Harga Cabai Belum Stabil

H. Masyhur. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Lotim, H. Masyhur mengakui harga cabai saat ini belum bisa distabilkan. Lonjakan harga tahun ini dinilai paling lama dibandingkan pengalaman tahun sebelumnya. Panjangnya musim hujan dinilai menjadi pemicu utama harga cabai yang mahal ini bisa tertahan lama.

Menjawab Suara NTB, H. Masyhur mengatakan, mahalnya harga cabai ini tidak lepas dari distribusinya yang masih banyak ke luar daerah. “Cabai banyak menyeberang ke Jawa,” ungkapnya. Ia berkeyakinan, kalau hanya memenuhi kebutuhan lokal maka harga cabai di Lotim tidak akan semahal sekarang.

Iklan

Hasil pemantauannya di pasar rata-rata harganya saat ini Rp130-140 ribu perkilogram. Sebagai pusat cabai, Lotim semestinya tidak terlalu mahal. Akan tetapi karena faktor pemasaran cabai yang belum ada regulasi seperti pada beras, akibatnya, pangsa pasar cabai ini sulit dikendalikan.

Faktor lain juga karena faktor alamnya. Petani cabai di Lombok dan di Jawa rata-rata mengalami penurunan produksi. Bahkan banyak yang mengalami gagal panen. “Ini yang menjadi PR terbesar kita ke depan,” ucapnya.

Menurutnya pada tahun-tahun sebelumnya, harga cabai ini cepat sekali normal. Masyhur berkeyakinan, kalau cuaca sudah normal maka produksi cabai ini akan bisa normal kembali. “Kalau cuaca baik satu bulan saja, maka bisa membaik ,” ungkapnya.

Dituturkan pada tahun 2020 lalu, pemerintah memiliki program stabilisasi harga komoditi yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Salah satunya cabai. Para produsen cabai ini diberikan suntikan dana Rp100 juta sebagai subsidi.

Tahun 2021 ini harapannya kembali hadir program stabilisasi harga tersebut. Diyakinkan, kalau dihadirkan kembali maka akan cepat menyetabilkan harga. Tahun ini katanya  lebih banyak  kelompok diajak kerjasama. Harapanya, lebih banyak lagi kucuran dana dari pemerintah pusat untuk mempercepat stabililkan harga dan selamatkan ekonomi dari inflasi. (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional