GOR di Kota Bima Mangkrak 10 Tahun

Kota Bima (Suara NTB) – Bangunan Gelanggang Olahraga (GOR) Kota Bima, hingga kini kondisinya memprihatinkan. GOR yang terletak di lapangan Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Raba, yang dibangun pada tahun 2006 itu mangkrak dan tidak dimanfaatkan dengan baik.

Pada tahun 2017 mendatang, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima bakal menyulap bangunan yang mangkrak tersebut menjadi taman budaya, sebagai pusat kegiatan budaya dan kepemudaan.

Iklan

“Nanti akan dialihkan menjadi taman budaya, kita sudah anggarkan Rp 5 miliar melalui APBD II tahun 2017 mendatang,” ucap Kadis Dikpora Kota Bima, Drs H. Alwi Yasin, M.AP, kepada Suara NTB, Selasa, 8 November 2016.

Menurut dia, selama 10 tahun bangunan yang dibangun dengan anggaran bantuan dari Kemendikbud  itu tidak dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga, sebagaimana tujuan awal pembangunannya.

“Sudah 10 bangunan ini terbengkalai, jauh sebelum saya menjadi kepala Dinas,” katanya.

Dia menjelaskan, beberapa pertengahan tahun kemarin, pihaknya melakukan pengukuran serta memeriksa kelayakan bangunan itu. Hasilnya ternyata tidak sesuai, karena ukuran lapangan di dalamnya kecil dan sempit sehingga tidak bisa dijadikan GOR.

“Karena pertimbangan itu, akhirnya kita putuskan GOR ini akan disulap menjadi taman budaya, sama seperti di Kota-kota besar di Indonesia,” jelasnya.

Dalam memaksimalkan pembangunan, pengerjaan taman budaya itu langsung dilakukan Dikpora, yang mulai dikerjakan tahun 2017 mendatang, sehingga bangunan itu bisa digunakan.

Secara umum Alwi menggambarkan, dibagian sayap bangunan akan digunakan sebagai kantor atau sekretariat sanggar-sanggar budaya dan seni. Sedangkan di bagian dalam atau tengah, akan digunakan sebagai tempat pementasan.

“Melalui budaya kita bisa kembangkan pendidikan karakter. Ini sesuai dengan misi pendidikan pembentukan karakter pada anak,” ujarnya.

  Tak Terurus, RTH Pagutan Semrawut

Dia menambahkan taman budaya itu tidak hanya untuk seni dan budaya kedaerahan, tapi juga yang bersifat kontemporer dan modern. Anak muda yang suka nge-band atau sekadar bermain gitar, juga ada yang melukis dan sejenisnya.

“Selain dijadikan pusat pentas drama , seni dan budaya. Yang jelas taman budaya ini terbuka untuk umum,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here