H. Ichtiar Tertantang Jadi Balon Wagub NTB

Mataram (Suara NTB) – Prihatin dengan krisis figur di Kabupaten Dompu, mantan Camat ini memberanikan diri tampil dalam perebutan posisi sebagai Bakal Calon (Balon) Wakil Gubernur NTB. Jabatannya saat ini  sebagai  Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu.

Dia adalah H. Ichtiar H. Yusuf, SH, figur yang siap tampil mewakili krisis eksistensi calon dari unsur birokrasi diantara para kandidat lainnya yang dominan  berlatar politisi. Ia merintis karir dari birokrasi paling bawah, menjadi staf, kemudian kepala seksi, camat, kepala bidang, seterusnya hingga beberapa kali menjabat eselon II hingga kini.

Iklan

“Selama ini saya melihat kok tidak ada yang berani tampil, khususnya figur dari Dompu.  padahal potensinya banyak. Maka saya menyatakan, siap all out,” kata Ichtiar, Senin, 11 September 2017 kemarin.

Selama ini terkesan figur dari Dompu diabaikan. Faktor lain, karena memang tidak ada yang mau tampil. Sehingga ia dengan modal pengalaman birokrasi yang panjang, siap tampil bersaing dengan kandidat lainnya.

“Apakah ada yang mau pinang saya nanti, terserahlah. Tapi intinya saya tidak asal siap, saya punya kemampuan untuk membangun daerah. Minimal kita lanjutkan program TGB. Tidak sekedar lanjutkan, kita percepat sedikit,” katanya.

Pola yang dia tawarkan adalah membangun dari desa. Karena tonggak pembangunan sebenarnya dari kawasan pemerintahan terkecil itu. Desa akan menjadi sasaran utama pembangunan fisik hingga Sumber Daya Manusia (SDM). Sebab pada dasarnya sasaran pembangunan adalah desa, dengan segala potensinya.

Soal sumber anggaran, format yang dia akan terapkan adalah sistem keroyokan. Kantong Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD), akan dielaborasi dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten dengan APBD Provinsi dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). “Ini namanya sistem  keroyok,” jelasnya.

Dengan mensinergikan tiga sumber keuangan itu, ia akan memaksimalkan yang belum tergarap. Selama ini konsep pembangunan yang sudah dilaksanakan di desa adalah infrastruktur desa. Itu  sudah bagus. Namun  kedepan perlu menggarap SDM.

“Kita pemberdayaan dengan peningkatan skill. Biar masyarakat desa  cerdas. Kalau cerdas, dia punya kemampuan mencari uang. Bangun komunitas komunitas setiap desa. Setelah itu, beri pelatihan, kemudian modali mereka,” jelasnya.

Saat ini program pengembangan komoditi Jagung jadi unggulan Kabupaten Dompu. Ini akan dikembangkan ke seluruh daerah NTB yang akan menjadi pasar utama Jagung nasional. Meski hanya birokrat eselon II, pengalamannya keliling ke sejumlah negara akan diadopsi memaksimalkan air laut sebagai sumber pengairan.  Apalagi dia dibesarkan dalam keluarga investor, sehingga mengembangkan sebuah komoditi melibatkan pihak ketiga baginya mudah. Saat ini di Dompu musim tanam Jagung hanya sekali setahun. Namun ia berpikir mengintensifikasikan fungsi tanah sehingga bisa menghasilkan panen dua kali dalam setahun. Caranya, dengan sistem penyulingan air laut menjadi air tawar. Sebagaimana dilakukan di Israel, termasuk Pulau Seribu Jakarta yang menjadi sumber komoditi sayur dibudidaya melalui penyulingan.

Ia juga berjanji memberikan rasa aman kepada petani.  Mereka akan dicegah menggunduli hutan. Tapi diberi kesempatan bercocok tanam sembari mengelola hutan dan menerbitkan SPPT.  Hal ini ia pernah lakukan ketika menjadi Camat Woja. Meski jadi hutan tutupan negara, namun  dibuka untuk masyarakat dan dikelola dan diwajibkan membayar pajak. Sehingga negara pun dapat untung dari proses itu.

Disinggung juga soal cara dia mengelola keamanan. Pengalamannya sebagai Camat Woja yang terkenal dengan daerah konflik di Dompu adalah merangkul TNI dan Polri sebagai ujung tombak keamanan daerah. “Kami akan rangkul TNI dan Polri, karena mereka ujung tombak keamanan, rangkul LSM dan media,” janjinya.

Ichtiar juga punya treck record panjang soal urusan mengelola birokrasi. Konsepnya adalah tidak cukup memberi pelayanan saja, tapi pelayanan yang lebih prima. Ia akan mengangkat birokrat muda yang progressif dan tentusaja mengurangi ruang bagi usia uzur di kendali birokrasi. Mereka yang sudah menjelang sepuh, dikaryakan sebagai penasehat. Sebab tujuannya adalah percepatan.  “ Kalau yang tua tua kita minta istirahat. Kita berdayakan anak muda , karena masih progressif.  Karena menang saya ingin percepatan pembangunan daerah,” tegasnya.

Dari rangkaian penjelasannya, ada tiga konsep  besar yang dia tawarkan. Yakni pengentasan kemiskinan melalui desa,  pembinaan Kamtibmas yang kondusif dan tata kelola birokrasi.  Prestasi prestisiusnya, ketika Ichtiar saat menjadi Camat, dipanggil Presiden karena terpilih menjadi camat terbaik se Indonesia.

Ia berhasil mengelola keamanan ditingkat Camat, akan diadopsi meski ruangnya lebih luas yakni tingkat provinsi. Baginya mengelola keamanan daerah hanya soal cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat sipil, menggandeng TNI dan Polri bekerjasama.  “Semua masalah bisa selesai, ini soal bagaimana teknik komunikasi saja. Catatan saya, jangan memerintah, tapi ajak saja caranya,” demikian sedikit strategi diungkapkannya.

Bagaimana mengelola dari pemerintah provinsi yang mampu meretas ego sektoral kabupaten dan kota? Lagi lagil menurutnya soal cara berkomunikasi. Tidak lupa dia memberi catatan bahwa Pemprov adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat yang mengucurkan porsi anggaran paling besar, sehingga tidak ada alasan daerah enggan berkoordinasi memajukan NTB. “Ego itu kita babat habis, itu ada caraya,” ujarnya tersenyum.

Tak lupa, pengalaman birokrasi sebagai Kepala Dikpora. Ia  akan menjamin pendidikan anak. Ada kebiasaan di kampung, termasuk di Dompu, orang tua mengajak anak anaknya yang usia sekolah ke ladang. Sehingga banyak yang putus sekolah. Ia akan hadir sebagai pemerintah, bahkan mengambil alih dengan pola asuh.

“Saya akan jamin mereka harus sekolah. Kami akan terapkan pola asuh. Kita kerjasama dengan guru guru terpencil. Kita hindari jangan sampai putus sekolah. Artinya kita mengurus usia produktif ini,” tandasnya.

Bidang kesehatan, ada keinginan untuk mengurangi “impor” dokter dari luar daerah yang selama ini terjadi. Padahal menurut dia banyak generasi yang cerdas, termasuk mereka dari kalangan kurang mampu. Konsepnya dengan memberikan beasiswa atau pendidikan gratis lima orang setiap tahunnya.

Terpanggil untuk Maju

Apa yang melatari keinginan H. Ichtiar maju ditengah ramainya kemunculan kandidat kuat lainnya? Bagi Ichtiar, saat ini tidak ada yang dominan. Dia percaya diri memiliki kapasitas dan jaringan untuk itu. salah satu alasanya adalah menjawab tantangan dari sejumlah orang yang memintanya bertarung sebagai Wakil Gubernur.

Salah satunya datang dari Direktur Visi Indonesia Wilayah NTB, Muhammad Inaini. Menurut Isnaini, selama ini ekspektasi publik melihat figur cawagub, belum terjawab karena masih dipandang biasa biasa saja. Pandangan itu salah satunya datang dari unsur pemuda. “Sebab semua yang muncul selama ini dari unsur politisi. Ini sudah hampir satu tahun kemunculan yang itu itu saja. Makanya kita butuh alternatif. Kalau selama ini dari politisi, minimal ada dari profesi lain. Saya pikir aji (H. Ichtiar) ini cocok dari unsur birokrasi, sehingga perbaikan bisa melakukan perbaikan birokrasi,” terang Isnaini.

Jika H. Ichtiar dilirik, maka akan jadi komposisi yang klop antara politisi dengan birokrasi yang akan membangun NTB. Sebab figur H. Ichtiar menurutnya hadir sebagai birokrat murni, sehingga  fokusnya mengurus birokrasi.

Ada fenomena kurang menarik dilihatnya. Sebab selama ini konstalasi politik NTB hanya dihiasi oleh figur Lombok, Sumbawa dan Bima. Wakil Ketua Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal KNPI NTB ini melihat, figur alternatif dari Dompu harus  dilirik. Ini juga jadi bagian dari aspirasi yang sempat dibahasnya dengan kalangan pemuda di NTB.  “Figur aji ini menurut saya cocok. Apalagi Dompu saat ini jadi fokus perhatian nasional,” ungkapnya.

Konstalasi politik NTB harus punya warna. Dompu selama ini selalu terlewatkan ambil bagian, sebab dominan hanya dari Bima, Sumbawa dan Pulau Lombok.

Apakah ini akab bisa menjawab soal krisis tokoh atau calon yang tampil dari Dompu? Isnaini mengaimini itu. Karena dia melihat saat ini mereka yang muncul belum teruji kemampuannya. “H Ichtiar mulai merintis karir birokrasinya dari staf, menjadi camat,  kemudian kepala dinas. Karirnya naik terus, ini mengisyaratkan kinerjanya memang sangat baik. Bagi kami,  beliau pantas mewakili unsur birokrasi. Contoh, dia ditempatkan menjadi Camat Woja. Kita tahu ini kecamatan konflik, zona merah. Tapi  beliau berhasil mengelolanya menjadi aman dan kondusif sehingga terpilih jadi camat teladan se NTB,” ungkapnya.  (ars/*)

 ICHTIAR H. YUSUF, SH

Lahir : Dompu 17 Agustus 1966

Pengalaman Pengabdian :

Guru SMP – SMA                                             1988 – 1998

Staf Kantor Camat Woja                                1998 – 2000

Kasubsi Ekonomi Camat Woja    2000

Kasi PMD Camat Woja                                   2000 – 2001

Camat Woja                                                       2001 – 2004

Kabag TU Diskanlut Dompu                         2004 – 2007

Kasubdin Perhubungan Darat

Dishubkominfo Dompu                                 2007 – 2009

Kabid Pengawasan dan Pengembangan

Dishubkominfo Dompu                                 2009 – 2010

Sekertaris Inspektorat Dompu   2010 – 2011

Kadishubkominfo Dompu            2011 – 2012

Kadis Dikpora Dompu                     2012 – Sekarang

Plt. Kadis Budpar Dompu              2017 – Sekarang