Harga Dianggap Belum Berpihak, Petani Tembakau Terancam Merugi

Ilustrasi

Selong (Suara NTB) – Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Cabang Kabupaten Lombok Timur (Lotim) angkat bicara terkait belum berpihaknya harga tembakau dengan pembelian yang dilakukan oleh perusahaan. Kondisi ini bisa membuat petani tembakau terancam merugi.

Demikian ditegaskan Ketua Umum APTI Lotim, Lalu Sahabudin, kepada Suara NTB, Jumat, 27 Agustus 2021.

Iklan

Kendati demikian, Lalu Sahabudin berhadap supaya produksi tembakau petani tahun ini dapat terserap. Tidak ada tembakau petani khususnya di bawah naungan APTI Lotim yang berjumlah ribuan petani yang tersisa dari awal sampai akhir sebagaimana berkaca pada pengalaman yang tahun lalu.  “Namun dengan situasi saat ini, petani terancam merugi karena harga yang dianggap belum berpihak,” ungkapnya.

Keberpihakan harga itu sendiri, kata dia, idealnya tembakau petani dibeli seharga Rp47 ribu per kilogram untuk kualitas tembakau nomor satu kelas virginia. Untuk mewujudkan itu, Lalu Sahabudin meminta supaya Perda Nomor 4 tahun 2004 tentang Tembakau harus direvisi karena Perda tersebut dinilainya sudah kedaluwarsa.

Inilah yang diminta kepada DPRD Lotim untuk memberikan perhatian serius terhadap revisi Perda Pertembakauan supaya lebih berpihak kepada para petani. “Selama ini terdapat poin-poin dalam musyawarah harga belum jelas kewenangan untuk mengendalikan harga,”sebutnya.

Pasalnya saat ini penentuan harga lebih dominan ditentukan oleh pihak perusahaan, sementara hak petani untuk meminta yang bersahabat sangat kecil. Penentuan harga ini, dicontohkan Sahabudin ke depan harus seperti di Amerika Serikat dan Vietnam, di mana pembeli tembakau adalah pemerintah, bukan perusahaan, sehingga tidak ada perbedaan grade tembakau.   “Apabila sistem pembeliannya bisa seperti itu, maka petani makmur dan sejahtera,” tegasnya. (yon)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional