Habiskan Anggaran Rp 1,3 Miliar, Pabrik Pupuk di Poto Tano Rusak Berat

Taliwang (Suara NTB) – Keberadaan pabrik pupuk organik desa Poto Tano, Kecamatan Poto Tano hingga kini masih belum ada kejelasan. Pabrik yang pembangunannya menghabiskan dana APBN sekitar Rp1,3 miliar tersebut belum bisa digunakan sejak awal pembangunannya karena rusak. Pemerintah Kabupaten juga sempat menggelontorkan anggaran sekitar Rp1,1 miliar dari APBD tahun 2012, tetapi hasilnya masih nihil dan bangunannya juga tetap mangkrak.

Pantauan Suara NTB menggambarkan, saat ini kondisi atap bangunan tersebut sudah mulai terlihat ambruk. Selain atap gedung, rumput liar juga terlihat tumbuh dengan subur di lokasi gedung tersebut. Hal ini mengindikasikan tidak adanya aktifitas pemeliharaan yang dilakukan di gedung miliaran rupiah tersebut.

Iklan

Akses menuju ke bangunan ini juga sangat sulit dan beberapa, ruas jalan yang terbangun juga sangat tidak layak. Bahkan informasinya di tahun ini (2018) gedung tersebut kembali akan mendapatkan kucuran anggaran dari APBN sekitar Rp650 juta dan APBD di tahun 2019 sekitar Rp500 juta.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan UMKM (Diskoperindag) Ir. Amin Sudiono MM, kepada Suara NTB belum lama ini, tidak menampik kondisi terkini dari bangunan gedung tersebut. Hanya saja sampai dengan saat ini pihaknya masih kesulitan untuk malakukan intervensi anggaran.

Hal tersebut terjadi karena bangunan dan aset yang berada di gedung tersebut belum dihibahkan ke Pemerintah Kabupaten. Meskipun ada informasi terkait rencana perbaikan alat di gedung tersebut, tetapi hingga kini masih belum ada kejelasan. Sehingga pihaknya mengindikasikan bangunan ini masih akan mangkrak hingga tahun 2019 mendatang.

“Kita sudah dijanjikan di tahun 2019 gedung tersebut akan mendapatkan anggaran sekitar Rp650 juta tetapi hingga saat ini belum bisa finalkan,” ungkapnya.

Dikatakannya, dengan anggaran yang dijanjikan tersebut (Rp650 juta) pihak terkait sangat berharap gedung ini bisa beroperasi. Karena hasil pertemuan terakhir, bahwa tidak hanya perbaikan terhadap gedung tersebut, melainkan pelatihan terhadap pengelolaanya juga akan dilakukan. Sehingga ketika pabrik ini benar-benar beroperasi membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Sementara untuk sarana penunjang lainnya berupa truk pengangkut bahan baku, pihak terkait juga akan mencoba mengusulkan di APBD tahun 2019. Hal ini dilakukan supaya pabrik ini benar- benar bisa beroperasi dengan baik dan lancar. Bahkan anggaran yang akan disiapkan nanti ditaksir sekitar Rp500 juta.

“Hal yang paling utama adalah pabrik ini bisa beroperasi dulu dengan baik karena itu tanggung jawab dari Kementerian terkait. Jika sudah bisa beroperasi dengan baik baru kita akan maksimalkan lagi,” tukasnya.

Ia menambahkan, dengan beroperasinya pabrik ini, maka ketersediaan pupuk di KSB akan tercukupi dengan baik. Belum lagi ketersediaan pupuk organik dianggap masih langkah, sehingga masyarakat lebih memilih pupuk non organik.

Jika pabrik ini bisa beroperasi dengan maksimal, mimpi besar daerah ini bisa menjadi lokasi produksi pupuk organik terbesar di NTB. Tetapi karena masih belum beroperasi secara maksimal, minimal bisa difungsikan lebih dulu itu jauh lebih baik daripada tetap mangkrak seperti sekarang ini.

“Kita punya mimpi besar dengan Pabrik pupuk yang ada saat ini. Tetapi untuk sementara ini kita minta bisa jalan dulu itu lebih baik daripada menjadi bangunan mangkrak,” tandasnya. (ils)