Guru Madrasah di Mataram Belum Divaksinasi

H. Muhammad Amin. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Vaksinasi coronavirus disease (Covid-19) bagi guru di Kota Mataram terbilang masih minim. Sampai dengan 24 April 2021 capaian vaksinasi tersebut baru mencapai 51,2 persen atau sekitar 4.312 orang untuk dosis pertama dan 1,6 persen atau 136 orang untuk dosis kedua. Jumlah tersebut belum termasuk guru madrasah yang sampai saat ini belum tercatat menerima vaksinasi Covid-19.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram, H. Muhammad Amin menyebut pihaknya telah mengajukan 2.000 orang lebih guru madrasah yang ada di Kota Mataram. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari 108 Madrasah yang tersebar di Kota Mataram. Antara lain terdiri dari 45 Raudatul Athfal (RA), 24 Madrasah Ibtidaiyah (MI), 24 Madrasan Tsanawiyah (MTS) , dan 15 Madrasah Aliyah (MA).

Iklan

“Kita ajukan tanggal 1 April, karena Dikes (Dinas Kesehatan) juga meminta data itu. Sebenarnya dijadwalkan (vaksinasi) sebelum puasa kemarin, tapi kita tidak tahu bagaimana kondisinya sehingga belum ada vaksinasi (untuk guru madrasah) sampai saat ini,” ujarnya, Minggu, 25 April 2021.

Menurutnya hal tersebut sangat disayangkan, mengingat vaksinasi bagi guru adalah salah satu upaya untuk mendorong dapat dibukanya madrasah pada tahun ajaran baru mendatang. “Jadi kita berharap ribuan guru madrasah itu yang dari RA (Raudatul Athfal) sampai MA (Madrasah Aliah) itu bisa segera dijadwalkan vaksin,” ujar Amin.

Di sisi lain, pihaknya telah menyusun skenario vaksinasi bagi seluruh guru madrasah tersebut. Antara lain dengan pembagian wilayah kerja yang terpusat di beberapa madrasah yang ada. “Kita susun untuk bagian selatan kita fokuskan vaksinasinya di MTS 3 Mataram, wilayah tengah di MAN 2 Mataram, dan wilayah utara di MTS 2 Mataram. Itu juga sudah kita ajukan,” jelasnya.

Untuk itu pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram. Terutama untuk memastikan jadwal vaksinasi bagi guru madrasah, sehingga capaian program tersebut dapat terpetakan untuk kebutuhan rujukan pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru.

“Kita ingin tahu apa yang menjadi hambatannya sehingga belum bisa dilakukan sampai sekarang,” ujar Amin. Kendati demikian, pihaknya menyebut beberapa guru memang telah melakukan vaksinasi secara mandiri di fasilitas kesehatna seperti rumah sakit dan Puskesmas. “Tapi kita belum tahu jumlahnya berapa,” sambungnya.

Dengan kejelasan jadwal dan lokasi terpusat, pihaknya berharap cakupan vaksinasi bagi guru madrasah tersebut bisa lebih merata. Terutama untuk memberikan keyakikan bahwa sekolah aman dari potensi penyebaran Covid-19, termasuk dengan penerapan protokol kesehatan ketat. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional