Global Climate Strike 24 September 2021

Wisatawan mancanegara ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang digelar Lombok Plastic Free, beberapa waktu lalu. (sumber foto: Lombok Plastic Free)

Oleh Anton Cine, aktif di Lombok Plastic Free

 

Iklan

Krisis perubahan iklim yang sangat ekstrim belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak. Bagaimana tidak, berbagai fenomena kebencanaan alam yang semakin intensif dengan skala yang lebih besar semakin mengalami peningkatan di seluruh dunia. Para pakar analis mempercayai bahwa ini merupakan mata rantai kebencanaan yang dipicu oleh terjadinya pemanasan global. Dari kebakaran hutan dan semak-semak di Australia, Amerika Utara, dan Amerika Latin yang makin meluas, sampai kekeringan panjang di Afrika, sampai pada banjir dan badai yang melanda kawasan Amerika Tengah dan Asia Tenggara begitupun juga di Eropa. Aktivis lingkungan secara global pun menuntut tindakan yang lebih nyata bagi para pemimpin dunia untuk lebih serius dalam upaya menghentikan laju pemanasan global.

Joao Duccini, seorang aktivis lingkungan dari Brasil mengatakan “ secara ilmiah sudah jelas, perubahan iklim memperburuk bencana alam dengan membuatnya lebih kuat, lebih intensif, lebih sering, dan juga lebih destruktif. Lebih lanjut lagi, Maya Ozbayoglu dari Polandia mengungkapkan bahwa sudah 5 tahun sejak ‘Paris Agreement’ ditandatangani, dan 3 tahun sejak laporan akan hal ini disampaikan dalam ‘Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)’ diterbitkan, banyak negara negara di seluruh dunia tampak berkomitmen dalam upaya melakukan ‘zero-net emission’. Tapi belum efektif sepenuhnya karna hanya dilakukan setengah setengah saja. Greta Thurnberg dari Swedia mengibaratkan kalau rumah kita sedang kebakaran, jangan sampai menunggu 10-20 tahun untuk memadamkan api, kita harus bertindak sekarang juga.

Sudah 2 tahun berjalan, gelombang protes massal yang mengambil tempat di jalanan dan tempat tempat strategis lainnya diseluruh dunia saat ini akan melakukan upaya menyuarakan persoalan ini dengan metode yang berbeda beda ditengah situasi pandemic Covid-19. Lebih beragam dan menyebar dalam bentuk kegiatan yang berbeda tapi dengan isu dan tujuan yang sama, menuntut tindakan segera dan nyata bagi para pemimpin dunia. #NoMoreEmptyPromises

Krisis perubahan iklim bukan kejadian yang berdiri sendiri, tapi juga mempengaruhi berbagai macam kejadian lainnya dalam persoalan social ekonomi, rasisme, sexism, ableism, ketidaksetaraan kelas dan sebagainya. Orang orang yang tinggal  di area terdampak (MAPA = Most Affected Peoples and Areas) merasakan dampak yang paling parah tanpa bisa beradpatasi dengan baik. Karna para elit negara negara kaya di bagian utara telah mengekploitasi daerah MAPA ini melalui kolonialisme, imperialism, ketidakadilan system global.Inilah yang selama ini menjadi pemicu pemanasan global. Merekalah yang sesungguhnya paling bertanggung jawabkarna dikarenakan ekpansi ekspansi industrial mereka yang tidak pernah memperhatikan kelestarian alam.

 

Deskripsi

Saat ini kita berada ditengah krisis perubahan iklim, berakibat pada kepunahan massal bagi spesies tertentu, kesenjangan ekstrim social ekonomi dan banyak lagi. Sistem global kemudian hanya menonjolkan suara dari kaum privilege dengan nada rasis dan narasi kulit putih sebagai juru selamat yang menggambarkan dunia selatan sebagai keterbelakangan, miskin dan tidak bisa bersuara. Negara industrialis dunia Utara sudah melakukan ini semenjak kolonialisme dan imperialisme. Perpetuasi (pengabadian) ketidakadilan system ini demi menjaga kepentingan lama abadi mereka. Bagaimanapun, kita tidak terbelakang, tidak miskin, dan kita punyasuara, kita tengah berjuang dari kondisi yang diakibatkan oleh proses marjinalisasi. Kita kuat, karna revolusi dan pertempuran kemerdekaan sudah pernah menempa kita melawan kolonialisme. Sistem penindasan serakah yang diciptakan oleh kaum elit negara dunia utara.

Disaat yang sama saat ini, negara negara yang paling mengalami dampak dari krisis perubahan iklim adalah yang juga paling terdampak akibat pandemic Covid-19. Sementara negara negara maju mempunyai kemudahan dan akses lebih terhadap sumber daya dan teknologi untuk mengatasi pandemic, negara negara notabene MAPA ini secara sistematis kekurangan sumber daya untuk mengatasi krisis pandemic. Anggota anggota komunitas warga negara negara ini sangat kesulitan untuk mengakses kebutuhan selama pandemic. Terlebih kesenjangan dalam distribusi vaksin yang diproduksi oleh negara negara maju terlihat sekali. Hanya tertimbun diantara negara negara maju tanpa distribusi yang merata untuk negara negara bagian dunia selatan. Vaksin vaksin tersebut harus juga didistribusikan tanpa syarat untuk negara negara berkembang.

Lebih lanjut lagi, krisis perubahan iklim juga mengan keselamatan manusia secara langsung. Tahun lalu,pada 2020, bencana iklim telah menyebabkan perpindahan tempat tinggal sebanyak 30 juta kasus. Bagaimanapun, dalam hokum internasional, pengungsi kebencanaan belum dikategorikan sebagai “pengungsi suaka”. Dalam Konvensi Pengungsi (Refugee Convention) pada tahun 1951, pengungsi kebencanaan tidak termasuk dalam daftar yang bisa mencari suaka ke negara lain walaupun di negaranya sedang menghadapi cuaca dan iklim yang ekstrim. Ini menunjukkan ketidaksiapan para pemimpin dunia dalam mengantisipasi persoalan darurat kebencanaan alam. Sementara para pengungsi tersebut sudah mengambil resiko nyawa meninggalkan negaranya. Negara yang paling terdampak dari krisis perubahan iklim, dan juga eksploitasi panjang negara negara maju dunia utara.

Penduduk pribumi yang selama ini menggantungkan hidup pada alam selama berabad-abad sedang terancam oleh perubahan iklim dan industry bahan bakar fossil, mencuri tanah dan menghilangkan akar budaya mereka melalui deforestasi dan pengrusakan alam. Kepunahan vegetasi dan hewan lokal tentunya akan menghancurkan ekosistem. Sekitar 40% species tumbuhan beresiko terancam punah karna anthropogenic emisi CO2 sebagai hasil dari eksploitasi dan pemakaian bahan bakar fossil. Deforestasi juga menyebabkan peningkatan emisi CO2 sebesar 10%. Seharusnya, harus ada hukum internasional yang dapat menghukum perusahan perusahaan global yang terbukti melakukan pengrusakan ekosistem alam. Hukum yang berpihak dan melindungi masyarakat pribumi dan adat yang mempertahankan hak budaya dan hakatas tanah mereka.

Krisis Iklim Global danTourism Industry di Lombok

Dalam memahami keterkaitan antara krisis perubahan iklim secara global saat ini dengan kepentingan pembangunan industry pariwisata di Lombok tentunya akan dihadapkan pada beberapa pertanyaan mendasar. Apakah mempunyai dampak langsung? Tentu saja iya.

Bagimana tidak, krisis perubahan iklim tentu saja berpengaruh pada banyak hal di Lombok. Para petani kita yang kurang mampu beradaptasi dengan gejala cuaca ekstrem akhir akhir ini banyak mengalami kegagalan panen.

Sektor pertanian tentu saja diharapkan menjadi salah satu penunjang penting dalam industry pariwisata. Tapi tetap saja selama ini kebutuhan pasokanproduk pertanian untuk sector pariwisata belum dirasa maksimal dari segi kualitas dan kuantitas. Sebagian besar produk produk pertanian tersebut sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Para petani juga dipaksa melakukan metode-metode pertanian yang tidak ramah lingkungan seperti racun, pestisida dan lain lain untuk memangkas jarak panen. Hal ini tidak saja merusak unsur hara tanah, tapi juga berimbas ke ekosistem laut ketika terbawa air hujan.

Perubahan cuaca ekstrim juga sering menjadi momok bagi para pelaku wisata karna berpengaruh pada angka kunjungan wisatawan. Untuk kegiatan kegiatan wisata alam seperti surfing, paragliding, hiking, diving dan lain lain sangat bergantung pada situasi dan kondisi alam. Intensitas gejala cuaca dan iklim yang ekstrim tentu merupakan factor buruk bagi pariwisata khususnya.

Objek wisata alam yang menjadi daya tarik utama bagi industry wisata haruslah dilihat sebagai asset utama, tidak hanya dalam kapitalisasi tapi juga memiliki makna nilai kearifan lokal budaya. Bagaimana gunung Rinjani sebagai sentral kosmologis masyarakat adat Lombok yang diwujudkan dalam system adat budaya, mulai terkikis. Disatu sisi Rinjani adalah penopang keseluruhan ekosistem seluruh pulau, ketika ini mulai terusik oleh perusakan alam. Maka unsur unsur ekosistem kehidupan di pulau ini akan terganggu.

Marilah bersama sama secara arif mengeksplorasi tanpa mengeksploitasi berlebihan, karna semua bergantung pada keseimbangan dan kelestarian alam. Industri pariwisata mempunyai kepentingan besar untuk bersuara terhadap krisis perubahan iklim. Ini menjadi bagian menyeluruh dari upaya mewujudkan eco tourism dengan prinsip yang lebih sustainable. Demi bumi, demi kita semua, demi generasi masa depan diatas keuntungan laba sesaat.

Sebagai bagian dari gerakan kesadaran global, kami dari komunitas Lombok Plastic Free bersama beberapa lembaga pendidikan, Batu Bambu Kids Foundation dan Rinjani Indah School akan mengadakan kegiatan edukasi bagi anak anak dalam bentuk fun march di depan pantai Kuta Mandalika pada 24 September 2021, pukul 15:00 WITA sampai selesai. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kepedulian akan alam dan lingkungan untuk anak anak.

Kuta, Kamis 16 September 2021

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional