Harga Eceran Naik, Petani di Lobar Menjerit Pupuk Bersubsidi Langka

Petani di Dusun Loang Balok Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong Tengah sedang menanam padi. Saat ini petani mengeluhkan kelangkaan pupuk subsidi. (Ekbis NTB/her)

Petani di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Akibatnya, tanaman padi tidak tumbuh dengan baik bahkan terancam gagal panen. Tidak saja kelangkaan pupuk yang mengakibatkan petani pusing, namun harga pupuk subsidi tahun 2021 Juga semakin memberatkan petani. Kenaikan harga pupuk ini terjadi pada hampir semua pupuk dengan rata-rata kenaikan Rp 300-450 per kilogram.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Lobar Mawardi tak menampik terjadinya kelangkaan pupuk subsidi di wilayah Lombok Barat. “Ini (limitnya-red) pupuk terjadi di seluruh daerah Lobar, termasuk Loteng juga. Semua. Mudahan awal Januari ini bisa turun. Karena stok semua sudah didistribusikan,”kata Mawardi, Minggu, 3 Januari 2021.

Terkait kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk diakui memang harganya sedikit naik. Berdasarkan, pasal 12 Permentan Nomor 49 tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi tahun 2021, terdapat kenaikan HET beberapa jenis pupuk bersubsidi tahun 2021. Diantaranya, pupuk jenis urea HET sebelumnya Rp1.800 per kilogram naik menjadi Rp2.500 per kilogram. Terdapat kenaikan sekitar Rp450. Pupuk Jenis SP-36,HET sebelumnya Rp2.000 naik menjadi Rp2.400. Terdapat kenaikan Rp 400.

Kemudian Jenis pupuk ZA mengalami kenaikan Rp300, dari harga sebelumnya Rp1.400 menjadi Rp1.700 per kilogram. Dan jenis pupuk organik granul, HET sebelumnya Rp500 per kilogram menjadi Rp 700 per kilogram. Terdapat kenaikan sekitar Rp300. Sedangkan jenis pupuk NPK tidak mengalami kenaikan harga.

Kelangkaan pupuk ini diikeluhkan oleh petani di Lobar. Seperti diungkapkan Ketua Gapoktan Embung Kedaro Desa Sekotong Tengah, Lalu Bambang Samudra belum lama ini.“Saat ini petani sedang membutuhkan pupuk untuk tanaman padi. Kami khawatir kalau tidak ada pupuk, terjadi gagal panen,” ujar dia.

 “Pupuk bersubsidi saat ini langka. Saya berharap ada langkah strategis yang diambil pihak terkait dalam mengatasi persoalan ini,“ lanjutnya saat dikonfirmasi.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Dusun Sekotong Dua, Lalu Budiadi menyebutkan jika saat ini padi tidak dipupuk, akan mengakibatkan pertumbuhan padi tidak maksimal.“Kami sangat berharap agar instansi terkait memperhatikan kebutuhan pupuk untuk para petani,“ harapnya.

Keluhan petani ditanggapi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sekotong Tengah, Ramli Haris, bahwa kelangkaan pupuk disebabkan oleh sistem distribusi. Karena terlambat akibat jadwal masa tanam yang tidak tepat. Kalau masa tanam pertama berkisar antara bulan Oktober-November atau ketika pertama kali turun hujan,“ ungkapnya. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here