Harga Bawang Merah Mulai Naik

Pedangang bawang merah di pasar induk Mandalika, Minggu (25/10). Harga bawang merah mulai naik, menyusul stok di tingkat petani mulai menipis.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Harga bawang merah di Kota Mataram mulai mengalami kenaikan. Terlebih dengan berakhirnya panen di Bima yang diperkirakan menyebabkan menipisnya stok bawang merah pada Desember hingga Januari mendatang.

Salah seorang pedagang bawang merah di Pasar Induk Mandalika, Zaenab, menerangkan harga jual bawang merah saat ini berkisar antara Rp28 ribu – Rp30 ribu/kg. “Naik harganya dari sebelumnya, bulan 9 (September) kemarin bisa turun harganya. Apalagi bulan 12 (Desember) sampai bulan 1 (Januari) itu biasanya tidak ada bawang,” ujarnya, Minggu, 25 Oktober 2020.

Iklan

Diterangkan, jika stok bawang merah lokal semakin menipis, maka harga jual diprediksi dapat mencapai Rp35 ribu– Rp50 ribu per Kg. Menurut Zaenab, kondisi tersebut sama seperti tahun lalu di mana harga jual menjadi cukup tinggi.

“Apalagi masuk bawang Jawa, harga bawang Bima bisa lebih mahal lagi. Kalau sekarang belum ada masuk bawang Jawa,” ujarnya. Kenaikan harga bawang merah sendiri disebutnya tidak berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, melainkan karena panen yang telah berakhir. “Sekarang orang (petani, Red) lagi nunggu musim tanam,” sambungnya.

Pedagang bawang merah lainnya, Nunung, menyebut harga jual bawang merah saat ini berkisar pada harga Rp28 ribu. Harga tersebut terbilang naik sejak satu bulan lalu. “Kalau persediaan masih biasa saja, tapi bulan 12 – 1 itu tidak ada bawang. Apalagi bulan 3 (Maret) juga tidak ada. Mungkin 12 (Desemeber) ini baru masuk bawang jawa,” ujarnya tentang pengalaman tahun-tahun sebelumnya.

Diterangkan, sebagian besar persediaan bawang merah di Kota Mataram memang berasal dari Bima. Namun jika suplai menurun akibat berhentinya musim panen, maka pedagang mengambil suplai bawang merah dari Pulau Jawa untuk menekan kenaikan harga.

Di sisi lain, menjelang hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini disebut Nunung tidak meningkatkan permintaan. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya permintaan untuk bumbu dasar cukup tinggi.

Hal tersebut menurutnya bagian dari dampak pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung sampai saat ini. “Sehari cuma bisa laku Rp300 ribu. Kalau tidak ada, ya, tidak ada. Karena corona juga sepi, tidak ada yang lewat sini. Biasanya ramai permintaan kalau maulid, tapi tahun ini sepi sekali,” tandas Nunung. (bay)