Habib, Anak Yatim Berusia 12 Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga

Khairil Habib (kiri) seorang anak yatim di Dusun Tongkek Kuripan bersama neneknya.

Giri Menang (Suara NTB) – Kisah inspiratif datang dari seorang anak bernama Khaeril Habib (12 tahun) asal Dusun Tongkek, Desa Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Anak yang berstatus yatim ini harus memikul beban berat sejak usianya masih kanak-kanak. Habib, sapaan akrab anak dari pasangan Fitriani dan Suhaili (almarhum) menjadi tulang punggung keluarganya.

Ia menjadi anak yatim setelah bapaknya meninggal dunia ketika ia berusia 9-10 tahun, atau duduk di kelas II sekolah dasar. Ia pun tinggal dan dibesarkan oleh sang ibu dan neneknya. Siswa kelas VI SD 1 Kuripan ini pun rela banting tulang, berjualan buah hingga mengumpulkan plastik dan kardus bekas. Dari upah jualan buah dan menjual barang bekas ia berhasil mengumpulkan uang sebanyak lebih dari Rp8 juta.

Iklan

Ditemui di rumahnya, pada Sabtu, 11 Juli 2020, anak yang bertubuh gempal ini sedang duduk di berugak bersama neneknya Marean (50). Neneknya ini pernah dioperasi di Rumah Sakit (RS) Sanglah Denpasar, Bali, karena mengidap kanker pada bagian hidung tahun 2017 silam.

Habib menuturkan, ia mulai berjualan sejak duduk di bangku kelas II SD. Di saat sebelum Pandemi Covid-19 melanda, hampir setiap hari ia keluar berjualan buah nanas dan kacang di perempatan jalan raya di wilayah Lobar dan Mataram. “Saya sudah jualan sejak masih kelas II SD, karena bapak saya meninggal sejak saya kelas dua SD. Saya pun tinggal di rumah nenek bersama ibu saya,” tutur dia.

Di tengah menempuh pendidikan di SD, Habib berupaya mengatur waktu bermain dan berjualan. Pagi sampai siang hari ia pergi ke sekolah, sepulang sekolah ia sempatkan bermain sebentar, barulah pergi berjualan. Ia berangkat memikul barang jualan sekitar pukul 13.00 dan pulang pada sore bahkan malam hari.

  Seorang Ayah Diduga Setubuhi Anak Kandungnya

Ia berjualan ke jalan raya yang padat kendaraan, seperti simpang lima di daerah Gerung, Sayang-Sayang, Selagalas, dan daerah Gebang. Kalau barang jualan tidak habis terjual, ia pun terpaksa membawanya pulang lagi. Barang yang dijual pun diambil dari orang yang disebut Bos. Dalam sehari, ia memperoleh hasil jualan Rp150-250 ribu. Terkadang di bawah itu. Dari hasil jualan itu ia mendapatkan bagian atau upah Rp30-50 ribu.

Upah hasil jualan ini pun dibagi tiga, yakni diberikan ke ibunya dan neneknya untuk membeli beras. Sebagian disisihkan untuk menabung. Kalau upahnya Rp50 ribu, masing-masing diberikan ke ibu sebesar Rp10 ribu, neneknya Rp10 ribu, dan sisanya Rp30 ribu ditabung. Hasil tabungan yang terkumpul sejak ia jualan mulai kelas II sampai saat ini lumayan banyak, mencapai Rp 8 juta.

Namun yang tersisa saat ini Rp5 juta karena Rp3 juta sudah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan membeli pakaian. Dari hasil jualan ini pun, ia bisa membiayai kebutuhan sekolah dan sehari-harinya. Rencananya uang Rp5 juta hasil tabungannya akan dipakai untuk melanjutkan sekolah ke MTs Darul Hasanah Kuripan.

Selama berjualan, ia pernah diejek, tapi Habib tak menghiraukan. Ia juga pernah terkena razia oleh Dinas Sosial Provinsi NTB. Ia dibawa ke kantor, lalu dipulangkan. Anak yang bercita-cita sebagai dokter ini memiliki harapan besar agar mampu mengumpulkan uang banyak untuk melanjutkan pendidikan. “Saya inginmenjadi tahfiz dan dokter,” aku dia.

Ia mengaku kalau dia mendapatkan bantuan PKH dari pemerintah. Bantuan ini dirasakan cukup membantu, hanya saja belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dia tidak pergi jualan, maka ibunya yang mencari uang menjadi buruh. Penghasilannya tidak seberapa, sekadar untuk bisa makan. Ia sendiri pernah ditinggal oleh ibunya selama kurang lebih dua tahun karena berangkat ke luar negeri sebagai TKW. Waktu itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK), ibunya pergi merantau untuk mencari uang. Ibunya baru pulang pada saat ia kelas II SD. Hasil jerih payah ibunya, mampu untuk membangun rumah.

  Cerita Pilu Inaq Senep Korban Banjir di Sekotong Timur

Bagi Habib, bekerja membantu sang ibu dan nenek adalah sebuah kewajiban. Meskipun disadarinya memang belum saatnya ia berkerja berat. Namun ia ikhlas menjalani itu, karena ingin membantu ibunya yang hanya bekerja sebagai buruh. Dari hasil kerjanya tidak cukup untuk makan sehari-hari. Ia mengaku tidak malu berjualan buah karena halal. Saat Pandemi inipun ia tetap keluar jualan namun ia membatasi waktu karena khawatir Corona.

Ia bisa meluangkan waktu lebih lama bermain, karena setelah salat Zuhur baru berangkat jualan. Selain berjualan buah ia juga membantu neneknya memulung. Sepulang menjual buah, ia menyempatkan diri mencari plastik dan kardus bekas untuk penanganan dibawa pulang. Ia mengaku ditengah kesibukannya ia tidak pernah lupa ibadah, belajar. “Setiap waktu salat saya salat, begitu pula belajar,” imbuhnya.

Papuq Marean mengakui Habib sudah tinggal bersamanya sejak berusia delapan bulan. Beban keluarganya semakin berat ketika ayah Habib meninggal, ditambah lagi ia terkena musibah mengidap penyakit kanker pada bagian hidung yang menyebabkan ia menjalani operasi di Rumah Sakit Sanglah. Hal ini kata dia menyebabkan Habib bekerja mencari uang dengan cara menjual buah. “Hasil jualannya itu kami pakai beli beras,” aku nenek berusia 50 tahun ini.

Dari hasil jualan Habib ia terkadang dikasih Rp 10 Ribu, kadangkala Rp 15 ribu. Ia mengaku awalnya tidak tahu Habib berjualan, karena ia dirawat di RS Sanglah lumayan lama. Di saat ia dirawat ternyata Habib diam-diam berjualan mencari uang membantu ibunya. Begitu pulang dari Sanglah, ia sudah melihat uang hasil berjualan Habib. Ia pun sangat terharu melihat sang cucu begitu gigih membantu ibunya.

Hayatudin, dari Yayasan Basma Foundation yang mendampingi Habib mengatakan pendampingan dilakukan terhadap keluarga Habib semenjak neneknya sakit kanker beberapa tahun silam. Pihaknya ikut membantu pengobatan dari neneknya. Pria asal Kediri ini mengaku tahu Habib rela berjualan untuk kebutuhan keluarga. Semenjak tahu itu, pihaknya memberikan bantuan dan memfasilitasi para pihak terkait untuk membantu keluarga Habib. Ia membelikan pakaian untuk lebaran dan kebutuhan sehari-hari. “Kami Bantu keluarganya, kalau ada amanah dari hamba Allah kami berikanlah ke beliau,” ujarnya.

  Kekayaan Kepala Imigrasi Mataram Rp2,917 Miliar

Selaku pegiat kemanusiaan, ia mengharapkan agar pemerintah memperhatikan pendidikannya agar niat mulianya menjadi tahfiz bisa terwujud. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here