Harga Cabai Rawit Meroket

Harga cabai di pasar tradisional di Kota Mataram mencapai Rp80 per Kg. Hasil produksi cabai yang berkurang akibat musim hujan menjadi alasan utama kenaikan harga.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Harga cabai rawit di Kota Mataram kembali meroket. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram mencatat harga cabai rawit lokal di enam pasar tradisional yang menjadi pantauan dapat mencapai Rp70 ribu per kilogram (Kg).

Kepala Bidang Pengendalian Bahan Pokok dan Penting (Gapokting) Disdag Kota Mataram, Sri Wahyunida, menerangkan kenaikan tersebut disebabkan puncak cuaca ekstrem yang terjadi di seluruh NTB. Sehingga panen cabai dari petani berkurang drastic.

Iklan

“Setelah kita pantau di enam pasar tradisional, kalau minggu pertama awal Januari kemarin masih di Rp50-55 ribu, minggu kedua sudah Rp60 ribu. Sekarang naiknya jadi Rp70 ribu Selasa (19/1) kemarin,” ujar Nida, sapaan akrabnya.

Mengikuti kenaikan harga tersebut, stok untuk cabai rawit juga berkurang drastis. Untuk itu pihaknya berkoordinasi dengan stakeholder terkait di tingkat provinsi untuk memastikan kecukupan stok cabai rawit di Kota Mataram.

“Kebetulan juga tadi ada informasi, kami juga koordinasi dengan provinsi sudah ada beberapa cabai dari Jawa yang masuk,” ujarnya. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan pengelola Pasar Induk Mandalika untuk memastikan pasokan cabai yang tersedia. Kendati demikian, pihaknya belum menerima laporan lebih lanjut terkait ketersediaan tersebut.

“Kemungkinan msaih di asosiasi petani cabai yang ada di Lombok Timur, karena masuk ke sana dulu. Baru kemudian didistribusikan ke Mataram,” jelas Nida. Untuk pengepul sendiri diprediksinya tidak akan mengambil stok cabai terlalu banyak. Mengingat harga cabai yang masih cukup tinggi, sedangkan cabai tidak bisa disimpan dalam waktu lama.

Hal tersebut perlu menjadi pertimbangan mengingat daya beli masyarakat yang mulai menurun kembali beberapa pekan terakhir. “Kalau sekarang permintaan berdasarkan hasil pantauan kita, daya beli masyarakat kembali kurang. Kalau kami kunjungan ke pasar itu sepi sekali tidak seperti kemarin-kemarin. Padahal sempat naik di awal tahun,” jelas Nida.

Selain kenaikan harga cabai rawit, pihaknya juga mencatat kenaikan untuk cabai merah besar. Di mana dari Rp35.000/kg menjadi Rp40.000/ Kg di pasar induk Mandalika. Sedangkan di pasar tradisional lainnya harga cabai merah besar berkisar antara Rp43 – Rp45 ribu.

Salah seorang pedagang cabai di Pasar Kebon Roek, Ramdani, menerangkan kenaikan harga cabai memang terjadi sejak memasuki musim hujan. Kendati tidak merugikan bagi pedagang, namun jumlah permintaan diakuinya menurun drastis.

“Harganya kalau yang sudah diputus (dibersihkan, Red) Rp80 ribu, kalau yang belum harganya Rp75 ribu per Kg,” ujarnya. Untuk stok cabai rawit juga disebutnya berkurang. “Musim hujan ini cabai rawit rusak semua. Kalau ada kiriman dari Jawa mungkin baru bisa murah,” sambungnya.

Diterangkan Ramdani, cabai rawit yang dijualnya adalah cabai lokal yang diambil langsung dari petani di Kecamatan Suralaga, Lombok Timur. Untuk menyiasati kebutuhan cabai, pembeli menurutnya banyak beralih menggunakan cabai kering.

“Pembeli ini bijak juga. Kalau yang (cabai) kering masih banyak, jadi pelanggan banyak juga yang beli itu. Kita memang tidak merasa rugi, karena sama-sama, tapi kalau pelanggan memang berkurang. Dari yang biasa beli 5 Kg jadi cum 3 Kg,” tandas Ramdani. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional