Harga Daging Sapi di Sumbawa Tembus Rp 120 Ribu Per Kg

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Harga beberapa bahan pokok (bapok) seperti daging sapi dan telur ayam ras di Sumbawa melambung tinggi. Dari pemantauan yang dilakukan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) di beberapa pasar, peningkatan harga ini terjadi sejak dua minggu yang lalu.

Kepala Diskoperindag Kabupaten Sumbawa, H. Arif, M.Si yang didampingi Kabid Perdagangan, Lang Rudi, SH membenarkan hal tersebut. Dijelaskannya, harga daging sapi di tingkat konsumen paling tinggi Rp 120 ribu perkilogram dari yang sebelumnya Rp 110 ribu perkilogram.

Iklan

Penyebabnya karena ada kenaikan harga di tingkat penjagal maupun dari tingkat produsen. Kenaikan juga terjadi pada telur ayam ras dari yang sebelumnya Rp 1.300 perbutir menjadi Rp 1.800 per putir. Peningkatan harga ini karena pasokan terbatas dari Bali.

“Kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Sementara untuk bahan pokok lainnya seperti beras, terigu, gula dan lainnya harganya masih relative stabil. Justru terjadi penurunan harga di kelompok sayur mayur seperti bawang merah, bawang putih, dan cabe rawit, karena stoknya melebihi cukup. Harga bahan pokok yang lain relatif stabil. yang mencolok hanya daging sapi dan telur ayam ras. Sementara sayur mayur mengalami penurunan untuk sementara ini,” ujarnya, Selasa, 22 Mei 2018.

Dijelaskannya, adanya kenaikan harga daging dan telur ayam ras ini sangat memberatkan di kalangan konsumen. Karena jumlah kebutuhan sangat meningkat hingga menjelang Idul Fitri. Terkait kenaikan harga ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Bahkan dalam waktu dekat pihaknya juga akan bekerjasama dengan Bulog Sumbawa dan toko swalayan berjejaring untuk menggelar operasi pasar di empat titik yakni di Kecamatan Utan, Moyo Hulu, Moyo Utara dan Kecamatan Lopok.

“Upaya-upaya yang kami lakukan melakukan koordinasi dan akan melakukan operasi pasar bekerjasama dengan Bulog dan took swalayan berjeraring,” terangnya.

Pihaknya menghimbau para pelaku usaha baik para pedagang, pengecer ataupun distributor agar menjaga kestabilan harga. Kemudian tidak melakukan penimbunan yang mengakibatkan terjadinya gejolak harga di pasar. Selain itu juga diminta untuk menjaga stok, menjamin distribusi lancar dan tepat waktu, tidak mengambil keuntungan secara sepihak yang dapat merugikan konsumen.

Karena jika pelaku usaha melakukan penimbunan atau spekulasi yang menimbulkan keuntungan di saat masyarakat membutuhkan bahan pokok akan dikenakan sangsi pidana. Yakni Pasal 107 undang-undang tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp 50 miliar. (ind)