Harga Barang Mahal, Kemendag Ancam Cabut Izin Retail Modern

Mataram (Suara NTB) – Perwakilan dari Kementerian Perdagangan RI melakukan inspeksi ke retail-retail modern yang ada di Kota Mataram. Kegiatan dadakan ini dilakukan dalam rangka memastikan ketersediaan stok barang dan harga menjelang hari-hari besar keagamaan.

Diwakili langsung Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Jasa Kementerian Perdagangan RI, Lasminingsih dan rombongan, didampingi Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si dan jajaran dari Bidang Perdagangan Luar Negeri melakukan razia di Giant Gegutu, Monjok, Mataram.

Iklan

Lasmini dan Hj. Selly juga didampingi dari manajemen retail modern setempat memastikan ketersediaan beberapa kebutuhan utama, gula pasir, minyak goreng dan daging. Secara umum, dipastikan produk-produk yang dijual di retail modern ini aman dan berkualitas.

Hanya saja Lasmini meminta pihak manajemen untuk menyesauikan harga sesuai Harga Eceran tertinggi (HET). Rp 12.500/Kg untuk gula pasir, Rp 11.000/liter untuk minyak goreng dan Rp 80.000/Kg untuk daging beku.

“Kalau ada retail modern, apa saja yang menjual tiga kebutuhan itu di atas HET, laporkan kepada kami, tidak ada ampun. Cabut izin,” tegasnya.

Ia juga meminta daging beku yang dipatok dengan harga Rp 80.000/Kg disedikan lebih berkualitas. Sebab hasil temuannya, daging beku yang dihargakan Rp 80.000/Kg di Giant terbesar di NTB ini, kualitasnya tidak sesuai yang diharapkan.

“Saya sendiri komplain. Kalau ini saya foto, lalu saya kirim ke pak Menteri (Menteri Perdagangan). Tolong dijaga, you kasi barang bagus dengan harga Rp 80.000 ini. Karena kami sudah lihat di Bali dan Lampung, bagus-bagus di sana,” katanya sambil memperlihatkan daging beku yang dijual bukan daging berkualitas.

Beberapa orang dari pihak manajemen Giant Gegutu, Andy Taruna, Rio, Bustanun Najah menyatakan siap akan menindaklanjuti arahan tersebut. Lasminingsih, Hj. Selly dan rombongan kemudian mengecek harga barangnya langsung di sistem. Hal ini untuk memastikan harga barang yang dipajang, sesuai dengan harga untuk pembayaran di kasir.

Lasminingsih menjelaskan, ia ditugaskan langsung oleh Menteri Perdagangan untuk memantau Giant, terhadap pelaksanakaan MoU yang telah dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) dengan para Peritel, khusus untuk pelaksanakan HET tiga komoditi, minyak goreng, gula pasir dan daging beku seperti yang dimaksud di awal. HET ini berlaku sejak 10 April 2017, hingga September tahun ini.

“Kalau menjual di atas HET retail modern, entah apakah dia supermarket, toko, sanksinya ditutup tidak tanggung tanggung. Karena ini adalah kesempatan untuk berbagai dengan masyarakat. Apapun yang dilihat di sini akan dilaporkan langsung ke pak Menteri. Konsumen kalau menemukan harga di atas HET laporkan ke kami melalui Dinas Perdagangan di daerah,” imbaunya.

Sementara Hj. Selly menegaskan masyarakat atau konsumen tak perlu panik, walaupun kita akan menghadapi moment-moment besar keagamaan. Kepanikan konsumen yang ditandai dengan kekhawatiran akan kurangnya barang, akan mengakibatkan pembelian barang tidak terkontrol. Tentu menyenangkan bagi pengusaha, lalu menaikkan harga barang.

“Jangan khawatir, stok barang aman, dan harga tetap stabil. Semua kita harus memantau retail modern, jangan sampai menjual barang di atas HET. Kami akan tetap pantau dan akan laporkan,” demikian Hj. Selly. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here