Harga Gabah Anjlok

Ilustrasi Gabah. (Sumber : Piqsels)

Mataram (Suara NTB) – Isu impor beras yang digulirkan oleh pemerintah pusat memicu anjloknya harga gabah. Petani terancam merugi. Pemerintah diminta bertanggungjawab dengan menyerap hasil panen untuk menstabilkan harga.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli menegaskan, anjloknya harga gabah gara – gara isu impor beras oleh pemerintah pusat. Momen itu dijadikan kesempatan oleh pengepul atau pengusaha beras untuk memainkan harga. Produksi melimpah saat panen justru tidak sebanding dengan biaya dikeluarkan petani. “Ini gara – gara isu impor beras itu,” kata Mutawalli dikonfirmasi, Senin, 5 April 2021.

Iklan

Pemerintah harus bertanggungjawab. Wacana impor beras sudah jadi isu nasional dan anjloknya harga gabah juga jadi permasalahan nasional.  Mutawalli mengatakan, Kementerian Perdagangan dan Badan Urusan Logistik sebelumnya memiliki pandangan berbeda dengan wacana itu. Bulog memandang impor beras tidak dibutuhkan karena stok beras sudah cukup, apalagi sudah mulai memasuki musim panen.

Saat ini, harga gabah kering di bawah Rp400 ribu/kw. Seharusnya sesuai standar harga Rp470 ribu/kw. Dia menyesalkan Kementerian Perdagangan tidak peka atau mengerti situasi dan kalah momen. “Sampai Pak Presiden membantah gara – gara ribut di Jabodetabek. Sekarang malah merembet kemana – mana,” ucapnya.

Kondisi seperti ini selalu dihadapi oleh petani ketika musim panen. Oleh karenanya, pemerintah harus memperhatikan dengan mengoptimalkan peran Bulog menyerap gabah petani. Meskipun belum terlalu efektif, tetapi minimal membantu mengcover harga. Solusi lainnya disampaikan Mutawalli adalah petani harus mengupayakan penggilingan atau menjadikannya beras. Karena harganya relatif bagus dibandingkan gabah. “Paling tidak digiling atau dijadikan beras supaya harganya lebih mahal,” ucapnya.

Di satu sisi, ia menyampaikan target produksi padi di Mataram di tahun 2021 mencapai 25 ribu ton. Target ini turun dari tahun sebelumnya 28 ribu ton. Namun demikian tidak dijelaskan alasan penurunan target produksi padi tersebut. “Yang menentukan target itu adalah pusat,” demikian kata dia. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional