Harga Daging Ayam Diduga Sengaja Dinaikkan Jelang Puasa

Mataram (Suara NTB) – Tim dari Dinas Perdagangan Provinsi NTB dan Polda NTB menggelar sidak ke simpul-simpul distribusi ayam broiler. Saat ini harga daging ayam di pasaran sudah menembus Rp 40.000/Kg. karena itu, bagian dari tim Satgas Pangan ini turun untuk memastikan di mana persoalannya.

Tim dikomandoi Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si, bersama beberapa jajaran Reskrimsus Polda NTB. Beberapa pemasok besar ayam broiler yang ada di Kota Mataram dan Lombok Barat didatangi. Sejak pukul 09.00 Wita, hingga siang tim ini mendatangi satu persatu pengusahanya.

Iklan

Sasaran pertama adalah gudang distribusi ayam broiler yang ada di Karang Rundun, Bertais. Disini, tim menemukan beberapa stok ayam broiler yang akan didistribusikan ke pasar. Tidak banyak informasi yang dapat dikorek dari sini. Yang ditemui menyebut bahwa mereka adalah mata rantai kedua yang tugasnya hanya mendistribusikan ke mata rantai berikutnya.

Dari sini, tim bergerak menuju Mayura, Cakranegara. Menemui pengelola Mitra Sinar Jaya (MSJ). Dari sini Hj. Selly dan tim mencecar manajemen MSJ, mengapa harga daging ayam tinggi di pasaran? Bagaimana mata rantai distribusinya. Dan sederet pertanyaan yang berkembang.

Jawaban yang diterima tim, diakui bahwa saat ini harga ayam memang sengaja dinaikkan. Persoalannya, stok ayam yang sudah mulai menipis. MSJ memberikan harga kepada mata rantai pemasar selanjutnya Rp 25.000/Kg. mengapa harga di pasaran mencapai Rp 40.000, karena mata rantai distribusinya yang memang agak panjang.

Dari perusahaan, stok ayam dikirim ke broker. Dari broker diterima langsung oleh pemotong. Dari pemotong lalu ke pedagang pasaran. Artinya, ada tiga mata rantai yang harus dilalui hingga ayam ini sampai di pasaran.

Saifulian Asmara Putra adalah salah satu dari tiga manajemen yang memberikan penjelasan. Mengapa harga dinaikkan saat ini? Menurutnya, dengan memberikan harga Rp 25.000 sejak beberapa hari terakhir, diharapkan harga jualnya di pasaran di kisaran Rp 37.000/Kg sampai Rp 39.000/Kg. jika harga daging ayam tinggi, maka permintaan masyarakat dapat direm.

“Sebentar lagi puasa. Kalau stok yang kurang ini los-losan dilepas di pasar. Dari mana kita datangkan stok saat permintaannya nanti tinggi (jelang dan saat puasa). Karena itu kita naikkan harga agar permintaan masyarakat bisa berkurang sementara ini,” jelasnya.

Menaikkan harga hingga Rp 25.000, menurutnya disesuaikan karena hukum pasar. Stok berkurang, permintaannya justru tinggi. Di NTB, menurut perhitungan pengusaha. Kebutuhan hariannya mencapai 50.000 ekor, atau setara dengan 100 ton. Sementara MSJ harus memasok 20.000 ekor sehari ke mitranya. Kekurangannya dari 30.000 ekor , ditutup oleh delapan pengusaha besar lainnya.

“Kami penuhi 20.000 ekor. Pengusaha-pengusaha lain, bahkan meminta pasokan lagi dari kita. Karena stok yang kurang,” jelasnya.

Di pemasok lainnya, PT. Ciomas di Gerimax, Narmada Lombok Barat, tim juga menjumpai jawaban yang sama. Bahwa, harga sengaja dinaikkan untuk mengendalikan permintaan pasar. Jika hal ini tak dilakukan, maka dikhawatirkan saat kebutuhan tinggi, stok mengalami krisis. Pola kerjasama masing-masing perusahaan sama saja. Demikian juga manajemen pengelolaan pasarnyapun sama. Artinya, pasar benar-benar dikendalikan para pengusaha ini.

Hj. Selly juga mengkritik perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki plang nama perusahaan di setiap kantornya. Ia juga meminta agar mata rantai distribusi barang dapat dikurangi oleh pengusaha. Terhadap beberapa informasi yang diterima ini, kepala dinas menyatakan akan melaporkannya langsung kepada Menteri Perdagangan dalam rakor akhir bulan ini.

“Bagaimana mata rantai distribusinya akan kita laporkan. Ini barang sengaja ditahan. Apakah ini termasuk penimbunan, akan kita laporkan juga. Kalau kondisinya kurang stok, kita akan minta DOC diperbanyak masuk NTB. Kalau sudah begitu harga masih tinggi, berarti memang pengusahanya yang bermain,” tegasnya.

Ketika harga daging ayam tinggi saat ini, pemerintah daerah tak bisa melakukan intervensi. Yang bisa dilakukan, hanya mengusulkan kepada pemerintah pusat agar diatur harga rendah dan harga tingginya melalui Harga Eceran Tertinggi (HET). (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here