Gubernur NTB, Covid-19 dan Gentong

Agus Talino

Catatan: Agus Talino

GENTONG jadi pembicaraan. Penyebabnya, benda itu tiba-tiba banyak menghiasi kantor pemerintah di NTB. Dia menjadi wadah penampung air untuk cuci tangan. Covid-19 memaksa kita untuk sering cuci tangan. Salah satu bentuk ikhtiar agar tidak terjangkit Covid-19.

Iklan

Memilih gentong sebagai wadah untuk cuci tangan itu menarik. Apalagi jika di semua tempat. Termasuk rumah-rumah penduduk dihiasi gentong di halamannya. Wajah NTB akan ada ciri khasnya. Gentong bisa menjadi salah satu identitas NTB.

Menjadikan NTB sebagai ‘’rumah gentong’’ tidak sulit. Gentong banyak diproduksi di NTB. Untuk mendapatkannya sangat mudah. Caranya, kita bisa datang membeli ke salah satu tempat produksinya. Di Banyumulek, Lombok Barat, penjual gentong banyak. Kadang-kadang ada juga pedagang keliling yang menjualnya.

Saat ini, gentong belum menjadi wajah NTB. Yang menggunakannya terbatas. Masih sebatas kantor-kantor pemerintah di provinsi. Kalau pun ada yang menggunakannya selain kantor pemerintah, angkanya masih sedikit. Artinya, jika kita ingin menjadikan gentong sebagai salah satu identitas NTB. Masih banyak ikhtiar yang harus dilakukan.

Ikhtiarnya bisa tidak sederhana. Karena berkaitan dengan cara berpikir. Tidak menutup kemungkinan ada yang tidak setuju. Bisa saja ada yang menganggap tidak penting. Protes dan mendebatkannya. Cara berpikir dan selera orang bisa tidak sama.

Beda pendapat dan mendebat gagasan itu biasa. Bahkan perlu. Paling tidak, untuk menguji baik-buruk, untung-rugi dan manfaatnya. Kita tidak boleh baper dan patah semangat untuk  memperjuangkan gagasan yang kita miliki. Apalagi jika kita benar-benar meyakini kebenaran dan manfaat gagasan kita.

Contoh sederhana. Bakar sampah masih terjadi di sekitar kita. Di tempat-tempat tertentu di Mataram, misalnya. Tukang angkut sampah ada. Tetapi masih ada saja yang bakar sampah. Akibatnya, serpihan sampah yang terbakar terbang dibawa angin. Asap masuk ke rumah-rumah. Lingkungan menjadi tidak sehat.

  Kasus Bibit Bawang, Penyidik Cocokkan Keterangan Saksi dengan Dokumen

Mungkin dia tahu juga, bakar sampah itu tidak baik. Mengganggu banyak orang. Bisa mengganggu kesehatan keluarga dan dirinya juga. Karena lokasi bakar sampah dekat dengan rumahnya. Susah menemukan logikanya dia tetap membakar sampah. Jika dikatakan dia tidak suka melihat sampah. Karena sampah kotor dan tidak sehat. Tetapi cara membersihkan sampah justru tidak sehat dan mengundang penyakit.

Tantangannya di situ. Dan ini salah satu tugas berat yang harus diselesaikan. Membangun cara berpikir. Jika memang gentong ingin “diakrabkan” dengan masyarakat. Pendekatannya harus dipikirkan dengan matang. Tidak bisa sebatas  imbauan. Jika sekadar imbauan,  pengaruhnya tidak “nendang”. Akibatnya, gagasan-gagasan baik itu sulit direalisasikan.

                                                                       ***

Gagasan menulis tentang gentong ini muncul setelah saya membaca tulisan Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimasyah (Doktor Zul) di Facebook. Gubernur melengkapi tulisannya dengan gambar dirinya berdiri di samping gentong. Menggunakan baju kaos, celana pendek dan sandal sambil sebelah tangannya memegang gentong.

Pada akun pribadinya itu, gubernur mengingatkan agar kita tidak lupa cuci tangan setelah beraktivitas dan olah raga. Peralatan cuci tangannya tulisnya, usahakan gerabah atau gentong dari tanah liat yang dibuat di daerah kita. Menurutnya, airnya jadi terasa sejuk dan menyegarkan. Dan tentu saja akan menghadirkan senyuman untuk UKM-UKM kita. Dia menutup tulisannya dengan ajakan, ayo pakai barang dan alat-alat buatan daerah kita sendiri dalam menghadapi wabah corona ini. Insya Allah kita bisa.

Gagasan memanfaatkan gentong itu menarik. Saya suka gagasan ini. Saya bayangkan di seluruh tempat ada gentongnya. Tempat umum dan rumah-rumah penduduk ada gentong yang terpasang. Selain wajah daerah menjadi ada ciri khasnya. Gentong cocok juga untuk kita. Sebagai daerah yang penduduknya mayoritas Islam, gentong bisa digunakan sebagai wadah penampung air untuk wudhu. Begitu juga sebagai daerah yang penduduknya mayoritas petani. Gentong bisa juga digunakan sebagai wadah penampung air untuk sekadar cuci kaki dan tangan sepulang dari sawah. Sehingga ketika masuk ke rumah, kaki dan tangan sudah bersih. Sering-sering cuci tangan tidak sebatas karena ada Covid-19 saja. Tetapi hidup bersih bisa menjadi gaya hidup semua orang.

  Setelah kompensasi, Pemkot Harus Tegas Terhadap Penjual Miras

Untuk menulis tentang gentong ini. Saya tidak segera melakukan setelah membaca tulisan gubernur di Facebook. Saya sediakan dulu gentong di kantor dan rumah sebagai wadah penampun air. Tidak enak juga rasanya, saya dorong orang lain menggunakan gentong. Tetapi saya tidak menggunakannya.

Mungkin penting dipertimbangkan agar menggunakan gentong sebagai wadah penampung air,  kita mulai dari diri kita dulu. Misalnya, gentong tidak sebatas ada di kantor-kantor pemerintah. Tetapi juga di rumah-rumah pejabat dan ASN.  Harapannya, agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Apalagi gentong ini manfaatnya banyak. UKM-UKM yang memproduksi gentong bisa berkembang. Dan yang sangat penting, kita membiasakan diri menggunakan peralatan buatan daerah sendiri.

Saya tidak tahu juga. Apakah menjadikan gentong sebagai salah satu identitas daerah itu menarik bagi orang lain? Karena selera dan cita rasa semua orang tidak selalu sama. Jika menarik. Seharusnya tim dan lingkaran gubernur bergerak cepat menyambut gagasan dari gubernur. Merencanakan dengan matang dan merealisasikannya. Gubernur tidak bisa melakukannya sendiri. Tidak baik juga, jika gagasan itu berhenti dan selesai  sebatas sebagai gagasan. Seperti embun yang lenyap setelah matahari bersinar.    ** *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here