petani bisa menutupi biaya produksinya untuk petani sejahtera. Tuntutannya, mendesak Dinas Pertanian segera mengoptimalkan harga pembelian di tingkat petani agar tidak terjadi monopoli harga. Kemudiian mendesak Pemkab membuat regulasi terhadap harga komoditas jagung di Sumbawa. Meminta DPRD meninjau kembali harga jagung di lapangan dan menaikkan harga jagung diangka minimal Rp3500 Per Kg dan maksimal Rp3.950 Per Kg.

Terhadap tuntutan ini,  Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah mengapresiasi aksi ini sekaligus ucapan terima kasih kepada massa aksi yang juga menerapkan protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker. “Kondisi yang dirasakan oleh petani saya juga merasakan sendiri. Kami juga sudah berusaha. Malahan kita dorong ekspor yang dilakukan ke Filipina beberapa waktu lalu, karena kondisi negara kita saat ini. Eskpor ini juga dalam rangka menaikkan harga jagung,” terangnya.

Menyangkut tuntutan untuk dibuatkan Perda, dari regulasinya, bukan hanya kewenangan dari Bupati. Tetapi melalui Pemkab dan DPRD.  Sehingga nantinya akan dibicarakan dengan DPRD. “Saya mendapatkan informasi,  HPP untuk jagung Rp3.150 perkilogram dengan kadar air 15 persen. Sedangkan untuk ekspor, di PT Seger Rp3.200 perkilogram.

Memang harga ini dibandingkan dengan tahun lalu jauh merosot.  Saya berjanji akan usahakan. Karena para petani ini juga masyarakat kami.  Namun tolong dimaklumi kondisi sekarang sedang terjadi covid.  Di Surabaya belum ada pabrik buka.  Ini juga menjadi salah satu kendala.  Tapi kami coba bersama memperjuangkan ini.  Insya allah kami akan coba koordinasi dengan DPRD untuk membahas masalah ini. Besok saya akan panggil semua pengusaha untuk bicarakan ini,”tandas H. Mo, panggilan akrab Wabup.

Sekretaris Dinas pertanian Kabupaten Sumbawa, Wayan Rusmaswati M.Si, menambahkan, HPP yang telah diatur, untuk jagung Rp 3.150 dengan kadar air  15 persen.  Jika terjadi penurunan harga kemungkinan masih tinggi kadar airnya.  Terkait permintaan adanya satu alat pengecek kadar air di kecamatan akan difasilitasi. “Saya sepakat kita harus buatkan surat edaran terkait harga sesuai HPP dari pusat,” pungkasnya. (arn/ind)