Harga Beras Mulai Mengkhawatirkan

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB menyampaikan peringatan, angka inflasi mulai menunjukkan gejala yang tidak baik. Salah satunya, karena sumbangan harga beras yang mulai mengkhawatirkan dan berpotensi memicu pelemahan daya beli orang  miskin.

Hal ini disampaikan Kepala BPS Provinsi NTB, Endang Tri Wahyuningsih usai rilis resmi statistik di kantornya, Senin, 2 Oktober 2017 kemarin.

Iklan

“Padi-padian (beras), umbi-umbian dan hasilnya, mengalami inflasi 2,94. Sumbangannya terhadap total inflasi pada Bulan September 2017 sebesar 0,1639. Sumbangannya cukup tinggi, sudah mengkhawatirkan ini,” kata Endang.

Berdasarkan hasil pencatatan timnya di empat pasar besar di NTB, Bertais, Kebon Roek, dan Pagesangan, harga beras cenderung tingi. Inflasi yang disumbang oleh beras ini, menurutnya lebih dikarenakan informasi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diatur oleh Permendag terbaru, tidak sampai kepada pedagang-pedagang pasar tradisional.

“Kalau supermarket, iya, sudah memberlakukan HET. Tapi pedagang-pedagang beras di pasar tradisional tidak mendapatkan informasi itu,” imbuhnya.

Selain itu, saat ini sudah memasuki musim sub round III, dimana petani sudah mulai jarang menanam padi dan lebih cenderung menanam palawija. Karena itulah, pedagang nampaknya mulai terbatas mendapatkan stok.

Pada Bulan September 2017, Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi sebesar 0,04 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 128,18 pada bulan Agustus 2017 menjadi 128,23 pada bulan September 2017. Angka inflasi ini berada di bawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,13 persen.

Inflasi Nusa Tenggara Barat bulan September 2017 sebesar 0,04 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 4,1 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,68 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,21 persen; Kelompok Kesehatan sebesar 0,1 persen dan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,00 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 0,83 persen dan Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,76 persen.

Kenaikan inflasi, artinya terjadi kenaikan harga-harga. Tentu mengkhawatirkan bagi masyarakat dengan ekonomi lemah. Bahkan dapat memicu kemiskinan. Karena itu, BPS merekomendasikan untuk memperbanyak sosialisasi HET beras.

Dilain pihak, Perum Bulog Divre NTB menegaskan ketersediaan stok beras di NTB masih terjaga untuk memenuhi kebutuhan hingga April 2018 mendatang.

Gudang-gudang penyimpanan Bulog dari Pulau Lombok hingga pulau Sumbawa, masih dipenuhi stok. Kepala Perum Bulog Divre NTB, Achmad Ma`mun menyebut, karena masih tingginya cadangan pangan dalam daerah, Bulog pusat merekomendasikan pengiriman ke luar daerah.

Perum Bulog Divre NTB total telah melakukan pengiriman besar ke luar NTB sebanyak 21.100 ton. Dengan jumlah pengirim terbesar masing-masing 14.000 ton asal Sub Divre Sumbawa, 5.000 ton Sub Divre Bima, 2.100 ton asal Divre NTB. Dua provinsi yang dikirimi diantaranya, NTT 14.000 ton, Bali 7.100 ton. (bul)