Habiskan Anggaran Rp1,1 Miliar, Pabrik Pengolahan Rumput Laut yang Mangkrak

Pabrik pengolahan rumput laut di kawasan STIPark NTB yang mangkrak dan terbengkalai. Kondisi bangunan terlihat kumuh dan tak terurus. (Suara NTB/nas)

Giri Menang (Suara NTB) – Pabrik pengolahan rumput laut menjadi kosmetik di kawasan Science Technology and Industrial Park (STIPark) yang mangkrak atau tak dimanfaatkan mendapatkan sorotan dari masyarakat. Proyek yang dibangun dengan dana sebesar Rp1,174 miliar dari APBD NTB tahun anggaran 2015 tersebut mubazir karena hanya membuang-buang anggaran saja.

Pabrik pengolahan rumput laut untuk menjadi kosmetik tersebut berada di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Salah seorang warga Kediri, Amar menyayangkan mangkraknya pabrik pengolahan rumput laut tersebut.

Iklan

‘’Sebagai warga Lombok Barat yang satu wilayah dengan kawasan STIPark, itu hanya membuang-buang anggaran karena tidak dimanfaatkan. Bangunan menjadi mubazir, seharusnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat,’’ ujar Amar kepada Suara NTB, Selasa, 29 Juni 2021.

Anggaran miliaran rupiah yang digelontorkan dari uang rakyat menjadi sia-sia. Menurutnya, percuma Pemda membangun pabrik yang megah, jika tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terbengkalai.

Menurutnya, jika pabrik pengolahan rumput laut menjadi kosmetik tersebut dapat dioperasikan, maka akan dapat membuka lapangan kerja bagi mayarakat sekitar. Selain itu, rumput laut yang dibudidayakan nelayan di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa akan terserap di pasar.

“Bangunannya saja megah tapi tak dimanfaatkan. Kalau itu beroperasi maka hasil produksi rumput laut petani bisa terbeli. Harapan kita dioperasikan dan menyerap tenaga kerja,” harapnya.

Proyek tersebut dianggarkan pada 2015 dengan pagu Rp1,389 miliar lebih. Dalam proses tender, diikuti oleh 65 peserta dan dimenangkan oleh oleh Pasak Inti Nusa dengan harga penawaran Rp1,174 miliar.

Pabrik pengolahan rumput laut menjadi kosmetik itu berkapasitas satu ton per hari. Dengan adanya pabrik tersebut, harapannya berbagai produk kosmetik berbahan baku rumput laut yang dihasilkan akan dipasarkan di dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan hotel-hotel di NTB.

Dalam pengoperasian pabrik kosmetik berbahan baku rumput laut tersebut awalnya Pemprov bekerja sama dengan  CV. Ocean Fresh. Ocean Fresh merupakan perusahaan yang memproduksi berbagai ekstrak bahan alam laut/pesisir yang digunakan sebagai bahan aktif dalam produk kosmetik dan pangan kesehatan.

Produk kosmetik yang dikembangkan mulai dari perawatan rambut, perawatan wajah, hingga perawatan tubuh. Pembangunan pabrik kosmetik ini juga merupakan tindak lajut dari diskusi dengan pihak Pemprov NTB yang menginginkan adanya nilai tambah bagi masyarakat, khususnya di daerah pesisir.

Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, Muslim, S.T., M.Si., yang dikonfirmasi Suara NTB mengenai mangkraknya pabrik tersebut. Muslim mengatakan, butuh investasi yang besar jika mengaktifkan lagi pabrik pengolahan rumput laut tersebut. Ia mengatakan bahwa memang pabrik pengolahan rumput laut tersebut tak berjalan, sehingga pernah digunakan menjadi kantor STIPark NTB.

‘’Beberapa terkait dengan bangunan dan alat yang sudah lama tidak digunakan. Jadi butuh investasi kalau itu diaktifkan kembali,’’ kata Muslim.

Pengoperasian kembali pabrik pengolahan rumput tersebut tidak masuk dalam rencana industrialisasi sektor kelautan dan perikanan. Dalam jangka pandek, kata Muslim, DKP fokus pada arah RPJMD NTB 2019 – 2023 terkait dengan industrialisasi sektor kelautan dan perikanan.

Di mana, arah RPJMD terkait industrialisasi sektor kelautan kita terkait dengan industri garam, industrialisasi pengembangan udang vaname dan lobster. ‘’Aset itu satu paket dalam kawasan STIP. Jadi, nanti masuk dalam bagian perencanaan, masterplannya STIP. Kalaupun nanti dikembangkan industrialisasi rumput laut di sana, menjadi satu bagian dalam masterplan kawasan itu,’’ terangnya.

Saat ini sudah berdiri pabrik pakan mini dan corn dryer di STIP NTB. Ke depannya, pabrik pakan tersebut diharapkan dapat diaktifkan. ‘’Cuma, sekali lagi perlu analisa yang cukup dalam, cukup teknis. Kemudian, terkait dengan kemudahan investasi bagi para investor, dunia usaha,’’ katanya.

Mantan Kepala Bidang Ekonomi Bappeda NTB ini menambahkan pabrik pengolahan rumput laut tersebut perlu masuk dalam masterplan pengembangan STIP NTB secara menyeluruh. Disinggung mengenai tidak berjalannya pengoperasian pabrik pengolahan rumput laut tersebut, Muslim mengatakan akibat investor yang tidak memiliki modal.

Dari sisi perizinan dan segalam macam, katanya, Pemda sudah memfasilitasi. ‘’Tapi ternyata mereka tak punya uang juga,’’ katanya.

Dari sisi bahan baku rumput laut, kata Muslim,  tidak menjadi masalah. Karena NTB termasuk daerah penyangga pemasok rumput laut di Indonesia. Seperti di Waworada Teluk Bima, potensi rumput laut paling besar dan tak pernah berhenti produksinya.

‘’Di sana ada pengusaha dari Surabaya antre. Kemudian dikirim ke NTT, Makassar. Demikian juga di Sumbawa, Lombok. Bahan baku ada, yang perlu itu rantai pasok saja dan berbicara tentang manajemennya saja,’’ ujarnya. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional