Hampir Seluruh Air Permukaan di Mataram Tercemar

Kabid Sarpars Bappeda Kota Mataram Lalu Satria Utama saat rapat bersama Pansus SPALD DPRD Kota Mataram mengungkapkan bahwa hampir seluruh air permukaan di Kota Mataram tercemar bakteri.(Suara NTB/fit)

Mataram (Suara NTB) – Rapat Pansus SPALD (Sistem Pengolahan Air Limbah Daerah) DPRD Kota Mataram dengan OPD dan Tim ahli dari Universitas Mataram, Senin, 24 Mei 2021 menguak fakta mengejutkan. Kasubbid Sarpras Bappeda Kota Mataram, Lalu Satria Utama mengungkapkan bahwa hampir seluruh air permukaan atau badan air di Kota Mataram tercemar bakteri.

Bahkan, pencemaran di sungai-sungai yang ada di Mataram, melebihi ambang batas. ‘’Ya ini kembali karena adanya faktor BABS (Buang Air Besar Sembarangan) menjadi penyumbang terbesar,’’ sebutnya. Termasuk, sumur-sumur yang ada di Kota Mataram berdasarkan hasil laboratorium Dinas Kesehatan, mengalami pencemaran.

Iklan

Dikatakan Satria, untuk daerah perkotaan tidak diperbolehkan adanya akses dasar. Seperti BABS di sungai atau badan air. Termasuk salah satunya cubruk yang hanya ditutup tanpa ada saluran pembuangan. ‘’Termasuklah yang dikatakan BABS ini yang punya WC tapi langsung membuang ke kali dengan pipa. Itu termasuk tidak boleh wilayah perkotaan,’’ terangnya di hadapan pansus.

Sedangkan di Kota Mataram sendiri masih ada aktivitas BABS maupun cubruk. ‘’Persentasenya sekitar lima persen dari jumlah penduduk Kota Mataram,’’ sebutnya. Persentase ini, lanjut Satria, masih cukup tinggi untuk ukuran perkotaan. Belum lagi berbicara akses aman. Aman berdasarkan standar nasional 20 persen limbah harus disedot.

‘’Dua tiga tahun sekali septic tank itu harus disedot. Ini Mataram belum. Dibawah 5 persen juga untuk melaksanakan penyedotan,’’ katanya. Satria mengatakan rumah tangga yang layak adalah yang memiliki septic tank standar. ‘’Kalau masyarakat dulu membuat septic tank hanya menggunakan gumbleng. Belum tentu itu berstandar. Sehingga akan ada rembesan,’’ katanya.

Akibatnya, hampir seluruh air permukaan atau badan air di Kota Mataram tercemar. ‘’Ini hasil laboratorium dari teman-teman (Dikes, red) beberapa wilayah yang berada di sungai ini, pencemarannya melebihi ambang batas,’’ katanya. Pada bagian lain, Satria mengatakan bahwa pada tahun 2018 Kota Mataram mengusulkan hibah untuk pengolahan limbah domestik.

Dari 500 pengolahan limbah domestik yang diusulkan, justru sebagian besar mendapat penolakan dari masyarakat. ‘’Faktor pertama tidak memiliki lahan untuk septic tank. Apalagi yang sifatnya komunal. Baik yang sifatnya septic tank komunal maupun Ipal komunal,’’ demikian Satria. (fit)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional