Guru Cium Murid Masuk Kategori Kekerasan Seksual

Mataram (suarantb.com) – Ada berbagai macam bentuk kekerasan seksual yang bisa terjadi pada anak. Baik yang dilakukan orang dewasa hingga teman sebaya. Namun, terkadang orang tua tidak menyadari anaknya menjadi korban kekerasan seksual, begitu pula si anak. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari ketika guru mencium murid yang berbeda jenis kelamin, itu termasuk juga dalam kategori kekerasan seksual.

“Ada guru yang mencium murid, itu sering kali dianggap bentuk kasih sayang dan biasa. Padahal itu ndak boleh dilakukan orang lain, kecuali orang tua kepada anaknya. Guru mencium murid itu bisa masuk kategori sebagai kekerasan seksual,” jelas Divisi Hukum dan Advokasi LPA NTB, Joko Jumadi, Senin, 20 Februari 2017.

Iklan

Dijelaskan Joko, orang tua kerap menganggap biasa segala tindakan yang menjurus pada kekerasan seksual ini. Ia mencontohkan seperti kejadian di salah satu SD di Mataram. Ada orang tua murid mendapat perlakuan serupa dari seorang guru. Joko mengatakan orang tua murid tersebut hanya berkomentar tentang kelakuan guru bersangkutan.

“Guru beler, itu bahasa mereka yang keluar. Namun ketika hal serupa dialami anak, baru mereka melaporkan hal tersebut. Mereka sudah mengalami perlakuan yang sama, tapi pada waktu itu mereka belum berani melapor. Tapi ketika anaknya korban, dia baru melaporkan. Awalnya beberapa kasus itu dianggap biasa, padahal itu adalah kekerasan seksual,” jelasnya.

Ada beberapa kategori kekerasan seksual yang bisa terjadi pada anak. Dimulai dari perbuatan cabul seperti mencium, meraba dan memegang. Dan selanjutnya persetubuhan. “Meskipun dia mau, tetap orang dewasanya salah. Dalam sistem hukum kita, sodomi itu termasuk dalam persetubuhan. Terakhir ada pemerkosaan,” sebut Joko.

Meningkatnya kasus kekerasan seksual di NTB menurutnya bisa tercatat karena kesadaran masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan seksual meningkat. “Sebelumnya mungkin itu dianggap hal yang biasa. Tapi karena yang terungkap jumlah korbannya banyak-banyak semua. Bisa dikatakan kesadaran masyarakat meningkat terhadap hal-hal seperti itu,” katanya.

Keterbukaan Informasi
Penggunaan sosial media dan keterbukaan informasi menurut Joko memiliki peranan penting dalam peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak. Anak terpapar pornografi lebih cepat. Demikian pula orang dewasa mendapat paparan pornografi dengan sangat mudah.

“Banyak kasus yang kita temui pelaku selalu alasannya adalah menonton film porno jadi pelampiasannya ke situ. Anak-anak yang menjadi korban juga dipertontonkan atau pernah nonton film porno. Ini yang saya kira cukup dominan,” lontarnya.

Tontonan berkonten porno ditambah dengan ketahanan keluarga yang rapuh menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan seksual.

Ketahanan keluarga rapuh salah satunya disebabkan perceraian dan tingginya jumlah masyarakat yang menjadi buruh migran.

Langkah paling ampuh yang bisa ditempuh pemerintah daerah untuk menekan angka kekerasan ini adalah melakukan upaya yang lebih sistematik. Menutup situs-situs porno bukan langkah yang tepat. Sebab blokir sudah banyak dilakukan, namun cara untuk membobolnya juga banyak.

“Kita tidak pernah terpikir untuk membuka itu, tapi sering kali sudah terpampang melalui Facebook atau melalui apa. Agak sulit kita melakukan pemblokiran, yang perlu kita lakukan adalah memulai di tingkat sekolah mengajarkan soal internet sehat,” jelasnya.

“Kedua, orang tua juga tidak boleh tidak acuh pada anak-anaknya. Fasilitas handphone, smartphone diberikan tapi sering kali tidak disertai dengan pengawasan. Ini yang perlu kita sosialisasikan, boleh memberikan fasilitas tapi harus sesuai dengan usianya,” lanjutnya.

Pendidikan soal seks dan internet sehat bisa menjadi langkah awal yang ditempuh pemerintah. Dengan cara masuk ke dalam semua sistem pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Begitu pula dengan pernikahan dini, permasalahan ini juga harus diselipkan dalam kurikulum pendidikan sekolah.

“Selama ini kita masih hanya sosialisasi, yang diundang ketua OSIS. Ketua OSIS ndak ada masalahlah, orang-orang yang ikut organisasi saya pikir ndak ada masalah. Orang yang bermasalah malah mereka yang tidak aktif itu,” tambahnya.

Sebagai upaya pencegahan, LPA NTB tengah menggagas pendidikan anti kekerasan seksual sejak dini untuk anak-anak. Para guru PAUD dan TK diberikan pengajaran cara mendidik murid sehingga bisa mengenali bentuk kekerasan seksual.

“Supaya mereka bisa mengenali kalau kemudian terjadi kekerasan itu. Apa yang harus dilakukan kalau dia mendapatkan perlakuan itu, teriak, minta tolong atau lari. Itu yang akan coba kita ajarkan pada anak-anak,” ucapnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here