Hadapi Revolusi Industri 4.0, Mahasiswa Seni Rupa Punya Tantangan Berat

Pameran karya tulis mata kuliah sketsa mahasiswa Prodi Seni Rupa di jalan Udayana beberapa waktu lalu sebelum ada wabah covid 19. (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Revolusi Industri 4.0 menjadi era cukup berat, terutama bagi mahasiswa seni rupa. Pasalnya, pemahaman berkesenian selama ini ialah bahwa seniman seni rupa hanya lahir di atas kanvas kertas. Padahal sejatinya tidak demikian. Seni rupa bisa hadir dalam ruang apapun dan dimana pun.

‘’Pun demikian saat dunia bersiap menghadapi era revolusi industri 4.0 memberikan peluang dan tantangan bagi setiap orang. Mereka yang berhasil memanfaatkan kemampuannya secara optimal yang akan menjadi pemenangnya,’’ ujar R. Fanni Printi Ardi, Dosen Prodi Seni Rupa Fakultas Budaya dan Manajemen Bisnis Universitas Mandalika Mataram, Kamis, 9 Juli 2020.

Iklan

Menurutnya, era revolusi industri merupakan era semua aspek yang secara keseluruhannya difungsikan menggunakan sistem otomasi mesin. Sedangkan di satu sisi, seni rupa selalu diidentikkan dengan kanvas kertas, sehingga dua aspek ini selalu memunculkan pertanyaan di mana posisi seni rupa dalam era revolusi industri 4.0.

Diakuinya revolusi industri memiliki perubahan yang sangat cepat, sehingga kita tidak tahu kapan orang bisa belajar dalam situasi yang serba sangat cepat ini. Selain serba cepat, era ini pula menghadirkan kondisi yang serba tidak pasti.

Sementara di satu sisi era ini telah melahirkan adanya perubahan nilai atau value terhadap perspektif ekonomi dari sebuah produk. Tentu saja hal demikian dipengaruhi oleh faktor yang cukup kompleks. Faktor yang mempengaruhi terhadap sebuah variabel sangat banyak.

“Begitu juga seni rupa kalau cuma kondisinya melukis. Kan targetnya bisa diapresiasi sama orang syukurlah kalau ada orang yang mau membeli. Orang yang bisa menggambar hiperreality sangat banyak. Tapi di era industri bukan aspek itu saja yang membuatnya bisa bertahan. Sekarang ada teknologi, sosial media,” ujarnya.

  Banyak Kuota di Jalur Prestasi dan Afirmasi Tidak Terisi

Sehingga kata dia variabelnya bukan cuma karya seni tapi butuh banyak variabel yang mempengaruhi. Sehingga yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Mengingat era ini juga memunculkan ambiguitas di mana orang punya kemampuan pas-pasan namun bisa diterima dan viral di tengah masyarakat.

“Di era ini sangat banyak. Punya kemampuan pas pasan tapi bisa viral. Bagaimana kita bisa berkolaborasi? Jadi untuk membuat sebuah karya seni rupa di era ini, perlu kolaborasi,” terangnya.

Memiliki perspektif demikian di era revolusi industri ini sangat relevan. Mahasiswa seni rupa atau seniman tidak boleh menutup mata dengan kehadiran teknologi. Terlebih roadmap revolusi industri Indonesia ada di industri makanan, minuman, pakaian, kimia, elektronik. “Bisa nggak berperan aktif disitu, bisa nggak teman teman seni rupa berperan di industri makanan, industri pakaian. Yang bisa memberikan value yang lebih terhadap revolusi industri adalah teman teman seniman,” jelasnya.

“Kami punya tanggung jawab pada orang tua yang menitipkan anaknya untuk sekolah yang kemudian harus keluar harus bisa diaplikasikan di dunia nyata di era ini. Jadi kalau jadi seniman itu bonus tapi setelah keluar dari sekolah seniman menghadapi era revolusi industri,” bebernya.

Selain mempunyai kemampuan dalam bidang seni rupa, mahasiswa ke depan harus pula punya kemampuan yang dibutuhkan di era ini. Bahkan skill tersebut tidak dapat digantikan oleh kehadiran mesin sekalipun. Di antaranya skill tersebut ialah miliki kemampuan sebagai problem solving, critical thinking, creativity, managing people, service orientation, negotiation, cognitive flexibility.

“Ini adalah skill yang tidak bisa digantikan dengan otomasi mesin, artificial intelegence. Mahasiswa supaya setelah lulus tidak hanya bisa memamerkan ijazahnya saja tapi bisa mengaplikasikan kemampuan seni rupanya. Mau nggak kita berperan aktif memberikan nilai value lebih terhadap produk baik pangan sosial dengan keilmuan yang kita miliki,” ungkapnya. (dys)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here